Mata Rantai yang Harus Diputus

Posesif - 1

 

Naif.

Kata itu yang biasanya muncul setiap saya membaca atau mendengar kata ‘posesif’. Bukan, bukan ‘naif’ adjektiva, melainkan grup band yang melejit dengan lagu berjudul ‘Posesif’ di awal tahun 2000an. Kalau kamu dulu anak nongkrong MTV, video musik yang dibintangi oleh Alm. Avi—salah satu anggota Silver Boys—ini sangat ikonik. Lagunya enak, walaupun dulu saya sama sekali nggak paham dengan kata ‘posesif’ itu sendiri. Yang saya hapal dari lagu itu ya bagian, “Mengapa aku begini, jangan kau mempertanyakan” dan “Bilaku mati, kaujuga mati. Walau tak ada cinta sehidup semati”.

 

[  ]

 

Tahun 2012, mantan saya (yang pada saat itu pacar saya) dengan tegas meminta saya untuk ngga ketemuan dengan teman-teman dekat saya. Saat itu hubungan kami baru jalan dua bulan dan menjalani LDR, dan itu adalah momen pertama ia melarang saya. “Mending kamu pake waktunya buat istirahat daripada ketemuan sama mereka,” ujar dia. Dahi saya mengernyit. Awalnya (dan begonya), saya kira ia cemburu dan perhatian—ini pertama kalinya dia menunjukkan emosinya secara terang-terangan kepada saya, dan tentunya saya somehow senang.

Well, perkara larang-melarang ini nggak berlangsung lama karena mungkin dia pun sadar apa yang dia lakuin percuma (toh kita LDR!), dan saya nggak pernah larang-larang dia pula untuk ketemuan dengan siapapun dan di manapun. Di poin ini, saya belum ngeuh bahwa dia punya bibit-bibit posesif.

Saya sudah lupa detailnya bagaimana, namun saya ingat bahwa dalam hubungan kami, ia cenderung bersifat dominan alias ngatur-ngatur dan punya hak lebih dibandingkan dengan saya. What I mean about hak lebih is dia berhak marah sama saya kalau saya melakukan kesalahan, tapi saya NGGAK BERHAK marah kalau posisinya terbalik. Di poin ini, saya mulai mikir, “Hm, yang kayak gini masih sehat buat dilanjutin nggak sih?”

Usia saya belum genap 22, dan ia pacar kedua saya. Saya belum tahu benar bagaimana caranya menjadi pasangan yang baik. Yang jadi pegangan saya dulu: terima dia apa adanya, baik dan buruknya. Apa dia baik? Tentu. Kalau ngga, mana mau saya pacaran sama dia. Dia berhasil buat saya nyaman. Apa dia buruk? Nah, hal-hal buruk dia ini yang baru mulai terkelupas satu per satu selama saya berpacaran dengan dia.

Seperti yang sudah diduga, hubungan antara kita berdua memang sudah nggak sehat. Dimulai dari saya yang secara halus mengalami psychological abuse dari dia (dia ngata-ngatain saya—sampai menyumpahi saya yang nggak-nggak), sampai dia yang secara nggak sengaja membongkar kebohongan-kebohongan dia sendiri.

Hubungannya gak lama. Putusnya drama. Traumanya sampai sekarang.

 

[ ]

 

Dan perasaan deg-degan cenderung kearah ketakutan ini saya rasakan kembali ketika saya menonton film ‘Posesif’ minggu lalu. Padahal, dari sinopsis dan trailer-nya, saya sudah tahu kalau film ini bukan film teen flick ala-ala FTV, tetapi tetap saja mood saya naik-turun seperti naik rollercoaster sepanjang menonton film arahan Edwin ini. Di satu scene, saya bisa mengerti dengan keluguan Lala—tokoh utama cewek di film ‘Posesif’—menghadapi cinta pertamanya. Di scene lain, saya kaget dan takut sendiri ketika ternyata saya pernah ngelakuin apa yang Yudhis—tokoh utama cowok di film tersebut (hanya beberapa hal kecil sih, but, still, saya ngga habis pikir bisa/pernah ada di posisi Yudhis)—perbuat ke Lala.

Saya hanya mengalami sebagian kecil apa yang Lala alami sebagai ‘korban’; dan saya pun hanya melakukan sebagian kecil apa yang Yudhis lakukan sebagai ‘pelaku’. Makanya, film ‘Posesif’ ini bikin perasaan saya campur aduk dan mikir ke sana-ke mari. Ternyata, selama ini saya bukan hanya hampir jadi ‘korban’, melainkan hampir jadi ‘pelaku’ juga—dan rasanya nggak enak.

Menyadari pernah ada di posisi Yudhis (walaupun hanya dalam skala kecil) membuat saya berpikir: apa saya secara nggak sadar ngelakuin hal ini karena saya merupakan korban ke-posesif-an seseorang di masa lalu? Sejauh ini rasa-rasanya yang sering dibahas di Twitter adalah bagaimana cara kamu lepas dari pacar kamu yang posesif, namun nampaknya saya belum sempat lihat/baca ada yang membahas apakah ke-posesif-an ini ada kecenderungan untuk ‘ditularkan’ dan apabila jika benar bisa, bagaimana cara memutus mata rantainya?

Jika kamu yang sedang membaca tulisan saya ini punya referensi yang keabsahannya bisa dipertanggungjawabkan, sila berbagi di kolom komentar. Saya akan dengan senang hati meluangkan waktu saya untuk membacanya.

At the end of the day, semuanya kembali lagi pada pepatah tua ‘Yang berlebihan itu nggak baik’. Berlebihan dalam mencintai seseorang, membenci sesuatu, atau memakan makanan kesukaanmu. Segala sesuatu memang terasa lebih pas dan indah jika sesuai porsinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s