Sepuluh Tahun Lalu, Saya Mencontek Saat UN

bad_genius_4guide_web__large
Salah satu adegan dalam film Bad Genius (2017)

 

“Cewek super pintar yang membagikan kunci jawaban saat ujian kepada teman-teman sekelasnya? Wah, wajib nonton ini!”

 

Itu komentar pertama saya ketika pertama kali membaca sinopsis film Bad Genius sekitar setahun yang lalu dari Internet. Bad Genius (2017) adalah film Thailand besutan Nattawut Poonpiriya yang menceritakan tentang seorang siswi jenius bernama Lynn (Chutimon Cheungcharoensukying) yang menjadi pemberi suplai jawaban-jawaban ujian di sekolahnya. Awalnya, Lynn hanya berusaha menolong Grace (Eisaya Hosuwan), salah satu teman dekatnya, untuk bisa lulus dari ujian mata pelajaran Matematika. Namun, Grace menceritakan pertolongan Lynn tersebut kepada Pat (Teeradon Supapunpinyo)—pacarnya yang juga teman satu kelas mereka. Pat yang punya privilage lahir dari keluarga kaya raya ini akhirnya meminta pertolongan Lynn untuk disuplai kunci jawaban dan berjanji akan membayar sejumlah uang yang nilainya besar. Continue reading “Sepuluh Tahun Lalu, Saya Mencontek Saat UN”

Advertisements

Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017

Hello, survivors.

 

Selamat datang di postingan paling subjektif di blog saya setiap tahunnya. Biasanya, saya akan menulis tentang buku-buku apa saja yang berhasil saya lahap dan target banyaknya buku yang akan saya baca di tahun 2018. TAPIIIII, karena resolusi baca bukunya hampir GAGAL TOTAL, jadi saya akan bahas musik, film, series, dan pengalaman-pengalaman yang berkesan di tahun 2017 kemarin. So, brace yourself.

 

Buku-buku yang Saya Baca di Tahun 2017

Dari target tujuh belas buku, tahun 2017 kemarin saya hanya membaca… empat. Payah banget memang LOL. Uniknya, keempat buku ini bukan buku yang saya beli. Apa aja sih bukunya?  Continue reading “Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017”

Mata Rantai yang Harus Diputus

Posesif - 1

 

Naif.

Kata itu yang biasanya muncul setiap saya membaca atau mendengar kata ‘posesif’. Bukan, bukan ‘naif’ adjektiva, melainkan grup band yang melejit dengan lagu berjudul ‘Posesif’ di awal tahun 2000an. Kalau kamu dulu anak nongkrong MTV, video musik yang dibintangi oleh Alm. Avi—salah satu anggota Silver Boys—ini sangat ikonik. Lagunya enak, walaupun dulu saya sama sekali nggak paham dengan kata ‘posesif’ itu sendiri. Yang saya hapal dari lagu itu ya bagian, “Mengapa aku begini, jangan kau mempertanyakan” dan “Bilaku mati, kaujuga mati. Walau tak ada cinta sehidup semati”.

 

[  ]

 

Tahun 2012, mantan saya (yang pada saat itu pacar saya) dengan tegas meminta saya untuk ngga ketemuan dengan teman-teman dekat saya. Saat itu hubungan kami baru jalan dua bulan dan menjalani LDR, dan itu adalah momen pertama ia melarang saya. Continue reading “Mata Rantai yang Harus Diputus”

Why Isn’t Love Enough?

closer-50ff82754a4b7

 

Menulis puisi… sesulit itu kah?

 

Mendengar kata ‘puisi’-nya saja sudah terdengar canggih. Dibutuhkan seorang yang sangat peka panca indranya untuk bisa menerjemahkan semua yang ia rasakan (dan imajinasikan) untuk menjadi baris-baris kata yang membuat para pembaca berdecak kagum—atau mengernyitkan dahi karena nggak mengerti dengan pesan yang ingin disampaikan oleh sang penyair. (Well, katanya sih bukan seni namanya kalau nggak bikin bingung).

 

Saya bukan penyair, tapi saya senang menulis puisi… dulu. Dengan menulis puisi, curhatan saya bisa disamarkan dengan cukup sempurna. Ketika saya sedang senang, marah, kesal, rindu, saya tumpahkan semuanya ke secarik kertas, atau note di ponsel Nokia 3660 saya dulu—masa-masa ketika saya hampir setiap hari menulis puisi.

 

Ngga semua puisi saya berisikan kepingan-kepingan sejarah hidup saya. Terkadang, apa yang saya tonton atau baca bisa menjadi inspirasi instan untuk menulis puisi. Klik! Secepat itu inspirasi datang ke otak saya. Salah satu kejadian ini terjadi pada November 2011 setelah saya beres menonton film Closer (2004) arahan Mike Nichols. Satu kalimat yang diucapkan oleh Alice (Natalie Portman) benar-benar membekas sampai detik ini:

 

“No one will ever love you as much as I do. Why isn’t love enough?”

 

Saat credit title mulai muncul, segera saya mengklik ikon Microsoft Word dan mulai mengetikan puisi ini.

 

Saya mungkin murah, tapi tak murahan

Ya… mungkin pada kamu saja

Atau dia

Kalaupun kau sebut murahan,

Label itu bukan untuk aku seorang

Melainkan pada hubungan kita pula.

 

Bagiku, mungkin, hanya hubungan

Murahan yang sesuai

Untuk kita.

Kau tak mau mengalah

Akupun tak kalah keras kepala

Tak ada yang mau berkata duluan

Padahal, apa salahnya sekedar berujar, “Maaf.”

Atau mungkin, “Sayang…”

Atau bahkan, “My frozen yogurt, let’s get things straight.”

 

Atau mungkin, hubungan murahan

Hanya berlaku untukku

Yang tak pernah tahu

Bahwa cinta saja tak cukup

Untuk kebal dari rasa malu

Atau perasaan menjadi benalu

Demi jatuh untukmu

 

Tak perlulah manisnya perhatian,

Asinnya air mata,

Asamnya kecupan,

Atau pahitnya kerinduan.

Bakar saja diriku dengan

Bara gairah

Yang akan padam

Saat fajar melengkungkan bayangan-bayangan

Saat embun-embun masih bergumul

Saat dekapmu masih cukup

Menghangatkan dinginnya ruang kosong ini

 

Dan saat kau

Mengancingkan kemejamu

Dan sementara aku

Terkulai di atas peraduan

Tanpa sehelai benang

Pertanyaan itu muncul dalam benak,

“Mengapa cinta saja tak pernah cukup, Sayang?”

 

Tetiba kau menoleh

Menatapku

Seolah membaca pikiranku

Dengan wajah sendu

Lalu berkata,

“Karena kamu murahan.”

 

Puisinya biasa saja? Ya memang. Tapi, saya bangga karena itu kali pertamanya sebuah dialog dari film yang saya sukai sampai mati ini menjadi inspirasi dalam menulis puisi. Ditambah lagi, puisi berjudul “Murahan! Mungkin…” ini masuk menjadi salah satu nominator Sayembara Menulis Puisi Mahasiswa Hima Satrasia dan masuk ke dalam buku Antologi Puisi Situ Waktu di bulan dan tahun yang sama saya menulis puisi ini. Padahal, saya iseng sekali mengirimkan puisi ini. Itupun karena nggak sengaja melihat salah satu tweet dari @infoUPI.

 

So, menulis puisi nggak serumit yang dibayangkan, bukan?

 

Ah, mungkin tahun ini tahun yang tepat untuk saya (atau mungkin kamu) untuk belajar menulis puisi (lagi)? Saya kangen mengubah curahan hati saya menjadi bait-bait asal tak berima; saya sudah agak bosan merangkum apa yang saya rasakan menjadi 140 karakter di Twitter.

 

tumblr_ng7tqkpdSU1rsyukao1_500

Ada Apa dengan Ranna?

rangga n cinta

“Sejak gue ketemu lo, gue berubah jadi orang yang beda!” ujar Cinta ketus, kemudian memelankan suaranya dan mengalihkan pandangannya dari Rangga, “Orang yang nggak bener…”

Pertengkaran antara Cinta dan Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta? (2002) di lorong sekolah itu terjadi karena Cinta merasa dirinya berubah karena kedekatannya dengan Rangga. Perubahan apa yang dirasakan Cinta? Ia mulai berani berbohong kepada teman-temannya, terutama kepada Alya yang pada saat malam di mana Cinta pergi ke kafe dengan Rangga, ia sedang mebutuhkan sosok Cinta—sahabatnya. Keadaan diperparah saat Cinta mendengar kabar bahwa Alya dilarikan ke rumah sakit karena mencoba bunuh diri dan Maura—salah satu sahabat Cinta dan Alya—tahu kalau malam itu Cinta tidak pergi ke dokter, tetapi mendeklamasikan puisinya Rangga di salah satu kafe hipster.

Mari kita garis bawahi frasa “orang yang berbeda” dan “orang yang nggak bener” dalam ucapan Cinta di atas dan saya refleksikan dengan pengalaman pribadi saya.

[   ]

Awal Oktober kemarin, dengan gontai saya langkahkan kaki saya ke ruang tengah di rumah keluarga saya yang mungil dan memberitahu orang tua saya bahwa saya nggak melanjutkan karir saya di dunia broadcasting. Ketika ditanya alasan utamanya apa, saya jawab dengan santai, “Pengen istirahat. Capek.”

Saya mengurung diri di kamar saya yang nggak kalah mungilnya dengan ruangan lain di rumah ini. Saya tatap sekeliling kamar saya dan menghela napas panjang. Kasian kamar ini. Semenjak dua tahun lalu saya diterima bekerja di salah satu radio anak muda di Bandung, saya jarang sekali merapikan atau mendekorasi ulang kamar ini. What you’ve done with your life after all this time, Ranna? You chased your dream to be a broadcaster, but you forget to take care of your own bedroom.

Saya tatap lagi kamar saya, menatap barang-barang yang tertata rapi dari ujung ke ujung lainnya. Rapi, memang. Mamah saya yang merapikannya. Dan saya nggak suka. Bukan karena saya bisa merapikannya lebih baik sih. Saya sedih saja. Mamah saja sadar bahwa saya gak punya waktu buat membereskan kamar selama dua tahun terakhir ini, kenapa saya nggak? Ke mana aja saya selama ini? Where is the old me? Ke mana diri saya yang dulu selalu rajin membereskan kamar seminggu sekali?

Perlahan, saya mulai menyalahkan kantor saya karena membuat saya ‘beda’ dengan ‘saya yang dulu’.

Saya buka lemari pakaian saya dan semua baju dan celana tertata rapi, tapi bukan seperti yang saya biasa lakukan. Pakaian di lemari ini seharusnya terbagi menjadi ‘baju buat di rumah’, ‘baju buat ke kantor’, ‘polo shirt’, dan ‘kemeja’, tidak asal ditumpuk rapi seperti ini.

Saya semakin kesal dengan kantor saya yang dulu. Sejauh ini kah mereka memisahkan saya dengan ‘saya yang dulu’? Kok saya jadi orang yang gak ‘bener’ begini?

I miss the old me

Terduduk saya di bibir kasur. Tak sengaja pandangan mata saya mendarat di tumpukan novel di rak buku paling atas di kamar ini. Saya tertegun, “Oh my God, sudah berapa lama saya nggak baca buku?” Saya ambil novel filsafat Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dari rak bagian atas dan mencoba mengingat kapan terakhir saya membaca novel yang tak kunjung selesai saya baca ini. Saya lupa. Yang jelas, saya ingat buku ini adalah pemberian dari mantan saya di ulang tahun saya yang ke-20 pada tahun 2010. Dia tahu benar kalau saya itu kutu buku…

4188756_4fe71c78-e96a-11e3-8b4e-c9ba2523fab8

Kutu buku…

KUTU BUKU!

Saya yang dulu adalah kutu buku. Dan saya melupakannya selama dua tahun terakhir ini.

Saya keluar dari kamar dan duduk menghadap si Papah dan si Mamah. “Pah, kapan Papah terakhir liat Aa baca buku?”

Kening Papah mengernyit, “Perasaan udah lama banget gak liat Aa baca atau beli buku.”

Exactly,” ujar saya senang, “Selama bulan November nanti, Aa gak mau kerja dulu. Pengen baca buku sebanyak-banyaknya.”

“Oh, ya sok aja. Papah mah nggak maksa kamu harus langsung kerja lagi kok,” ujar Papah.

Sejak saat itu, saya berusaha menjadi saya yang dulu lagi. Hari pertama Gelombang-nya Dee Lestari terbit, saya langsung berburu ke toko buku dan membacanya dengan menggebu-gebu. It feels good to start becoming a book worm again.

Mungkin saya sekarang terdengar seperti Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta? yang salah satu perkataannya saya kutip di awal postingan ini: menyalahkan seseorang (atau sesuatu) atas perubahan besar yang dialaminya. Atas semua ke-chaos-an dalam hidupnya. Mungkin untuk beberapa orang, melimpahkan kesalahan yang mereka lakukan sendiri bisa membuat dirinya lebih nyaman. Tapi, mau sampai kapan seperti itu?

Alangkah baiknya kita memaklumi perkataan kasar Cinta kepada Rangga—mengingat Cinta pada saat itu masih berusia sekitar 16 atau 17 tahun. Malu rasanya jika saya, yang sudah menginjak usia di angka 24 ini, masih bersikap seperti Cinta. But, then again, age is just a number. Digit angka usia kamu nggak selalu berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan kamu.

Saya sekarang sudah menjadi ‘orang yang beda’ atau mungkin ‘orang yang gak bener’ juga, tapi setidaknya saya punya pilihan untuk menyelamatkan separuh dari saya yang ‘dulu’ yang masih bisa saya pertahankan. Saya akan summon kutu buku dalam diri saya dan membiarkannya beradaptasi perlahan dengan diri saya yang ‘beda’ dan (mungkin) ‘gak bener’ ini.

tumblr_li5lvec76j1qa0n3uo1_500

(Gambar dipinjam dari sini, sini, dan sini)

Absennya Apresiasi

LIT045

Tahun 2005, awal-awal saya bersekolah di salah satu SMA Negeri unggulan di Bandung Timur, Bu Neulis yang notabene adalah guru Bahasa Indonesia saya menjelaskan hubungan erat antara karya sastra dan apresiasi. Satu kalimat dari beliau masih saya ingat sampai sekarang: “Karya sastra tidak bisa disebut sebagai karya sastra jika tidak ada yang mengapresiasi, dan ini berlaku bukan hanya untuk sastra, melainkan karya seni lainnya”. Saya tertegun. Pada saat itu, saya sedang rajin-rajinnya menulis cerpen. Bahkan, saya sedang menyelesaikan draft novel pertama saya. Karya saya harus bisa diapresiasi oleh banyak orang—bagaimanapun caranya, ujar saya dalam hati.

[   ]

Tahun 2006, saya sudah memulai menulis novel pertama saya. Setiap selesai satu chapter, saya sebarkan ke teman-teman saya yang memang suka membaca fiksi. Tanggapan dari mereka hampir semuanya positif. Hal itu bikin saya senang sih, tetapi saya lebih senang ketika mendapat kritikan yang tajam namun membangun—yang jelas-jelas bisa bikin novel saya makin bagus. “Nanti kalo gue ke Gramedia, novel lo harus udah ada di rak yang ada tulisan best seller-nya ya!” ujar salah seorang teman seraya memotivasi saya. Oh, begini toh rasanya ketika apa yang kita buat susah payah diapresiasi… menyenangkan dan melegakan.

Di tahun yang sama, saya memberanikan diri untuk mengirimkan cerpen untuk Lomba Cerpen Remaja se-Jawa Barat yang diadakan oleh Balai Bahasa Bandung setiap tahunnya. Saya berkonsultasi kepada Bu Yeti, guru Bahasa Indonesia saya saat kelas 2 SMA. “Nanti saya kabari sejauh mana cerpen kamu diapresiasi oleh panitianya ya,” ujar Bu Yeti. Beberapa minggu kemudian, beliau memanggil saya ke kantornya dan bilang kalau cerpen saya masuk sepuluh besar se-Jawa Barat. Se-Jawa effing Barat! “Senior kamu belom pernah ada yang tembus sampai sepuluh besar. Kamu yang pertama. Saya bangga sama kamu.” Rasanya ingin menangis bahagia mendengar kata-kata tadi.

Sesampainya di rumah, saya sampaikan berita membahagiakan itu kepada orang tua saya.

Papah: “Alhamdulillah atuh. Sok pertahanin prestasinya. Kalau emang kepengen jadi penulis mah terus diperdalam ilmunya.”

Mamah: “Iya iya bagus.”

Seperti biasa, tanggapan dari Mamah selalu begitu. Beliau tidak pernah excited mendengar prestasi saya di bidang sastra. Padahal, apresiasi terbesar yang saya tunggu-tunggu setiap saya menulis sesuatu adalah dari orang tua saya, terutama Mamah. Apalah artinya saya menang Khatulistiwa Literary Awards di masa depan nanti jika orang tua saya enggan untuk membaca karya saya.

[   ]

Semenjak kejadian tanggapan dingin dari Mamah, saya berusaha untuk tidak terlalu mempermasalahkan apresiasi dari orang lain. Yang terpenting, saya bisa me-publish karya saya di mana saja—dunia maya ataupun koran lokal. Senang rasanya ketika ada teman SMA yang sudah lama lost contact tetiba mengirimkan pesan singkat kepada saya yang isinya: “Aku baca cerpen kamu di Galamedia. Bagus banget! Bangga deh temenan sama kamu!”. Saya sendiri bahkan gak tahu kalau cerpen saya tembus (lagi) di Galamedia. Alhamdulillah…

Apresiasi-apreasi kecil itulah yang membuat saya bertahan untuk tetap menulis.

Tahun 2012, di tengah-tengah kesibukan saya merintis karir sebagai broadcaster, saya mencoba menulis untuk The Hermes. Cerpen-cerpen yang terpilih akan dijadikan e-novellete dan bisa diunduh secara gratis di situs mereka. Agak ragu saat menulis cerpennya karena saya sudah lama tidak menulis fiksi dan tema cerpennya itu adalah horor—dan saya belum pernah menulis horor sebelumnya! Makanya, agak kaget juga ternyata cerpen saya yang berjudul Monster Under My Bed bisa terpilih (dan denger-denger sih, para pembaca banyak yang suka dengan cerpen saya hehe). Saat itu saya sedang punya pacar, maka dialah yang saya kabari pertama kali. Tanggapan dia?

“Oh, ya bagus atuh, dear. Tapi aku gak suka ya kamu nulis-nulis fiksi kayak gitu.”

Saya tanya alasannya apa, namun dia tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Sampai sekarang saya belum bilang kalau dia adalah sumber inspirasi saya ketika menulis cerpen Monster Under My Bed ini simply because dia suka nonton film horor. Lucu ya, pujian-pujian dari orang lain rasanya gak berarti ketika orang yang kita sayang menolak untuk membaca cerpen kita, bahkan menyuruh kita untuk berhenti nulis.

[   ]

Mengapa saya membahas tentang apresiasi pada postingan kali ini? Blame it to The Judge. Yup, The Judge, film yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., bercerita tentang Henry “Hank” Palmer yang terpaksa pulang kampung karena ibunya yang meninggal dan pada hari yang sama, ayahnya yang sangat dia benci menjadi tersangka kasus tabrak lari. Overall, filmnya bagus sih. It’s all about appreciation. Sedih rasanya ketika melihat Hank marah-marah ke Ayahnya karena ngerasa prestasi-prestasi akademik dan pekerjaannya gak pernah diapresiasi sama Ayahnya. It’s like, semua kebahagiaan dan kekayaan yang sudah dia dapat sekarang gak ada artinya kalau Ayahnya masih terlihat gak mau mengapresiasi apa yang sudah dia capai. See? Apresiasi yang terpenting itu memang biasanya cukup datang dari orang tua, atau teman-teman dekat kita… well, atau dari pacar kita. Atau mungkin gebetan kita.

TheJudge

Kalau kamu, yang sedang membaca postingan ini, merasa selama hidupnya jarang diapresiasi dengan baik, mungkin karena kamu belum pernah mengapresiasi orang lain terlebih dahulu DENGAN BAIK. Saya, seraya mengetik postingan ini, mengingat-ingat apakah selama ini saya sudah cukup mengapresiasi orang tua saya? Kapan terakhir kali kamu memuji masakan ibu kamu? Kapan terakhir kali kamu bilang terima kasih kepada ayah kamu yang diam-diam memandikan motor kamu karena kamu terlihat terlalu lelah dengan kegiatan kamu sendiri? Kapan terakhir kali kamu memuji gaya hidup teman baikmu yang sekarang menjadi vegetarian dan rajin olah raga? Kapan terakhir kali kamu memuji potongan rambut gebetan kamu yang sekarang makin terlihat tampan?

Mereka melakukan itu semua bukan untuk menarik simpatimu. Bukan pula sedang cari perhatian dari kamu. Tapi, lihatlah. Sekali saja kamu menghargai apa yang mereka sudah atau sedang perbuat (walaupun itu bukan untuk kamu), dampak positifnya akan sangat besar bagi mereka. Dan mereka akan mengapresiasi balik apa yang sudah kamu buat, sooner or later.

No need to beg for being appreciated by anyone.

Dari Sherina Sampai Cintapuccino

Petualangan_Sherina

Kapan kamu pertama kali nonton di bioskop?

Saya masih ingat betul betapa excited-nya saya ketika melihat trailer film Petualangan Sherina di televisi sewaktu saya masih duduk di bangku SD. Ada dua sih alasannya: 1) Saya nge-fans berat dengan Sherina (I mean, who doesn’t listen to her first album at that time?), 2) Karena itu film anak-anak.

“Pah, pengen nonton Petualangan Sherina di bioskop,” pinta Ranna kecil sambil menarik-narik seragam si Papah yang baru saja pulang kantor. Apa respon si Papah? “Iya nanti.” Dan saat itu, jawaban singkat nan menggantung itu cukup membuat saya senang. Senang karena saya akan menonton di bioskop untuk pertama kalinya, dan yang akan saya tonton adalah Petualangan Sherina!

Apakah saya berhasil menonton di bioskop untuk pertama kalinya?

TIDAK.

Saya sudah telanjur capek merayu si Papah yang dulu terlalu sibuk banting tulang dan saya tidak punya keberanian untuk meminta uang dan mengantar saya ke bioskop. Saya minta uang buat beli buku saja dulu sering beliau judesin sambil bilang, “Beli buku melulu…”

Setelah beberapa bulan, akhirnya saya ikhlas untuk tidak menonton Petualangan Sherina dan selalu mengingat-ingat kata-kata si Papah yang lain, “Nanti juga ditayangin di TV kok. Gratis pula. Kamu nontonnya bisa sambil tiduran di karpet.”

Saat itu saya baru habis Jumatan di mesjid dekat kantor si Papah dan selalu ada Pasar Jumat di halaman mesjid tersebut. Barang-barang yang dijual beragam sekali—mulai dari celana dalam sampai batu akik. Eits, tentunya ada juga tukang VCD bajakan. Iseng, saya lihat-lihat ke lapak si mamang tukang VCD bajakan. Siapa tahu ada VCD Pokemon atau Smack Down terbaru yang belum saya dan adik saya tonton. Tapi, saya kaget benar ketika melihat ada VCD Petualangan Sherina di antara jajaran VCD bajakan itu. Saya ambil VCD itu dan memerhatikan dengan seksama dan mulut menganga. Tangan kiri saya menarik-narik seragam si Papah, lalu berkata, “Pah, Petualangan Sherina…”

“Oh, udah ada ya VCD-nya? Yaudah sini…” Si Papah mengambil VCD Petualangan Sherina itu, lalu membayarnya.

I was the happiest boy at that time.

Terus, kapan seorang Ranna ini pertama kali ke bioskop? Apa saat Joshua Oh Joshua tayang?

TIDAK.

Film pertama yang saya tonton di bioskop adalah… Cintapuccino. Film adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Icha Rachmanti ini dulu saya tonton dengan Ahonx dan Abi, teman-teman SMA saya tahun 2007. Saat itu, Ahonx sedang berulang tahun dan berjanji untuk mentraktir saya dan Abi nonton film. Bioskop terdekat dari sekolah kami adalah bioskop ASTOR di daerah Pasar Ujung Berung (yang sudah beberapa tahun ini tutup). Harga tiketnya sekitar Rp 5.000, karena bioskop ini memang bukan bioskop sekelas XXI atau 21, bahkan Blitz. Tak ada AC di studio bioskopnya, hanya ada beberapa kipas angin yang bergerak secara otomatis ke kanan dan ke kiri. Kami menonton pada pukul sekitar 4 sore, jadi tak banyak yang menonton. Sedikit sekali, malah.Kursinya juga tak begitu nyaman. Bahkan, ada rumor sering ada tikus di bioskop ini (yup, makanya tiketnya murah). Tapi, saya benar-benar menikmati filmnya—entah karena ini pertama kalinya saya ke bioskop atau karena Cintapuccino ini memang salah satu novel favorit saya saat saya baru masuk SMA sekitar tahun 2005. Semua karakternya pas sekali, kecuali yang memerankan Dimas Geronimo (Yes, I’m talking to you, Miller).

cintapuccino_posterpreview

Pengalaman pertama ke bioskop itu magical sekali. Saya sedari kecil suka menulis dan ingin suatu hari nanti apa yang saya tulis akan menjelma menjadi gambar bergerak dan bersuara yang ditayangkan di bioskop. Dari situ, saya makin menekuni dunia sastra dan mulai melek dengan apa yang namanya Academy Awards yang, konon, film-film terbaik di dunia bersaing menjadi yang paling baik.

Oh, jangan lupakan sensasi ketika credit title mulai naik dan lampu-lampu di dalam studio tetiba menyala. You know, that moment ketika di dalam hati kita merutuk “Kok udahan sih”, tapi di saat yang bersamaan, ada perasaan lega dan menyenangkan karena kamu sudah merasa sangat terhibur dengan apa yang kamu tonton.

Apa saya masih bermimpi untuk bisa menonton film dengan skenario buatan saya sendiri?

YA.

Masih, walaupun tidak semenggebu-gebu dahulu saat saya menonton Cintapuccino. Atau bahkan saat saya menonton Petualangan Sherina di layar TV di ruang keluarga yang hanya sebesar 14 inchi.

By the way, saya jadi teringat impian saya buat berkunjung ke Bosscha yang sampai sekarang belum kesampaian. Ada yang mau ‘menculik’ saya ke sana? I promise I will sing like Sherina there.

 

P. S.: Blogpost ini terinspirasi dari tulisan Nauval Yazid di linimasa.