Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017

Hello, survivors.

 

Selamat datang di postingan paling subjektif di blog saya setiap tahunnya. Biasanya, saya akan menulis tentang buku-buku apa saja yang berhasil saya lahap dan target banyaknya buku yang akan saya baca di tahun 2018. TAPIIIII, karena resolusi baca bukunya hampir GAGAL TOTAL, jadi saya akan bahas musik, film, series, dan pengalaman-pengalaman yang berkesan di tahun 2017 kemarin. So, brace yourself.

 

Buku-buku yang Saya Baca di Tahun 2017

Dari target tujuh belas buku, tahun 2017 kemarin saya hanya membaca… empat. Payah banget memang LOL. Uniknya, keempat buku ini bukan buku yang saya beli. Apa aja sih bukunya?  Continue reading “Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017”

Books I’ve Read in 2016 and How To Read Them

 

cold1

 

Hello, 2016 survivors.

 

Mari kita hindari topik bagaimana tahun 2016 was such a bitch, karena toh saya yakin masih ada hal-hal menyenangkan di tahun 2016 yang bisa kita kristalkan untuk dikenang lagi. Iya nggak, sih?

 

Salah satu hal menyenangkan di tahun 2016 versi saya adalah saya masih bisa menyempatkan membaca buku fiksi. FYI, saya membuat resolusi 2016 untuk membaca buku fiksi sebanyak 15 buku di postingan ini, daaan… Continue reading “Books I’ve Read in 2016 and How To Read Them”

BOOKS I’VE READ IN 2015

tumblr_lyeklsuhfA1rni043o1_1280

 

Mungkin jika ditanya apa satu kata yang bisa mendeskripsikan tahun 2015, jawab saya: Alhamdulillah. Alhamdulillah karena hampir sebagian resolusi saya di tahun 2015 (yang saya catat di sebuah buku) bisa terlaksana. Jadi, jika kamu pikir orang-orang yang bikin resolusi itu percuma, I’m sorry because it didn’t happen to me. Bweeeeeek~

 

Salah satu resolusi 2015 yang paling ambisius dan berhasil saya capai adalah Continue reading “BOOKS I’VE READ IN 2015”

Menemukan Herman

BmfQJ86CMAAxh7l

Pernah terobsesi dengan sebuah nama?

Dulu pada masa saya sedang rajin-rajinnya menulis fiksi, saya secara tidak sadar sering menamai karakter-karakter saya dengan awalan huruf ‘R’, atau setidaknya ada unsur ‘R’-nya. Untuk kamu yang dulu mengikuti cerita bersambung saya di (almarhum) Multiply, semua karakter utamanya berunsur huruf ‘R’: Vardan, Faren, Raihanun, dan Erina. Jadi, jangan heran bila saya menggunakan nama ‘Ranna’ sebagai nama pena dan nama onair saya. Bila ditanya mengapa saya sangat tergila-gila dengan nama-nama yang ada unsur huruf ‘R’-nya, saya hanya bisa mengangkat kedua pundak saya. It just happens.

[     ]

Pertengahan November 2014,

Ialah F, seseorang yang sudah menyebut saya sok tulus dan sumber masalah di hidupnya, tetiba meng-unblock LINE saya dan mengirimkan sebuah pesan, “Udah tidur? Makan yo.” Look at this dude, he wanted to have dinner with his source of problem! Dan dia juga sudah tahu benar kalau saya tidak akan menolak permintaan dia. Kami berdua pun pergi ke warung Indomie terdekat dan saya—yang biasanya memulai pembicaraan—memilih untuk diam dan bahkan sebisa mungkin tidak melakukan kontak mata.

Dia—akhirnya—yang memulai pembicaraan lebih dulu. Wajahnya masih sama seperti terakhir kali kita bertemu: he always looks pissed off. Saya jawab beberapa pertanyaan basa-basi dia. I mean, tentu saja itu basa-basi. Sejak kapan dia ingin tahu atau bahkan peduli dengan keadaan saya? Sunyi mengisi seraya ia menghabiskan semangkuk mie Indomie kuah dengan kornet dan telor, juga beberapa potong gorengan. Saya tidak pernah berekspektasi bisa sedekat ini dengan dia secara fisik setelah pertengkaran hebat di antara kita pada awal Oktober 2014 kemarin. Saya tidak mengharapkan ini.

filosofi-kopi-1

Namun, semua rasa ketidaksukaan dan ketidaknyamanan saya di dekat dia buyar ketika ia bercerita tentangnya yang membaca buku Dewi Lestari di salah satu kedai kopi di Kalibata, Jakarta. “Filosofi Kopi. Bagus bukunya,” ujarnya. Saya mendengus dan berujar dalam hati, yaiyalah! Semua bukunya Teh Dewi nggak ada yang gagal! Iseng, saya tanya apa cerpen favorit dia dalam buku itu. Well, bisa saja dia berbohong telah membaca buku itu, kan? He’s addicted to lie to me. Dan jawaban dia adalah…

“’Mencari Herman’.”

Sesaat, saya terdiam. Ingin saya buat meja yang ada di hadapan kita berdua ini terbalik dan berteriak di depan mukanya, “Are you effing kidding me?!

Bertahun-tahun saya menanyakan pertanyaan yang sama kepada orang-orang yang sudah membaca buku ‘Filosofi Kopi’ dan jawaban mereka selalu cerpen ‘Filosofi Kopi’. Tak ada yang menjawab ‘Mencari Herman’ yang notabene adalah cerpen favorit saya dalam buku tersebut.

Mungkin bagi kamu yang sedang membaca tulisan saya, hal ini biasa saja. Buat saya, ini terlalu luar biasa… luar biasa menyebalkannya. Saya sudah tidak mau punya kesamaan lagi dengan dia. Tetapi, sepertinya Semesta memang selalu punya cara iseng untuk mengejutkan kita berdua—atau setidaknya saya saja pada momen ini.

Membahas cerpen ‘Mencari Herman’ ini sesaat membuat saya terlempar ke masa-masa saya pada tahun 2012, saat pertama kali saya berkenalan dengan seseorang yang akhirnya menjadi mantan saya yang ketiga. Tak perlulah pedulikan nama depannya, karena saya cukup memuja nama belakangnya: Suherman. Berbeda dengan Hera, tokoh utama wanita dalam ‘Mencari Herman’ yang terobsesi dengan nama ‘Herman’ dan butuh bertahun-tahun lamanya untuk bisa berkenalan dengan sesosok pria yang bernama tulen Herman, saya sudah cukup senang menemukan seseorang bernama belakang Suherman. Pertama, karena ada unsur huruf ‘R’ pada ‘Suherman’. Kedua, ada unsur ‘Herman’ dalam ‘Suherman’. Belum lagi, mantan saya yang satu ini sesuai dengan kriteria ideal yang pernah saya tulis di buku harian saya bertahun-tahun yang lalu. Benar-benar seperti ketiban durian runtuh.

Nasib saya dengan Hera sebenarnya sebelas-duabelas. Hera kehilangan nyawanya setelah berkenalan dengan pria bernama Herman Suherman. Can you imagine? Bertahun-tahun ia mencari seorang Herman, dan sekalinya dapat, yang ia dapatkan adalah Herman kuadrat. Bagaimana dengan saya? Saya juga kehilangan ‘hidup’ saya. Can you imagine? Salah satu mimpi saya untuk mempunyai pasangan hidup yang saya idam-idamkan jadi kenyataan, dan saya tidak mungkin akan melepaskan dia begitu saja.

Kehidupan saya yang sudah dimulai dan bisa diberi judul ‘Menemukan Herman’, berlanjut menjadi ‘Mencari Herman’ karena tetiba ia melenyapkan jejaknya dari hidup saya, sampai akhirnya menjadi ‘Merelakan Herman’ pada awal tahun 2014 kemarin, karena ia tak kunjung saya temukan.

[     ]

Beberapa hari setelah pembicaraan di warung Indomie, F bersikap seolah di antara kita tidak pernah ada masalah sama sekali—seolah ia lupa bahwa ia pernah mentah-mentah menganggap saya sebagai sumber semua masalah yang ada di hidupnya. Ia bahkan meralat peribahasa yang ada di dalam ‘Mencari Herman’.

“Yang bener tuh kayak gini: Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan,” ujanya.

Dua ‘Herman’ melenyapkan nyawa Hera. Sementara saya? Satu ‘Herman’ harusnya menggenapkan hidup saya, bukan meluluhlantakan saya.

Sesaat saya berusaha mengingat wajah mantan saya yang terakhir itu. Suaranya. Tekstur kulit wajahnya. Cara ia merengkuh saya. Semuanya sudah hampir tidak bisa saya ingat dengan otak saya.

Lagipula, ada seseorang yang harus saya jaga sekarang. Seseorang yang menghentikan fase hidup saya yang bisa diberi judul ‘Merelakan Herman’ itu. Dialah penanda akhir cerita sekaligus penanda awal cerita baru bagi saya. Dia bukan seseorang yang bisa disebut sebagai ‘teman hidup’—dia terlalu menyebalkan untuk diberi gelar itu. Tetapi, saya harus menjaganya karena dia, secara tidak langsung, sudah menyelamatkan saya.

Seseorang itu menganggap saya sok tulus dan sumber masalah dalam hidupnya.

Seseorang itu menyukai cerpen ‘Mencari Herman’.

Seseorang itu F, dan ada unsur huruf ‘R’ pada nama belakangnya.

Dan hal inilah yang membuat saya tidak pernah menyukai kejutan dari Semesta. Tidak ada huruf ‘R’ pada ‘kejutan’ dan ‘Semesta’, anyway.

But, heck, there are ‘R’ in ‘surprise’ and ‘Universe’.

(gambar pinjam dari sini dan sini)

Ada Apa dengan Ranna?

rangga n cinta

“Sejak gue ketemu lo, gue berubah jadi orang yang beda!” ujar Cinta ketus, kemudian memelankan suaranya dan mengalihkan pandangannya dari Rangga, “Orang yang nggak bener…”

Pertengkaran antara Cinta dan Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta? (2002) di lorong sekolah itu terjadi karena Cinta merasa dirinya berubah karena kedekatannya dengan Rangga. Perubahan apa yang dirasakan Cinta? Ia mulai berani berbohong kepada teman-temannya, terutama kepada Alya yang pada saat malam di mana Cinta pergi ke kafe dengan Rangga, ia sedang mebutuhkan sosok Cinta—sahabatnya. Keadaan diperparah saat Cinta mendengar kabar bahwa Alya dilarikan ke rumah sakit karena mencoba bunuh diri dan Maura—salah satu sahabat Cinta dan Alya—tahu kalau malam itu Cinta tidak pergi ke dokter, tetapi mendeklamasikan puisinya Rangga di salah satu kafe hipster.

Mari kita garis bawahi frasa “orang yang berbeda” dan “orang yang nggak bener” dalam ucapan Cinta di atas dan saya refleksikan dengan pengalaman pribadi saya.

[   ]

Awal Oktober kemarin, dengan gontai saya langkahkan kaki saya ke ruang tengah di rumah keluarga saya yang mungil dan memberitahu orang tua saya bahwa saya nggak melanjutkan karir saya di dunia broadcasting. Ketika ditanya alasan utamanya apa, saya jawab dengan santai, “Pengen istirahat. Capek.”

Saya mengurung diri di kamar saya yang nggak kalah mungilnya dengan ruangan lain di rumah ini. Saya tatap sekeliling kamar saya dan menghela napas panjang. Kasian kamar ini. Semenjak dua tahun lalu saya diterima bekerja di salah satu radio anak muda di Bandung, saya jarang sekali merapikan atau mendekorasi ulang kamar ini. What you’ve done with your life after all this time, Ranna? You chased your dream to be a broadcaster, but you forget to take care of your own bedroom.

Saya tatap lagi kamar saya, menatap barang-barang yang tertata rapi dari ujung ke ujung lainnya. Rapi, memang. Mamah saya yang merapikannya. Dan saya nggak suka. Bukan karena saya bisa merapikannya lebih baik sih. Saya sedih saja. Mamah saja sadar bahwa saya gak punya waktu buat membereskan kamar selama dua tahun terakhir ini, kenapa saya nggak? Ke mana aja saya selama ini? Where is the old me? Ke mana diri saya yang dulu selalu rajin membereskan kamar seminggu sekali?

Perlahan, saya mulai menyalahkan kantor saya karena membuat saya ‘beda’ dengan ‘saya yang dulu’.

Saya buka lemari pakaian saya dan semua baju dan celana tertata rapi, tapi bukan seperti yang saya biasa lakukan. Pakaian di lemari ini seharusnya terbagi menjadi ‘baju buat di rumah’, ‘baju buat ke kantor’, ‘polo shirt’, dan ‘kemeja’, tidak asal ditumpuk rapi seperti ini.

Saya semakin kesal dengan kantor saya yang dulu. Sejauh ini kah mereka memisahkan saya dengan ‘saya yang dulu’? Kok saya jadi orang yang gak ‘bener’ begini?

I miss the old me

Terduduk saya di bibir kasur. Tak sengaja pandangan mata saya mendarat di tumpukan novel di rak buku paling atas di kamar ini. Saya tertegun, “Oh my God, sudah berapa lama saya nggak baca buku?” Saya ambil novel filsafat Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dari rak bagian atas dan mencoba mengingat kapan terakhir saya membaca novel yang tak kunjung selesai saya baca ini. Saya lupa. Yang jelas, saya ingat buku ini adalah pemberian dari mantan saya di ulang tahun saya yang ke-20 pada tahun 2010. Dia tahu benar kalau saya itu kutu buku…

4188756_4fe71c78-e96a-11e3-8b4e-c9ba2523fab8

Kutu buku…

KUTU BUKU!

Saya yang dulu adalah kutu buku. Dan saya melupakannya selama dua tahun terakhir ini.

Saya keluar dari kamar dan duduk menghadap si Papah dan si Mamah. “Pah, kapan Papah terakhir liat Aa baca buku?”

Kening Papah mengernyit, “Perasaan udah lama banget gak liat Aa baca atau beli buku.”

Exactly,” ujar saya senang, “Selama bulan November nanti, Aa gak mau kerja dulu. Pengen baca buku sebanyak-banyaknya.”

“Oh, ya sok aja. Papah mah nggak maksa kamu harus langsung kerja lagi kok,” ujar Papah.

Sejak saat itu, saya berusaha menjadi saya yang dulu lagi. Hari pertama Gelombang-nya Dee Lestari terbit, saya langsung berburu ke toko buku dan membacanya dengan menggebu-gebu. It feels good to start becoming a book worm again.

Mungkin saya sekarang terdengar seperti Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta? yang salah satu perkataannya saya kutip di awal postingan ini: menyalahkan seseorang (atau sesuatu) atas perubahan besar yang dialaminya. Atas semua ke-chaos-an dalam hidupnya. Mungkin untuk beberapa orang, melimpahkan kesalahan yang mereka lakukan sendiri bisa membuat dirinya lebih nyaman. Tapi, mau sampai kapan seperti itu?

Alangkah baiknya kita memaklumi perkataan kasar Cinta kepada Rangga—mengingat Cinta pada saat itu masih berusia sekitar 16 atau 17 tahun. Malu rasanya jika saya, yang sudah menginjak usia di angka 24 ini, masih bersikap seperti Cinta. But, then again, age is just a number. Digit angka usia kamu nggak selalu berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan kamu.

Saya sekarang sudah menjadi ‘orang yang beda’ atau mungkin ‘orang yang gak bener’ juga, tapi setidaknya saya punya pilihan untuk menyelamatkan separuh dari saya yang ‘dulu’ yang masih bisa saya pertahankan. Saya akan summon kutu buku dalam diri saya dan membiarkannya beradaptasi perlahan dengan diri saya yang ‘beda’ dan (mungkin) ‘gak bener’ ini.

tumblr_li5lvec76j1qa0n3uo1_500

(Gambar dipinjam dari sini, sini, dan sini)