Dua Putaran di Trek Lari

UA-IMG_0167

 

Bangun tidur. Duduk di atas kasur. Lirik jam dinding, jam setengah lima subuh. Sudah waktunya solat subuh. Iya, itu adzan subuh sedang berkumandang. Mau beranjak, malas. Ambil ponsel yang ada di sebelah bantal. Ada satu SMS dari Nica—Veronica nama lengkapnya. Temen deket di kampus. Isinya “Dion ganteng… gue nyontek tugas essay elo ya. Gue ke kampus jam sembilanan kok.”

 

Saya bales, “Eh, sori ya. Kagak gratis.”

 

Tak disangka, Nica (yang entah lagi begadang atau sudah bangun juga) langsung bales. “Dasar ublag! Iye tar gue traktir Pizza Hut deh!”

 

Saya berdiri, menatap cermin lumayan besar yang ada di samping jendela kamar. Ih, jelek amat sih. Itu komentar saya melihat pantulan bayangan saya sendiri. Ya… walaupun Nica sering bilang saya itu sebenernya ganteng—apalagi kalau ada maunya. Saya menyipitkan mata. Hm… satu jerawat di dahi, satu yang kecil di hidung, dan dua di pipi kanan. Bangke. Masa saya harus ganti pembersih muka lagi? Gak ada satu pun yang cocok.

 

Saya lihat rambut saya yang seperti bintang laut yang habis nabrak kaca toko. Eh, emang bintang laut punya rambut? Bodo’ amat. Pokoknya rambut saya menyeramkan. Saya jadi ragu. Suatu hari nanti, saya akan tidur berdua dengan orang yang saya sukai—yang saya cintai. Dan tiap hari pasangan saya bakal melihat wajah saya yang buruk rupa dan rambut bintang laut ini? Setelah malam pertama, dia pasti langsung menceraikan saya. 

 

Saya berpaling dari cermin, berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Orang-orang rumah belum ada yang bangun. Saya mengambil wudhu. Saya mendirikan salat. Saya berdoa seadanya. Maksudnya, yang kira-kira doanya bisa dikabulkan sama Tuhan. Kasihan Tuhan… tiap detik harus denger doa-doa yang dibarengi dengan keluhan-keluhan umatnya. Jadi, berhubung saya orang baik, saya berdoa yang ringan-ringan saja: “Saya ingin cinta saya terbalaskan.”

 

Saya ganti baju. Saya kenakan jaket dan sepatu olah raga saya. Gak usah dandan-dandan ganteng, orang mau lari-lari di trek lari doang. Entar juga keringetan. Eh, dandan dikit deh. Biar gak jelek-jelek amat. Kali aja doa saya pagi ini terkabul.

 

Saya sarapan roti dan minum susu—susunya yang bisa bikin badan ngebentuk. Heran deh saya sama badan saya sendiri. Kok susah banget ya dibentuk jadi six packs? Ya, itu… makanya saya rajin lari di Sabuga. Biar rata. Biar sehat juga sih.

 

Saya berangkat naik mobil saya. Jalanan lengang. Sinar matahari masih malu-malu nongol. Sampai di parkiran Sabuga. Saya keluar dari mobil. Ya iyalah, masa mau tidur lagi di dalem mobil? Terus saya kunci. Waduh, udaranya kok dingin banget, ya? Ah, masa bodo’. Lirik arloji, jam setengah tujuh pagi. Weleh, kok tumben stadion lumayan agak ramai. Gak asyik. Saya pasang earphone, naikan volume sampai maksimal. Saya shuffle playlist musik di iPod. Jeng-jeng-jeng.. lagu yang beruntung saya dengarkan pertama kali pagi ini adalah… 3 Diva, “Semua Jadi Satu.” Kurang banci apa coba saya pagi ini?

 

Saya bayar karcis masuk. Saya pemanasan kecil-kecilan di pinggir trek. Semua tumbuuuh.. jadi satuuu… sialan, sialan. Kenapa pemanasan pagi ini harus diiringi sama lagu ini? Dan kenapa ada lagu ini di iPod saya? Pasti kerjaannya si Nica.

 

Saya mulai berlari. Berlari. Merasakan hempasan udara dingin pagi ini. Kaki saya kesemutan dikit. Sesekali saya pejamkan mata sambil berlari. Sejuk.

 

Lalu saya melihat seorang laki-laki dan perempuan, berjalan santai. Tangan mereka bergandengan tangan. Si perempuan sesekali mengelap keringat si laki-laki. Si laki-laki menyibakan beberapa helai poni yang menutupi wajah si perempuan. Sepasang muda-mudi yang romantis di pagi ini… dan berhasil membuat saya iri setengah mati sekaligus ingin mendorong mereka berdua.

 

Lalu saya melihat seorang ayah, ibu, dan sepasang anak kembar—laki-laki dan perempuan—yang berusia sekitar tiga tahun. Mereka berdua lincah sekali, berlari-lari mengelilingi kedua orang tuanya sambil ketawa-ketiwi. Sang ayah mengangkat anak perempuannya tinggi-tinggi, sementara itu sang ibu menuntun anak laki-lakinya yang hampir terjatuh gara-gara kesandung. Lagi-lagi, saya iri—tanpa ingin mendorong mereka sekeluarga.

 

Okay, satu putaran. Tubuh saya mulai panas. Ketika akan menambah kecepatan lari, saya terhenti. Akhirnya, dia datang juga. Objek doa saya selama ini. Seperti biasa, topi Ripcurl warna biru, jaket Nike hitam, dan sepatu Adidas. Itu yang selalu dia kenakan setiap lari pagi di hari Senin—hari ini. Ia sekarang sedang meregangkan tubuhnya yang atletis. Lengannya… betisnya… dadanya…

 

Baiklah, konsentrasi pada trek. Lelaki itu bukan satu-satunya pengecualian saya untuk berolah raga.

 

Entah kenapa langkah kaki, hentakan musik, dan degup jantung saya tidak seirama. Saya gugup. Setiap melihat lelaki itu, rasanya seperti saat pertama kali melihatnya di sini, di trek lari ini, tiga bulan yang lalu. Aneh, padahal bukan tipe saya. Nica bahkan lebih tau yang seperti apa yang sreg di hati saya. Gak kayak si Topi Ripcurl itu. Namanya Jose. Yup, sangat telenovela. Dan ternyata dia anak fakultas sebelah di kampus saya. Dan satu angkatan sama saya. Gila gak tuh? Oh, dan semua info itu saya dapet dari Nica. Dia emang biang gosip.

 

Jose tiba-tiba berlari melewati saya. Oh, lihat tubuh tegapnya yang membuat semua cewek-cewek dan cowok (saya!) menoleh. Kata Nica (Nica lagi!), saya itu cuma kagum saja sama Jose. Tapi, jika saya kagum, kenapa saya selalu berdoa buat dia? Saya yakin saya jatuh cinta pada Jose. Dan saya ingin cinta saya terbalaskan. Walaupun absurd. Dan mustahil. Ya iyalah… dia bahkan gak tau nama saya. Atau bahkan gak tau kalau saya ada. Diam-diam merhatiin dia setiap Senin pagi.

 

Lalu saya melihat Jose yang dengan cepat sudah ada di seberang trek. Jauh. Tak terlihat. Tak tergapai. Saya memperlambat langkah saya, lalu tak sengaja melihat seorang kakek yang berlari-lari kecil di depan saya. Setiap langkah larinya bikin saya waswas. Kakinya nampak terlalu rapuh untuk berlari. Raut wajahnya datar. Tatapan matanya kosong. Dan beliau sendirian. Berlari.

 

Entah kenapa saya tiba-tiba membayangkan diri saya di masa tua nanti. Mungkin saat rambut saya memutih, saya masih sendirian. Tak berkeluarga. Tak punya pasangan. Perjaka tua. Dan masih berdoa agar Jose membalas cinta saya yang kasat mata ini?

 

Mendadak, saya merasa kesepian. Nica suatu hari nanti pasti menikah dengan seorang lelaki yang cinta mati padanya—baik secara natural atau diguna-guna oleh Nica. Terus? Saya? Masih berlari di trek ini berharap suatu hari nanti Jose menghampiri saya, lalu mengajak berkenalan? Tai.

 

Jose menyusul saya lagi. Kini saya sempat melihat punggungnya lagi. Cuma punggungnya. Ah, kapan saya melihat Jose dari depan tanpa perlu curi-curi pandang ala anak SMA jika sedang cinta monyet? Bedanya, cinta saya bukan cinta monyet. Cinta saya hanya perlu diutarakan agar ada.

 

Saya sudah nggak mood. Saya langsung keluar dari trek dan berjalan menuju parkiran mobil. Dan saya baru sadar, mana handuk kecil saya? Perasaan tadi masih menggantung di leher saya.

 

“Maaf, ini handuk kamu bukan?” tanya suara parau di belakang saya.

 

Saya menoleh dan kaget. Seorang lelaki bertopi RipCurl menyodorkan handuk kecil saya yang agak kotor. “Oh, iya. Ini punya saya. Thanks…”

 

“Pagi ini, kamu keliatan ngelamun terus. Gak kayak biasanya.”

 

Saya makin kaget. Degup jantung saya udah gak karuan. Saya gak berani ngeliat matanya langsung. Saya menunduk, makin menunduk, dan sampai pada perutnya, menunduk lagi, sampai di bawah perutnya. Argh! Tatap langsung wajahnya! Kapan lagi kamu ngobrol sama Jose dalam jarak sedekat ini?!

 

“Ya… saya… saya lagi mikirin sesuatu,” ujar saya dengan suara sedikit bergetar.

 

“Apa?”

 

“Saya… saya mikirin… gimana caranya saya bisa kenal kamu lebih jauh.” Anak setan! Ngomong apaan sih!?

 

Dan Jose sekonyong-konyong mengambil ponsel saya yang disimpan di saku jaket, lalu mengetikan nomor, lalu menelepon, lalu ponsel yang ada di celana Jose berdering. “Biar aku aja yang mengenal kamu lebih jauh. SMS saya kalau udah sampai rumah.”

 

Jose berjalan mundur sambil tersenyum, lalu berlari lagi di trek.

 

Sinar matahari akhirnya muncul tanpa malu-malu, menimpa saya yang berdiri mematung—dan sepertinya sebentar lagi mungkin meleleh. Saya masuk mobil. Diem sebentar. Nyalain mobil. Liat pantulan diri saya sendiri di kaca spion. Najis… jelek amat saya pagi ini! Ah, peduli setan. Yang penting, saya sudah dapet nomornya.

 

Untung tadi sempet dandan dikit, batin saya sambil senyam-senyum sendiri. Kemudian, mobil saya pun melaju. [ ]

 

Bandung, 21 Januari 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s