Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017

Hello, survivors.

 

Selamat datang di postingan paling subjektif di blog saya setiap tahunnya. Biasanya, saya akan menulis tentang buku-buku apa saja yang berhasil saya lahap dan target banyaknya buku yang akan saya baca di tahun 2018. TAPIIIII, karena resolusi baca bukunya hampir GAGAL TOTAL, jadi saya akan bahas musik, film, series, dan pengalaman-pengalaman yang berkesan di tahun 2017 kemarin. So, brace yourself.

 

Buku-buku yang Saya Baca di Tahun 2017

Dari target tujuh belas buku, tahun 2017 kemarin saya hanya membaca… empat. Payah banget memang LOL. Uniknya, keempat buku ini bukan buku yang saya beli. Apa aja sih bukunya? 

Processed with VSCO with a6 preset

  1. Confessions of a Shopaholic oleh Sophie Kinsella. Buku ini saya dapat dari Cori, teman Twitter saya yang kebetulan sedang membagikan buku-bukunya. Saya sudah lama ingin membaca buku dari Kinsella karena selain peer pressure (yup, peer pressure sesama pembaca buku), bukunya memang best seller dan diangkat pula ke layar lebar. Walaupun bukan tipikal buku yang saya baca, saya cukup enjoy mengikuti ceritanya sampai lembar terakhir.
  2. Orang-orang Bloomington oleh Budi Darma. Buku ini hadiah dari Yana dan Kachiew, dua dari beberapa sahabat dekat saya. Buku ini cukup familiar buat saya karena sering kali ketika saya membaca daftar buku-buku fiksi Indonesia terbaik yang pernah ditulis, biasanya ada Orang-orang Bloomington di sana. You should read this disturbingly fascinating book. Totally worth it.
  3. The Architecture of Love oleh Ika Natassa. Setelah membaca karya sastra yang lumayan ‘berat’ dari Budi Darma, saya memutuskan untuk membaca buku ini karena banyak yang bilang ceritanya ‘ringan’—dan ternyata memang benar. Sebagai seseorang yang sudah membaca hampir semua karya Ika Natassa, buku ini bisa dibilang buku yang paling rapi secara struktur. Oh iya, buku ini saya pinjam dari Sabai—salah satu sahabat saya.
  4. Karena Kita Tidak Kenal oleh Farida Susanty. Akhirnya kesampaian juga membaca buku dari penulis asal Bandung yang novel debutnya Dan Hujanpun Berhenti membuat ia mendapat penghargaan sebagai Penulis Muda Berbakat di Khatulistiwa Literary Awards. Karena Kita Tidak Kenal ini (saya dapat buku ini dari Cori juga, btw) merupakan kumpulan cerita pendek dengan satu tema: orang asing—orang yang tidak kita kenal. Beberapa cerpennya stand out di antara cerpen lainnya, terutama Culik yang ternyata menceritakan tentang Stockholm Syndrome.

 

Musik Yang Saya Dengar di Tahun 2017

Thanks to Spotify. Karena aplikasi music streaming ini, saya makin banyak mengeksplor musik yang kayaknya agak mustahil saya dengarkan berkali-kali sepanjang tahun 2017. Berikut adalah nama-nama musisi yang menemani saya di perjalanan, di kantor, atau bahkan di kamar:

  1. SZA. Selain di-endorse habis-habisan oleh Kendrick Lamar, SZA ini memang angin 170525-SZA-IG-800x600 segar untuk para pecinta musik R&B. Saya pertama kali tahu penyanyi ini dari album ANTI-nya Rihanna, tapi suaranya nggak terdengar terlalu istimewa. Tapi, setelah debut albumnya rilis dan Love Galore menjadi lagu ‘jagoan’ dari album ini, WHOAAAAA this girl is amazing. Saya harap SZA bisa menang di Grammy Awards tahun ini di kategori Best New Artist. Lagu rekomendasi: Love Galore, Drew Barrymore, Normal Girl, Prom, dan The Weekend.
  2. Barbara Lewis. Namanya sama sekali nggak familiar ya? Memang, karena beliau 1960s-barbara-lewis-good-80adalah penyanyi yang sempat populer di tahun ‘60an. Gara-gara salah satu lagunya ada di salah satu adegan yang paling memorable di Moonlight, saya langsung cari di Spotify dan dapat! Dan perlahan saya mulai mendengarkan lagu-lagunya yang lain dan saya amazed karena saya bisa menikmati nada-nada khas tahun ‘60an. Lagu rekomendasi: Hello Stranger, Baby I’m Yours (OST. Baby Driver), Love Makes The World Go ‘Round, dan Workin’ On A Groovy Thing.
  3. Lana Del Rey. Tentu saja mbak yang satu ini masuk ke dalam daftar. Dengan artist-17105rilisnya album Lust For Life, Lana menepati janjinya untuk merilis materi yang less suicidal. Single utamanya yang berjudul Love bercerita tentang muda-mudi yang sedang madly in love dan videoklipnya stunning sekali—alih-alih bikin stres, justru malah membuat kita rileks. Lagu rekomendasi: Love, Groupie Love, God Bless America and All The Beautiful Women in It, Cherry, dan Tomorrow Never Came.
  4. Jens Lekman. Setelah hiatus selama lima tahun, akhirnya masnya rilis album lagi jens-lekman-dublin-2017 *sobs gratefully*. To be honest, it always takes time to enjoy his album. Untuk yang menggemari Jens dari era album Night Falls Over Kortedala (2007), pasti mengalami masa-masa adaptasi musiknya Jens saat ia merilis I Know What Love Isn’t (2012). Yang saya senang, Jens Lekman masih punya suara dan sentuhannya yang khas di setiap albumnya. Ibarat atap, suaranya teduh—meneduhkan. Lagu rekomendasi: Hotwire the Ferris Wheel, What’s The Perfume That You Wear, To Know Your Mission, How Can I Tell Him, dan Dandelion Seed.
  5. Wanna One. Tadinya saya mau memasukkan Red Velvet ke daftar ini. Tapi, beberapa hari terakhir di tahun 2017 kemarin, saya iseng nonton salah satu variety show yang mana bintang tamunya adalah Wanna One—boy group yang dibentuk dari acara survival show Produce 101 Season 2. They are ridiculously attractive, but, thank God, they are more than just pretty faces—they are talented too. Saya coba mendengarkan album debutnya dan saya suka! Lagu rekomendasi: Energetic, Burn It Up, Beautiful, Wanna, dan Nothing Without YouWanna-One

 

TV Series dan Film yang Saya Tonton di Tahun 2017

Saya gabungkan TV Series dengan film karena saya nggak banyak menonton sepanjang tahun 2017 ini (I blame it to Ragnarok Gravindo). Untuk TV Series, saya masih mengikuti How To Get Away With Murder (Season 4) karena plotnya makin menarik. Begitu pula dengan Scandal (Season 7) yang akan tamat di tahun 2018, Olivia Pope akhirnya berhasil menguasai White House dan musuh besarnya sekarang adalah justru dirinya sendiri. Oh, dan Black Mirror (season 4)! Cerita-cerita di season terbarunya ini memang nggak se-mindfuck season-season sebelumnya, tapi tetap bikin begidik dengan tema distopia-nya. Adapun salah satu series yang bikin begidik yang saya tonton tahun 2017 kemarin adalah The Handmaid’s Tale—tentang bagaimana jadinya ketika suatu negara dikuasai oleh religious extremist (ring a bell? That is why this series is disturbing but amazing at the same time).

 

Untuk film, saya rasa kita semua setuju bahwa tahun 2017 ini milik La La Land (walaupun nggak menang di Oscar kemarin ya). Yang mindblowing dari film ini, menurut saya, bukan plotnya, melainkan eksekusinya. Kalau suatu hari saya ketemu Damien Chazelle, saya mau sungkem deh. Asli.

rs-la-la-land-3d3a431a-8329-4539-b953-51e2d61a396c

 

Bagaimana dengan film Indonesia? Well, saya gak banyak nonton film Indonesia juga sih. Tapi, saya bersyukur sekali sempat nonton Posesif dan Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Dua-duanya sama punya daya tarik tersendiri dan ikonik dalam genrenya. Posesif ini padahal cerita sehari-hari, tapi bisa dibikin sedemikian rupa jadi cerita yang istimewa dan mencekam. Sementara itu, Marlina ini saking bagusnya saya suka bingung kalau ditanya “Iya, bagus apanya?” dan saya cuma bisa jawab, “Pokoknya bagus aja. Nonton gih!”.

 

Kembali Ke Rune Midgard

Kalau kamu tahu di mana Rune Midgard berada, mungkin dulu kita sama-sama anak nongkrong warnet LOL. Dulu di tahun 2005, salah satu masa-masa perkenalan saya dengan Internet adalah dengan bermain online game Ragnarok Online (Rune Midgard adalah nama ‘negara’ di gamenya, btw) yang sangat populer saat itu. Tapi, yaaa namanya juga masih cupu ya, saya mainnya masih ngasal gitu jadi cuma rajin main sekitar dua-tiga bulan saja.

 

Awal-awal tahun 2017 kemarin, saya memang punya resolusi untuk menjadi gamer lagi dan entah kenapa saya ingin coba main Ragnarok Online (lagi). Kebetulan, game ini baru dirilis ulang sehingga permainannya kembali ke klasik—yang artinya, tepat terakhir kalinya saya bermain Ragnarok Online dua belas tahun lalu. Bisa dibilang, saya main cukup serius dan banyak membaca referensi. Bahkan, saya nggak sengaja diundang ke salah satu guild (semacam grup di dalam Ragnarok Online) dan mereka bahkan punya WhatsApp Group untuk saling komunikasi. Saya dibantu untuk nge-build char (sebutan karakter game yang saya mainkan) karena sebagian besar di grup tersebut adalah pemain veteran. Dan, yang paling saya nggak sangka, saya bisa ketemu dengan sebagian besar dari mereka di dunia nyata *terharu*.

Processed with VSCO with hb1 preset

 

Whoa, baiklah postingan ini sudah kepanjangan. Terima kasih buat kamu yang membaca postingan ini dari awal. Saya ingin kamu menjadi saksi resolusi saya (lagi) LOL. Nggak muluk-muluk sih, saya cuma pengen lebih bisa bagi waktu untuk membaca buku lebih banyak, menonton TV series dan film lebih banyak, mengeksplor musik-musik lebih banyak, dan bermain game lebih banyak. Karena, tujuan utama blog ini ditulis kan memang untuk menuliskan pengalaman-pengalaman saya dengan hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya itu.

 

Semoga di tahun 2018 ini, mimpi-mimpi yang belum terwujud di tahun-tahun sebelumnya bisa kesampaian ya. Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.