Sepuluh Tahun Lalu, Saya Mencontek Saat UN

bad_genius_4guide_web__large
Salah satu adegan dalam film Bad Genius (2017)

 

“Cewek super pintar yang membagikan kunci jawaban saat ujian kepada teman-teman sekelasnya? Wah, wajib nonton ini!”

 

Itu komentar pertama saya ketika pertama kali membaca sinopsis film Bad Genius sekitar setahun yang lalu dari Internet. Bad Genius (2017) adalah film Thailand besutan Nattawut Poonpiriya yang menceritakan tentang seorang siswi jenius bernama Lynn (Chutimon Cheungcharoensukying) yang menjadi pemberi suplai jawaban-jawaban ujian di sekolahnya. Awalnya, Lynn hanya berusaha menolong Grace (Eisaya Hosuwan), salah satu teman dekatnya, untuk bisa lulus dari ujian mata pelajaran Matematika. Namun, Grace menceritakan pertolongan Lynn tersebut kepada Pat (Teeradon Supapunpinyo)—pacarnya yang juga teman satu kelas mereka. Pat yang punya privilage lahir dari keluarga kaya raya ini akhirnya meminta pertolongan Lynn untuk disuplai kunci jawaban dan berjanji akan membayar sejumlah uang yang nilainya besar. Pat dan Grace memang bukan tipikal pasangan yang pintar secara akademis, namun mereka berotak encer untuk membisniskan kunci jawaban dari Lynn—tentunya atas persetujuan dari Lynn. Semakin banyak murid yang tertarik untuk mendapatkan kunci jawaban, semakin banyak jumlah uang yang akan diterima oleh Lynn.

 

Berbeda dari Pat, Lynn ini datang dari keluarga broken home dan pekerjaan ayahnya hanyalah seorang guru di sekolah pinggiran. Makanya, ketika ada kesempatan untuk mendapatkan uang banyak dengan kedok les piano, Lynn akhirnya menerima ajakan ‘bisnis’ dari Pat dan Grace. Plot pun semakin menarik dan menegangkan ketika Lynn harus bersaing dengan Bank (Chanon Santinatornkul)—cowok jenius yang bisa mengimbangi kepintaran Lynn dan juga dari keluarga kurang mampu—untuk mendapatkan beasiswa di Singapura, namun mau tidak mau harus bekerja sama dengan Bank untuk ‘menaklukan’ STIC—tes setara SAT untuk bisa diterima di universitas di Amerika Serikat—di Australia dan memberikan suplai kunci jawaban kepada para kliennya.

 

Bad Genius ini dengan mudah relate dengan kehidupan saya saat SMA dulu. Melihat adegan Lynn yang ingin menolong ayahnya mendapatkan uang tambahan dan adegan Bank yang ingin membeli mesin cuci baru untuk bisnis laundry kecil-kecilan ibunya membuat saya bernostalgia ketika keadaan ekonomi keluarga saya kurang stabil dulu. Saking kurang stabilnya, saya dulu berpikiran untuk nggak meneruskan kuliah karena nggak mau merepotkan kedua orang tua saya. Namun, beliau-beliau ini bersikeras bahwa mereka mempunyai tabungan untuk menyekolahkan saya ke jenjang Strata 1 dan meminta saya untuk lebih concern ke UN dan SNMPTN. Jadi, walaupun saya nggak akan pernah bisa relate dengan kejeniusan Lynn dan Bank, at least saya bisa relate dengan keadaan ekonomi keluarga mereka LOL.

 

Satu hal lagi yang membuat saya mudah relate dengan Bad Genius adalah para murid di film ini bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini dan berkomentar, “Eh, saya nggak pernah nyontek ya tiap ujian dulu!” Well, honey, congrats! Mungkin kamu adalah salah seorang yang punya privilage—entah itu privilage ‘pintar dari sananya’ atau ‘pintar karena punya akses mudah untuk mendapatkan ilmu tambahan di luar sekolah’.

 

Faktanya, di Indonesia, nggak semua orang punya privilage yang sama—termasuk saya sendiri. Saya bukan murid yang ‘pintar dari sananya’; bukan pula murid yang pintar karena punya akses untuk membeli buku-buku penunjang di samping buku-buku yang diwajibkan di sekolah apalagi untuk les mahal agar bisa lulus UN dan SNMPTN dulu. Saya beneran hanya murid biasa-biasa saja yang mengandalkan buku seadanya dan teman-teman saya yang berbaik hati mau meminjamkan buku-buku dan latihan soal lesnya untuk saya fotokopi.

 

Untungnya, di kelas saya, para murid pintar di dua kategori yang saya sebutkan sebelumnya itu mau berbagi ilmunya (bahkan kunci jawaban!) agar kita semua lulus bareng-bareng. Saya pun noticed beberapa teman saya yang ‘pintar dari sananya’ yang notabene anti mencontek pun punya strategi untuk membagikan kunci jawaban dengan satu syarat: mereka hanya bersedia untuk membagikan tujuh belas kunci jawaban saja yang sudah pasti benar. Sisanya? Kerjain sendiri dong! :))

 

Ngomong-ngomong, mengapa hanya tujuh belas?

 

Karena, pada UN di masa saya, nilai minimal yang harus didapatkan siswa adalah 4,25. Setiap mata pelajaran berjumlah 40 soal. Jadi, untuk bisa lulus UN, kamu harus menjawab seenggaknya tujuh belas soal—nggak boleh kurang. Misalkan kamu mendapatkan nilai 4 untuk ujian Matematika dan nilai 10 untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, dan Biologi, kamu akan tetap dinyatakan nggak lulus karena ada satu mata pelajaran yang nilainya di bawah 4,25.

 

Ngeri ya sistem kelulusan menggunakan nilai UN zaman dulu?

 

Saya belum sempat cari tahu sistem kelulusan siswa sekolah selama sepuluh tahun ke belakang sih, namun pada Rabu, 11 Juli 2018 kemarin saya mencoba bertanya di Twitter tentang sistem kelulusan pada UN di tahun 2018 ini sistemnya sudah berubah! (Dalam hati ngedumel: enak amat ya~)

 

UN 1

 

UN 2

 

Okay, apakah postingan kali ini adalah sebuah endorsement untuk membenarkan ‘kultur’ mencotek saat ujian? Tentu saja nggak—walaupun saya dan teman-teman saya melakukannya saat UN dulu.

 

Lalu, apakah postingan kali ini adalah sebuah public service announcement untuk nggak mencontek? Bukan juga. Saya pribadi sih nggak melarang maupun nggak menganjurkan untuk mencontek; saya kembalikan lagi kepada diri kamu masing-masing.

 

Toh, nggak semua ujian bisa di-cheating-in (IS THIS EVEN A WORD, RANNA?!), kan?

 

P. S.: Untuk SNMPTN, saya nggak mencontek (dan saya yakin teman-teman saya pun begitu). Saya benar-benar mengandalkan kemampuan saya sendiri selama dua hari ujian tersebut. Eh, ternyata saya bisa sih lulus ke salah satu universitas negeri favorit di Bandung… ya walaupun nggak lulus untuk masuk ke universitas pada pilihan pertama saya yang sudah saya idam-idamkan sejak saya duduk di bangku SMP. Hm… mungkin ini karma karena saya mencontek saat UN?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s