Mengapa Saya Unshare Dia dari Path dan Alasan-alasan Lainnya Untuk Move On

1141356path-kompastekno780x390

Saya pernah mendengus kesal setelah mendengar kabar bahwa salah satu teman baik saya harus repot-repot meng-unfriend dan meng-unfollow akun mantannya setelah mereka bertengkar dan memutuskan untuk nggak melanjutkan hubungan pacaran mereka. Duh, kenapa harus pake acara unfriend sama unfollow segala sih? Drama banget, pikir saya dalam hati pada saat itu. Continue reading “Mengapa Saya Unshare Dia dari Path dan Alasan-alasan Lainnya Untuk Move On”

Trust is You

trust-torn

Twitter-lah yang mengenalkan saya dengan istilah ‘trust issue’ beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih, dulu saya membaca tweet seseorang yang berbunyi:

‘Gue kira potongan daging, taunya malah lengkuas. This is why I have a trust issue.’

Seketika saya ketawa setelah membaca tweet itu karena saya pernah mengalami hal serupa beberapa kali. However, seriously, what is ‘trust issue’ anyway?

Dari sepotong tweet di atas, saya mencoba mendefinisikan sendiri apa itu trust issue. Si Mas yang nge-tweet tadi mungkin sedang makan tumis daging atau gepuk yang salah satu bahan pelengkapnya adalah lengkuas. Dan, tentu saja, tekstur luar daging dan lengkuas jika sudah tersiram dengan saus khusus dalam tumis tersebut akan terlihat sangat mirip. Dalam beberapa suapan pertama, Si Mas bisa jadi percaya diri bahwa yang ia makan adalah potongan daging. Namun, alas, ia lengah dan malah mengunyah lengkuas dan segera melepehkannya ke piring. Bisa dibayangkan, kamu sedang menikmati tumis daging yang lezat dan tetiba ada rasa yang melenceng di mulut kamu hanya karena kamu kira apa yang kamu kunyah itu adalah sepotong lengkuas?

Menurut saya, analogi antara daging dan lengkuas ini cukup bisa mewakilkan definisi trust issue pada umumnya. Lengkuas yang menyerupai potongan daging yang dibalut saus tiram, tapi rasanya saling bertolak belakang. Si Mas ini secara nggak langsung tertipu dan, sudah pasti, kecewa karena lengkuas ini sudah merusak pengalaman makannya. Namun, hal yang bisa dikaitkan dengan trust issue justru adalah reaksi si Mas setelah melepehkan lengkuas itu: apakah si Mas tetap melanjutkan kegiatan makannya atau justru berhenti walaupun—mungkin—masih banyak potongan daging di piringnya? Tentu saja yang paling menggambarkan seseorang yang punya trust issue adalah yang terakhir saya sebut.

Sebelumnya, karena ini blog pribadi saya dan saya kebetulan adalah a self-centered bitch, tentunya saya akan menghubungkan ini dengan pengalaman pribadi saya yang sudah hampir tiga tahun ini ‘menderita’ trust issue. And I’m telling you, this goddamn trust issue is NOT a joke. Singkat cerita, pada tahun 2012, saya mempunyai mantan yang ternyata seorang pathological liar dan itu mengubah hidup saya 180 derajat. Nggak ada lagi seorang Ranna yang gampang percayaan dengan seseorang—semua orang saya curigai, termasuk orang tua kandung saya sendiri. Semua kata-kata yang mereka ucapkan—bahkan yang paling biasa sekalipun—dulu nggak bisa saya percaya. Sama sekali. Cara pandang saya melihat dunia berubah: bahwa setiap orang yang ada di sekeliling saya bisa jadi sedang berbohong kepada saya, apapun alasannya. Dan, tentunya, hal ini melelahkan. Saya bahkan perlahan jadi nggak bisa percaya dengan diri saya sendiri most of the time.

Ketika saya sedang di-pedekate-in seseorang, saya lebih banyak curiganya. Kecurigaan yang saya beri kepada mereka itu bukan dalam bentuk ekspektasi rendah, melainkan simply saya menganggap mereka tukang bohong. That’s all. Dan, ini nggak fair buat mereka yang sudah berusaha mengenal saya lebih jauh. Mungkin beberapa di antara mereka adalah the next bastards in my world, tapi kalau ternyata bukan, gimana coba? Sama saja seperti menolak rezeki Tuhan.

Untungnya, setahun terakhir ini trust issue-nya sudah mulai berkurang. Saya merasakan efeknya setelah saya lebih mendekatkan dengan Tuhan (no no no, don’t imagine me wearing peci or hijab or something. It’s like, I’m emotionally attached to my The Creator a bit more since then. I’m still a bitch, tho’), banyak membaca buku self-help (because the only person who can help you is YOURSELF), meditasi, dan membuka pintu kepercayaan sedikit demi sedikit. Jika bukan pintu, mungkin dinding—saya perlahan menghancurkan dinding yang menghalangi kepercayaan saya kepada orang lain sedikit demi sedikit sampai saya benar-benar cukup siap dan kuat lagi.

Tentu saja selama saya membuka pintu perlahan-lahan, ada saja cecunguk raksasa yang dengan manisnya berusaha mendekati saya padahal membawa segudang kebohongan di balik punggungnya. Apa saya kapok? Oh, tentu saja NGGA :))

Kalau saya cepat kapok setiap disakiti atau—kata anak gaul zaman sekarang—ditinggal ketika lagi sayang-sayangnya, saya nggak akan menemukan kebahagiaan dan ketenangan yang saya idam-idamkan akan saya capai di garis finis dong. Happiness is only for people who have fought for it.

Terakhir, saya pun percaya bahwa trust issue yang saya alami sekarang ini perlahan akan menjadi trust is you. Iya, kepercayaan itu kamu. Saya akan sepenuhnya percaya sama kamu. Nanti. Pasti.

Untuk mengenal lebih jauh tentang trust issue, sila klik tautan di bawah ini:

– Definition of Trust Issue from Urban Dictionary

– Discussion About Trust Issue on Yahoo! Answer

– What is Trust Issue from GoodTherapy.org

– 5 Ways to Keep Trust Issues from DESTROYING Your Relationship

Gambar pinjam dari sini