Mata Rantai yang Harus Diputus

Posesif - 1

 

Naif.

Kata itu yang biasanya muncul setiap saya membaca atau mendengar kata ‘posesif’. Bukan, bukan ‘naif’ adjektiva, melainkan grup band yang melejit dengan lagu berjudul ‘Posesif’ di awal tahun 2000an. Kalau kamu dulu anak nongkrong MTV, video musik yang dibintangi oleh Alm. Avi—salah satu anggota Silver Boys—ini sangat ikonik. Lagunya enak, walaupun dulu saya sama sekali nggak paham dengan kata ‘posesif’ itu sendiri. Yang saya hapal dari lagu itu ya bagian, “Mengapa aku begini, jangan kau mempertanyakan” dan “Bilaku mati, kaujuga mati. Walau tak ada cinta sehidup semati”.

 

[  ]

 

Tahun 2012, mantan saya (yang pada saat itu pacar saya) dengan tegas meminta saya untuk ngga ketemuan dengan teman-teman dekat saya. Saat itu hubungan kami baru jalan dua bulan dan menjalani LDR, dan itu adalah momen pertama ia melarang saya. Continue reading “Mata Rantai yang Harus Diputus”

Seven Days on Tinder

tinder-600x338-e1439412008227

 

Sebelumnya, saya ingin meminta maaf karena bulan kemarin saya nggak sempat… atau lebih tepatnya terlalu malas untuk menulis sesuatu di blog ini. Jujur, semenjak blogpost yang terakhir itu (dan mendapat cukup banyak respon positif), saya jadi agak enggan untuk menuliskan hal-hal pribadi saya. Saya merasa bahwa dengan menuliskan atau memberi sudut pandang lain dari sebuah kasus yang sedang ramai diperbincangkan lebih bermanfaat untuk dibaca.

 

But, then, I remember that I am a self-centered bitch. So, I decided to write this LOL

 

Jumat, 3 Juni 2016, saya memberanikan diri untuk menginstal salah satu dating application yang paling terkenal di dunia: Tinder! Continue reading “Seven Days on Tinder”

BOOKS I’VE READ IN 2015

tumblr_lyeklsuhfA1rni043o1_1280

 

Mungkin jika ditanya apa satu kata yang bisa mendeskripsikan tahun 2015, jawab saya: Alhamdulillah. Alhamdulillah karena hampir sebagian resolusi saya di tahun 2015 (yang saya catat di sebuah buku) bisa terlaksana. Jadi, jika kamu pikir orang-orang yang bikin resolusi itu percuma, I’m sorry because it didn’t happen to me. Bweeeeeek~

 

Salah satu resolusi 2015 yang paling ambisius dan berhasil saya capai adalah Continue reading “BOOKS I’VE READ IN 2015”

Mengapa Saya Unshare Dia dari Path dan Alasan-alasan Lainnya Untuk Move On

1141356path-kompastekno780x390

Saya pernah mendengus kesal setelah mendengar kabar bahwa salah satu teman baik saya harus repot-repot meng-unfriend dan meng-unfollow akun mantannya setelah mereka bertengkar dan memutuskan untuk nggak melanjutkan hubungan pacaran mereka. Duh, kenapa harus pake acara unfriend sama unfollow segala sih? Drama banget, pikir saya dalam hati pada saat itu. Continue reading “Mengapa Saya Unshare Dia dari Path dan Alasan-alasan Lainnya Untuk Move On”

Karma

tumblr_m2zv70rnaa1qjsauzo1_500

Empat orang di suatu ruangan sempit dan ber-AC. Oh, salah satunya adalah saya. Iya, kami sedang ada di ruangan bernama back office. Biar sempit dan nggak banyak space untuk bergerak, tapi koneksi WiFi-nya cepat bukan bualan.

Suatu sore menjelang malam yang sendu membuat perasaan semua orang di ruangan tersebut menjadi agak kalut. Kalut dengan masalahnya masing-masing. Biasanya sih berkaitan dengan seseorang dengan masa lalu. Lho, kok bisa? Bisa saja. Nggak semua orang bisa move on dengan cepet, toh?

Akhirnya setiap individu bercerita tentang kegundahannya masing-masing. Continue reading “Karma”

Trust is You

trust-torn

Twitter-lah yang mengenalkan saya dengan istilah ‘trust issue’ beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih, dulu saya membaca tweet seseorang yang berbunyi:

‘Gue kira potongan daging, taunya malah lengkuas. This is why I have a trust issue.’

Seketika saya ketawa setelah membaca tweet itu karena saya pernah mengalami hal serupa beberapa kali. However, seriously, what is ‘trust issue’ anyway?

Dari sepotong tweet di atas, saya mencoba mendefinisikan sendiri apa itu trust issue. Si Mas yang nge-tweet tadi mungkin sedang makan tumis daging atau gepuk yang salah satu bahan pelengkapnya adalah lengkuas. Dan, tentu saja, tekstur luar daging dan lengkuas jika sudah tersiram dengan saus khusus dalam tumis tersebut akan terlihat sangat mirip. Dalam beberapa suapan pertama, Si Mas bisa jadi percaya diri bahwa yang ia makan adalah potongan daging. Namun, alas, ia lengah dan malah mengunyah lengkuas dan segera melepehkannya ke piring. Bisa dibayangkan, kamu sedang menikmati tumis daging yang lezat dan tetiba ada rasa yang melenceng di mulut kamu hanya karena kamu kira apa yang kamu kunyah itu adalah sepotong lengkuas?

Menurut saya, analogi antara daging dan lengkuas ini cukup bisa mewakilkan definisi trust issue pada umumnya. Lengkuas yang menyerupai potongan daging yang dibalut saus tiram, tapi rasanya saling bertolak belakang. Si Mas ini secara nggak langsung tertipu dan, sudah pasti, kecewa karena lengkuas ini sudah merusak pengalaman makannya. Namun, hal yang bisa dikaitkan dengan trust issue justru adalah reaksi si Mas setelah melepehkan lengkuas itu: apakah si Mas tetap melanjutkan kegiatan makannya atau justru berhenti walaupun—mungkin—masih banyak potongan daging di piringnya? Tentu saja yang paling menggambarkan seseorang yang punya trust issue adalah yang terakhir saya sebut.

Sebelumnya, karena ini blog pribadi saya dan saya kebetulan adalah a self-centered bitch, tentunya saya akan menghubungkan ini dengan pengalaman pribadi saya yang sudah hampir tiga tahun ini ‘menderita’ trust issue. And I’m telling you, this goddamn trust issue is NOT a joke. Singkat cerita, pada tahun 2012, saya mempunyai mantan yang ternyata seorang pathological liar dan itu mengubah hidup saya 180 derajat. Nggak ada lagi seorang Ranna yang gampang percayaan dengan seseorang—semua orang saya curigai, termasuk orang tua kandung saya sendiri. Semua kata-kata yang mereka ucapkan—bahkan yang paling biasa sekalipun—dulu nggak bisa saya percaya. Sama sekali. Cara pandang saya melihat dunia berubah: bahwa setiap orang yang ada di sekeliling saya bisa jadi sedang berbohong kepada saya, apapun alasannya. Dan, tentunya, hal ini melelahkan. Saya bahkan perlahan jadi nggak bisa percaya dengan diri saya sendiri most of the time.

Ketika saya sedang di-pedekate-in seseorang, saya lebih banyak curiganya. Kecurigaan yang saya beri kepada mereka itu bukan dalam bentuk ekspektasi rendah, melainkan simply saya menganggap mereka tukang bohong. That’s all. Dan, ini nggak fair buat mereka yang sudah berusaha mengenal saya lebih jauh. Mungkin beberapa di antara mereka adalah the next bastards in my world, tapi kalau ternyata bukan, gimana coba? Sama saja seperti menolak rezeki Tuhan.

Untungnya, setahun terakhir ini trust issue-nya sudah mulai berkurang. Saya merasakan efeknya setelah saya lebih mendekatkan dengan Tuhan (no no no, don’t imagine me wearing peci or hijab or something. It’s like, I’m emotionally attached to my The Creator a bit more since then. I’m still a bitch, tho’), banyak membaca buku self-help (because the only person who can help you is YOURSELF), meditasi, dan membuka pintu kepercayaan sedikit demi sedikit. Jika bukan pintu, mungkin dinding—saya perlahan menghancurkan dinding yang menghalangi kepercayaan saya kepada orang lain sedikit demi sedikit sampai saya benar-benar cukup siap dan kuat lagi.

Tentu saja selama saya membuka pintu perlahan-lahan, ada saja cecunguk raksasa yang dengan manisnya berusaha mendekati saya padahal membawa segudang kebohongan di balik punggungnya. Apa saya kapok? Oh, tentu saja NGGA :))

Kalau saya cepat kapok setiap disakiti atau—kata anak gaul zaman sekarang—ditinggal ketika lagi sayang-sayangnya, saya nggak akan menemukan kebahagiaan dan ketenangan yang saya idam-idamkan akan saya capai di garis finis dong. Happiness is only for people who have fought for it.

Terakhir, saya pun percaya bahwa trust issue yang saya alami sekarang ini perlahan akan menjadi trust is you. Iya, kepercayaan itu kamu. Saya akan sepenuhnya percaya sama kamu. Nanti. Pasti.

Untuk mengenal lebih jauh tentang trust issue, sila klik tautan di bawah ini:

– Definition of Trust Issue from Urban Dictionary

– Discussion About Trust Issue on Yahoo! Answer

– What is Trust Issue from GoodTherapy.org

– 5 Ways to Keep Trust Issues from DESTROYING Your Relationship

Gambar pinjam dari sini

Buat Apa?

“Buat apa itu teh?”

Pertanyaan di atas sering kali diucapkan oleh salah satu sahabat dekat saya. Panggil saja ia Kak Fikan (jomblo). Dan, sering kali pula saya terdiam ketika pertanyaan itu ditujukan kepada saya setelah saya menceritakan curahan hati saya, terutama yang berkaitan dengan problema romantika remaja tanggung masa kini.

spanish-word-for-what

“Nungguin mantan balik lagi ke Bandung. Buat apa?”

“Biar jelas lah kenapa dia dulu tetiba mutusin aku, Kak,” jawab saya enteng.

“Terus kalau udah tahu alasannya, buat apa?”

“Ng…”

“Pengen balikan lagi? Buat apa balikan lagi? Emang udah pasti dia mau jalan lagi sama kamu? Kalo iya, buat apa?”

[    ]

“Buat apa?”

Beberapa bulan terakhir ini, pertanyaan itu selalu otomatis muncul di kepala saya setiap saya akan memutuskan sesuatu—baik yang berkaitan dengan love life maupun yang non-love life. Well, sering kali pada love life sih. Saya sih yang selalu menanyakan pertanyaan maha daya itu kepada diri sendiri, tapi tetap saja somehow saya bisa mendengar suara Kak Fikan dan melihat ekspresi wajahnya sembari menanyakan hal itu.

Misalnya:

Si F lagi-lagi melakukan sesuatu hal yang membuat saya muak (lagi). Kesalnya, saya tahu bahwa cepat atau lambat saya akan memaafkan dia lagi.

Dan tetiba suara dan pertanyaan itu pun muncul: “Buat apa? Buat apa maafin dia?”

Saya sadar benar bahwa yang menanyakan hal itu adalah diri saya sendiri. Saya terdiam. Mencoba berpikir. Buat apa saya maafin dia? Untungnya buat saya apa? Apa dengan memaafkan dia, kehidupan saya akan jadi lebih baik?

Pada detik itu juga saya takut. Takut dengan seberapa besar saya takut kehilangan si F dalam hidup saya. Dia penyeimbang hidup saya (dulu). Membayangkan untuk nggak berbicara dengan dia saja bikin hati saya nggak karuan.

But, then, I realise something: no one is irreplaceable.

 

Setiap orang yang memberi pengaruh dalam hidup saya—baik bagus atau buruk—pasti tergantikan. Saya membicarakan hal ini di luar konteks keluarga ya. Karena, sering kali kita takut bahkan bersedih terhadap seseorang yang pernah datang ke kehidupan kita. Seharusnya kita ingat bahwa ketika seseorang datang, cepat atau lambat maupun besar atau kecil pengaruhnya terhadap hidup kita, pasti bakal pergi juga.

Apa kamu yang sedang membaca ini ingat betapa kacaunya hidup kamu karena nggak bisa membayangkan hidup tanpa mantan kamu, tetapi sekarang justru kamu bahkan sudah lupa mantan mana yang pernah kamu tangisi? Selamat, kamu sudah move on dan mengerti konsep no one is irresplaceable.

Begitupun saya. Pertama kalinya dalam hidup saya memohon-mohon seseorang untuk nggak meninggalkan saya adalah Oktober 2014 kemarin kepada si F. Saya takut hidup saya kacau lagi. Saya takut saya harus mengulang fase move on saya yang bisa memakan waktu tahunan seperti dulu. Saya takut dia tak bisa tergantikan. Dan, saya rasa kita semua tahu bahwa ‘ketergantungan’ kepada seseorang seperti ini justru nggak sehat buat saya.

Mungkin itu yang ingin si F sampaikan kepada saya dulu untuk mencari orang lain—untuk menggantikan posisi dia dalam hidup saya sebagai penyeimbang hidup saya. Sebagai penanda bahwa saya akhirnya bisa completely moved on dari mantan terakhir saya. Sebagai penjaga kewarasan saya yang berusaha mulai percaya dengan orang-orang di sekitar saya lagi.

[    ]

“Buat apa?”

Lagi-lagi pertanyaan itu muncul ketika seseorang dalam salah satu dating application menanyakan ID LINE saya. Hm… buat apa saya kasih ID LINE saya kepada orang yang masih sangat asing dalam hidup saya?

Saya nggak menjawab pertanyaan itu; saya memberikan ID LINE saya begitu saja..

Dan, pada saat itu juga, saya dan orang asing ini tidak pernah berhenti berkomunikasi dalam jeda waktu yang terlalu lama. Selalu berusaha mencuri-curi waktu di tengah kesibukan yang memburu. Mencari-cari celah kesempatan sekedar untuk berpegangan tangan—atau satu kecupan di kening untuk bekal anti-rindu sampai pertemuan selanjutnya. Perlahan, titel ‘orang asing’ pun saya cabut dari seseorang ini.

Buat apa saya tuliskan ini? Agar kamu, yang sedang membaca ini, bisa melihat bahwa moving on bukan mitos.

Gambar dipinjam dari sini