Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017

Hello, survivors.

 

Selamat datang di postingan paling subjektif di blog saya setiap tahunnya. Biasanya, saya akan menulis tentang buku-buku apa saja yang berhasil saya lahap dan target banyaknya buku yang akan saya baca di tahun 2018. TAPIIIII, karena resolusi baca bukunya hampir GAGAL TOTAL, jadi saya akan bahas musik, film, series, dan pengalaman-pengalaman yang berkesan di tahun 2017 kemarin. So, brace yourself.

 

Buku-buku yang Saya Baca di Tahun 2017

Dari target tujuh belas buku, tahun 2017 kemarin saya hanya membaca… empat. Payah banget memang LOL. Uniknya, keempat buku ini bukan buku yang saya beli. Apa aja sih bukunya?  Continue reading “Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017”

Hating Your Own Reflection

SONY DSC

 

If you want to look good, the first thing you must do is to feel good about yourself,” ujar seorang teman saat saya SMA. Dulu, saya belum terlalu mengerti, bahkan cenderung tidak setuju dengan pernyataan tersebut. “Ah elah asal punya duit buat beli baju kece sama nyalon mah orang kagak bakalan tahu elo feel good apa kagak di dalemnya,” gerutu saya dalam hati.

 

Buat saya, to feel good inside itu susah-susah gampang. I mean, just admit it. There is always an unexplainable and eternal sadness in your heart—no matter how happy you are right now. Mungkin ini penyebabnya mengapa banyak orang yang saya kenal (termasuk saya sendiri) lebih memilih untuk look good dulu agar mereka (dan saya) bisa feel good. Good outfits can make your mood good, eh? Tetapi, ya tetap saja kamu bisa melihat kesedihan itu ketika kamu bercermin di kamar atau di toilet. Dan, itulah hal yang membuat saya terkadang membenci diri saya sendiri: saya tidak bisa menyembunyikan kesedihan saya dengan baik. Dan kesedihan itu mungkin berakar dari saya sendiri yang menganggap kalau saya menyebalkan, kurang atraktif, gak gaul karena belum punya smartphone (you know, peer pressure), etc.

 

[   ]

 

Apa jadinya jika kamu bisa melihat refleksi diri kamu sendiri (yang sedang tidak kamu sukai) terpantul dalam diri seseorang?

 

Hal ini saya alami ketika saya dan teman-teman saya sedang asik mengobrol tentang Glee Season 3 beberapa tahun silam di salah satu kelas terpojok di lantai 4 fakultas tempat kami belajar.

“Kalo ada Glee versi Indonesia, gue sih jelas bakal casting jadi Mercedez,” ujar Lalita—teman kesayangan kami yang perawakannya memang hampir sama besarnya dengan salah satu tokoh dari Glee yang diperankan oleh Amber Riley itu.

“Gue sih Quinn ya,” sahut Ninda—teman kesayangan kami yang selalu galak kalau sedang lapar.

“Yang cocok jadi Quinn mah aku kali!” sergah Amel—teman kesayangan kami yang selalu ber-wedges ria jika berkuliah—sambil mengibaskan rambutnya.

“Aku jadi Santana ya,” ujar saya. Padahal, Santana itu tokoh cewek bitchy yang diperankan oleh Naya Rivera.

“Terus yang jadi Rachel siapa? Dia kan tokoh utamanya,” ujar Ninda. Kita semua saling lirik. Iya juga ya, kemarin-kemarin ketika kami berkhayal jadi cast-nya Amigos, banyak yang berebut ingin jadi Anna karena dia adalah pemeran utama wanita di telenovela anak yang sempat populer di awal tahun 2000-an itu.

Amel memecah keheningan, “Rachel tuh… cantik sih. Suaranya kalo nyanyi paling bagus. Tapi, she’s annoying.”

rachel_stripeddress

Saya mengangguk-angguk setuju. Baru kali ini saya nonton serial populer dari Amerika Serikat yang tokoh utamanya super annoying, namun dibuat menjadi yang paling berbakat di antara teman-temannya. Saya, secara personal, juga kurang suka dengan Rachel setiap nonton Glee. Selain sikapnya yang menyebalkan BAHKAN cenderung memuakkan, ada rasa benci yang tidak saya bisa ungkapkan. Bukan karena tidak ada diksi yang mewakili apa yang saya rasakan, tapi karena memang saya juga belum tahu alasan pastinya mengapa.

Sampai akhirnya saya menonton salah satu epiode yang menyajikan betapa gigihnya Rachel, yang diperankan oleh Lea Michele ini, ingin masuk NYADA—salah satu kampus seni favorit dan credible di New York. Dari situ saya baru sadar mengapa saya membenci Rachel… because both of us are alike. Saya dan Rachel itu sama-sama menyebalkan, memuakkan, dan sangat terobsesi dengan mimpi-mimpi yang ingin kita capai. Bedanya? Rachel itu talented abis. Saya? Talent-nya abis atau bahkan tidak punya (tunggu, setidaknya saya punya satu bakat yang bisa saya banggakan: bisa tidur di mana saja dan kapan saja dalam keadaan apa saja).

rb its all

Dalam episode itu, Rachel membawakan lagu It’s All Coming Back to Me Now-nya Celine Dion dengan sangat memukau agar dia bisa melanjutkan studinya di NYADA. Di waktu yang bersamaan, saya yang pada saat itu baru merintis karir sebagai broadcaster juga sedang berusaha sekuat tenaga mengimbangi porsi kerja kantoran saya dan porsi akademik saya untuk mengerjakan skripsi yang dua-duanya sama-sama melelahkan. Saya tetiba langsung merasa terkoneksi dengan perbuatan-perbuatan dan keputusan-keputusan yang Rachel buat dari season pertama sampai season empat.

Besok paginya, saya membubuhkan emoticon bintang berwarna kuning di display name BBM saya. Hal ini saya tiru dari Rachel Berry yang selalu menempelkan stiker bintang kecil berwarna kuning setiap ia menulis namanya sendiri dengan harapan, di masa depan nanti, namanya akan bersinar terang seperti bintang. Saya tidak berharap akan menjadi tenar seperti Rachel; emoticon bintang itu saya bubuhkan semata-mata sebagai pengingat bahwa semangat Rachel Berry, tokoh rekaan di Glee yang dulu saya benci, harus bisa saya tiru untuk menyelesaikan skripsi saya dulu. I mean, we are mostly alike. If she can do it, then I can do it too.

glee(162)

Screenshot_2014-11-09-21-47-27~01

Coba kamu ingat-ingat lagi orang-orang yang gak kamu sukai atau bahkan kamu benci: apakah mereka punya kesamaan dengan diri kamu? Jika ternyata kesamaannya banyak, well, mungkin kamu membenci mereka karena mereka memantulkan refleksi-refleksi diri kamu yang selama ini kamu sengaja acuhkan karena kamu tidak suka dengan diri kamu sendiri.

It’s not them; it’s you. You hate yourself. That’s all.

Dan ketika kamu sudah gak membenci refleksi diri kamu sendiri di cermin dan pada orang-orang yang kamu temui atau lihat, get ready to look good effortlessly. Gak perlu banyak duit buat beli baju kece atau nyalon buat feel good about yourself.

Gengsi Tapi Tanggung

1402214_10152410192002901_1487363605727324941_o

Dulu, setiap saya mendengar kata ‘gosip’, yang secara otomatis muncul di benak saya adalah “KISS—Kisah Seputar Selebritis, Cek & Ricek, !nsert, Silet, Otista—Obrolan Artis Dalam Berita” dan sederetan acara infotainment lainnya yang sampai sekarang masih tayang di tv nasional. Namun, semuanya berubah ketika saya menonton pilot episode Gossip Girl di Trans7, Senin malam pukul setengah sembilan pada tahun 2007. Nama-nama acara infotainment itu hilang dan digantikan dengan “Blair, Serena, Dan, Nate, Chuck, Jenny, Vanessa,” dan nama-nama karakter rekaan lainnya yang ada di series tentang kehidupan para youngster di Upper East Side tersebut.

Saya cukup terobsesi dengan Blair Waldorf—salah satu tokoh utama wanita di Gossip Girl. Saya bahkan mengumpulkan kutipan-kutipan apa yang dia katakan dari season awal sampai season terakhir dan mengganti nama di Friendster saya menjadi “RANNA WALDORF”. I know, right? It’s as crazy as it sounds. Itu karena saya suka dengan cara ia berpikir dan menentukan keputusan. She is my personal postfeminist heroine.

c66dbfc6e53f9b8eb03860d4f1ccd070

Namanya juga terobsesi, tentu saya belajar banyak hal dari Blair Waldorf (selain blackmailing pastinya, hahaha). Salah satunya adalah… meminta maaf.

Lha kok?

Iya, minta maaf. Minta maaf yang benar-benar minta maaf.

Selama enam season Gossip Girl berjalan dan akhirnya tamat, entah berapa kali Blair Waldorf ini berantem dengan Serena Van Der Woodsen. Mereka tuh teman dekat, tapi sering kali berbeda pendapat atau merasa sedang dikhianati. Anehnya, ujung-ujungnya mereka selalu saling memaafkan dan bersahabat lagi. Kejadian ini terus berulang sampai kadang-kadang saya capek melihat pertengkaran mereka di setiap season-nya. Saya kurang nyaman saja jika melihat dua sahabat karib yang bisa berantem hebat sampai benci satu sama lain. I mean, they are best friends, right? Pasti mereka sudah tahu busuk-busuknya satu sama lain dan seharusnya sih itu yang membuat mereka bisa saling toleransi dengan kesalahan masing-masing. Well, tapi Blair dan Serena ini selalu menjadi lebih akrab sih setelah pertengkaran mereka clear.

tumblr_mze9erbh5z1rjqlevo1_500

Kemudian, apa bedanya minta maaf ala Blair Waldorf dengan yang lainnya?

Saya sudah sering menonton film dan series dari luar negeri, dan ketika menonton Gossip Girl, saya baru sadar kalau para bule di luar sana itu punya cara yang lebih baik untuk meminta maaf (menurut saya). Blair Waldorf ini punya mulut yang tak kalah tajam dengan pisau Guillotine, jadi tidak heran jika ia sering menyakiti hati seseorang dan akhirnya membuat effort lebih untuk minta maaf. Berdasarkan dari yang saya tonton, Blair selalu menemui seseorang yang ia ingin mintai maafnya langsung secara face to face. Mungkin itu cara dia untuk menunjukkan kepada lawan bicara bahwa ia rela menurunkan ego dan gengsinya hanya untuk mendapatkan maaf. I mean, she is a Queen Bee in her school! Everyone is afraid of her because she is always right and mean. Namun, ia cukup sering menginjak pride-nya sesaat untuk bisa menyelamatkan persahabatannya dengan Serena—entah itu Blair yang melakukan kesalahan atau sebaliknya. However, the thing is, she does some efforts.

Saya dulu anaknya gengsian sekali. Walaupun jelas-jelas berbuat salah kepada seseorang, saya enggan untuk minta maaf duluan karena dulu saya beranggapan kalau seseorag yang meminta maaf duluan itu lemah. Lemah karena tidak bisa membela dirinya sendiri. Dan, seseorang yang tidak bisa membela dirinya sendiri itu akan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya. Meminta maaf duluan itu memalukan sekali.

Sampai akhirnya pada suatu hari saya terkena getahnya karena saya terlalu menjaga pride saya ketika saya baru saja menjadi mahasiswa baru di kampus saya sekitar tahun 2008. Saya mengatakan hal-hal tolol kepada teman yang baru saja saya kenal dan dia tidak bisa menganggap hal tersebut sebagai kelakar yang biasa dilempar oleh seorang teman. Ia marah besar, sampai me-unfriend saya di Friendster. Belum pernah saya membuat seorang teman sampai semarah itu. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan pertemanan kita ya cuma satu: saya harus meminta maaf.

Pada suatu sore, saya mengajak teman saya ke salah satu pojokan fakultas yang cukup sepi untuk meminta maaf dengan tulus. Saya utarakan betapa tidak nyamannya suasana kelas ketika ada satu teman yang betul-betul marah kepada saya. Saya menyesali kata-kata yang sudah saya ucapkan kepada dia dan berjanji bahwa kata-kata bodoh itu tidak akan keluar lagi untuknya. Kami berjabat tangan dan pertemanan kami selamat walaupun agak sedikit awkward untuk membiasakan diri lagi dengannya.

Sejak saat itu, saya selalu berusaha menemui teman saya langsung apabila ia sedang punya masalah dengan saya yang menyebabkan ia kesal, marah, atau mungkin dendam kepada saya. Kamu boleh memberikan gelar kepada saya sebagai ‘cowok gak peka’, tapi saya cukup sering tidak mengetahui apa salah saya. Makanya, saya sering bingung ketika harus meminta maaf karena, ya… salah saya apa? Saya tanyakan itu kepada seseorang yang marah kepada saya, dan jawabannya selalu template, mulai dari “Kamu gak salah apa-apa kok” sampai “Udah lah gue males bahasnya”. Atau, ketika saya mengetahui apa salah saya dan hendak meminta maaf, mereka terkadang bilang, “Gak ada yang perlu dijelasin lagi” atau beberapa kalimat yang satu makna dengan kalimat ‘sakti’ yang biasa muncul di sinetron-sinetron Indonesia itu.

Kesal? Tentu saja. Tapi, setidaknya ketika saya meminta maaf kepada seseorang, saya benar-benar menjamin kalau saya tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Kalaupun ternyata saya gagal memenuhi janji saya, saya siap menerima konsekuensi dari kesalahan yang saya perbuat. Mungkin hal ini yang sering dilupakan oleh orang-orang kebanyakan saat meminta maaf: mereka hanya menunjukkan bahwa mereka menyesal dengan apa yang mereka perbuat. Mereka tidak membuat ‘perjanjian’ dengan orang yang mereka mintai maaf sebagai bentuk rill betapa besarnya penyesalan mereka atas kesalahan yang ia perbuat.

Cara ampuh ini sering dilakukan oleh Blair dan Serena, begitupun saya. Alas, saya tak seberuntung mereka berdua. Tapi, setidaknya saya melakukan efforts untuk meminta maaf. Dan, semoga efforts saya bisa dilihat oleh seseorang yang sedang saya mintai maaf.

Andai saja semua orang tahu tentang Blair Waldorf di Gossip Girl dan melihat betapa hidupnya jauh lebih simple karena ia tahu bagaimana caranya meminta maaf dengan cara mengacuhkan pride-nya untuk sementara…