Tiga Kicauan

8477893426_9181cdabc4_o

 

1.

Selimut ini erat kupeluk

Peraduan tak lagi bisa memecah rindu

Atau sekedar melepas lesu

Setengah sadar menuju Subuh

Mengigau, “Mas, masih sudikah menjemputku di Bandung?”

Continue reading “Tiga Kicauan”

Advertisements

Dua Putaran di Trek Lari

UA-IMG_0167

 

Bangun tidur. Duduk di atas kasur. Lirik jam dinding, jam setengah lima subuh. Sudah waktunya solat subuh. Iya, itu adzan subuh sedang berkumandang. Mau beranjak, malas. Ambil ponsel yang ada di sebelah bantal. Ada satu SMS dari Nica—Veronica nama lengkapnya. Temen deket di kampus. Isinya “Dion ganteng… gue nyontek tugas essay elo ya. Gue ke kampus jam sembilanan kok.”

 

Saya bales, “Eh, sori ya. Kagak gratis.”

 

Tak disangka, Nica (yang entah lagi begadang atau sudah bangun juga) langsung bales. “Dasar ublag! Iye tar gue traktir Pizza Hut deh!”

 

Saya berdiri, menatap cermin lumayan besar yang ada di samping jendela kamar. Ih, jelek amat sih. Itu komentar saya melihat pantulan bayangan saya sendiri. Ya… walaupun Nica sering bilang saya itu sebenernya ganteng—apalagi kalau ada maunya. Saya menyipitkan mata. Hm… satu jerawat di dahi, satu yang kecil di hidung, dan dua di pipi kanan. Bangke. Masa saya harus ganti pembersih muka lagi? Gak ada satu pun yang cocok.

 

Saya lihat rambut saya yang seperti bintang laut yang habis nabrak kaca toko. Eh, emang bintang laut punya rambut? Bodo’ amat. Pokoknya rambut saya menyeramkan. Saya jadi ragu. Suatu hari nanti, saya akan tidur berdua dengan orang yang saya sukai—yang saya cintai. Dan tiap hari pasangan saya bakal melihat wajah saya yang buruk rupa dan rambut bintang laut ini? Setelah malam pertama, dia pasti langsung menceraikan saya.  Continue reading “Dua Putaran di Trek Lari”

Monster Under My Bed

Pukul 23.45          

 

“Lima belas menit lagi… dan semuanya akan kuakhiri. Semua mimpi dan kenyataan buruk ini,” desis lelaki berbadan tegap yang terlihat layu dan acak-acakan itu. Ia tersenyum kecut menatap refleksinya sendiri di sebilah pisau satu-satunya yang ia miliki di dapur rumah yang ia tinggali sedari kecil tersebut.

 

***

 

Beberapa hari yang lalu…

Aku terbangun dengan keringat dingin sebelum alarm dari ponselku berbunyi pagi ini—sebuah prestasi. Apartemen mungil yang baru kutinggali selama dua minggu ini padahal nyaman betul, tetapi tiap gelapnya malam datang tetap saja membuat aku sedikit kalut. Ini semua karena dongeng yang Mama pernah ceritakan kepadaku saat aku berumur tiga tahun—yang sebenarnya keabsahan faktanya tidak masuk akal, tetapi entah mengapa dongeng itu begitu lekat menempel di sudut-sudut otak.  Continue reading “Monster Under My Bed”

Meja Sebelah

o-empty-classroom-facebook

Juli 2012

Masa Orientasi Siswa sudah selesai dan hari ini adalah hari pertama aku mengenakan seragam putih abu-abu. Orang bilang, masa-masa SMA adalah masa-masa paling indah yang gak akan bisa dilupain. Hm… kita lihat nanti. Eh, by the way, cowok yang duduk di meja sebelah gue ini kok malah tidur ya? Bukannya kenalan dan ngobrol sama temen-temen baru di kelas.  Continue reading “Meja Sebelah”

BOOKS I’VE READ IN 2015

tumblr_lyeklsuhfA1rni043o1_1280

 

Mungkin jika ditanya apa satu kata yang bisa mendeskripsikan tahun 2015, jawab saya: Alhamdulillah. Alhamdulillah karena hampir sebagian resolusi saya di tahun 2015 (yang saya catat di sebuah buku) bisa terlaksana. Jadi, jika kamu pikir orang-orang yang bikin resolusi itu percuma, I’m sorry because it didn’t happen to me. Bweeeeeek~

 

Salah satu resolusi 2015 yang paling ambisius dan berhasil saya capai adalah Continue reading “BOOKS I’VE READ IN 2015”