Monster Under My Bed

Pukul 23.45          

 

“Lima belas menit lagi… dan semuanya akan kuakhiri. Semua mimpi dan kenyataan buruk ini,” desis lelaki berbadan tegap yang terlihat layu dan acak-acakan itu. Ia tersenyum kecut menatap refleksinya sendiri di sebilah pisau satu-satunya yang ia miliki di dapur rumah yang ia tinggali sedari kecil tersebut.

 

***

 

Beberapa hari yang lalu…

Aku terbangun dengan keringat dingin sebelum alarm dari ponselku berbunyi pagi ini—sebuah prestasi. Apartemen mungil yang baru kutinggali selama dua minggu ini padahal nyaman betul, tetapi tiap gelapnya malam datang tetap saja membuat aku sedikit kalut. Ini semua karena dongeng yang Mama pernah ceritakan kepadaku saat aku berumur tiga tahun—yang sebenarnya keabsahan faktanya tidak masuk akal, tetapi entah mengapa dongeng itu begitu lekat menempel di sudut-sudut otak. 

Malam itu merupakan pertama kalinya aku harus tidur di sendiri di kamar tidur baruku. Alih-alih membuatku merasa aman, Mama justru malah menceritakan dongeng yang membuatku tiap malam membuatku selalu awas. Mama bilang di setiap kamar anak kecil selalu hidup seekor monster menyeramkan di bawah ranjang. Dia akan keluar setiap pukul dua belas malam. Bagian yang paling menyeramkan adalah bila pada pukul dua belas si anak kecil di kamar itu belum tidur, monster itu akan muncul dari bawah ranjang yang gelap nan lembap dan memakan anak kecil itu sampai tak bersisa. Waktu itu aku bertanya bagaimana nasibku bila aku terbangun pada pukul dua atau tiga malam. Mama menjawab bahwa monster itu hanya akan keluar dari sarangnya ketika tengah malam saja, untuk memeriksa anak kecil di kamar itu sudah tidur apa belum. Jika ternyata sudah, ia akan kembali ke bawah ranjang—tak akan keluar lagi sampai pukul dua belas keesokan harinya.

Saat itu, aku terlalu penurut dan percaya dengan dongeng konyol itu. Namun, sepertinya dongeng itu memang nyata. Umurku lima belas dan aku terlalu penasaran dengan keberadaan monster di bawah ranjangku itu apakah fakta atau hanya fiktif belaka. Terjagalah diriku menjelang tengah malam… sampai akhirnya pada pukul 23.57, aku mendengar suara geraman serupa serigala yang aku perkirakan dari bawah ranjangku. Aku ketakutan—saking takutnya aku bahkan hampir kencing di celana. Langsung aku bersembunyi di balik selimut dan memanfaatkan tiga menit yang tersisa untuk tidur—dan aku berhasil lolos dari maut.

Semenjak kejadian itu, aku masih percaya dengan dongeng Mama yang entah bersumber dari mana itu. Umurku sekarang 27 dan sudah tak perlu tidur di ranjang kamar yang di bawahnya tertidur seekor monster pemakan anak kecil lagi, karena aku sudah dewasa dan punya apartemen sendiri. Namun, tetap saja aku tak pernah berani untuk tetap terjaga sampai tengah malam, dan aku terlalu malu untuk memertanyakan kebenaran dongeng Monster itu kepada Mama yang sekarang sudah beruban dan mungkin lupa pernah menceritakan itu. Aku bertanya kepada Ana, kakakku, apakah ia pernah diceritakan dongeng aneh itu oleh Mama—dan jawabannya adalah: tidak.

Mengapa Mama hanya menceritakan dongeng Monster itu kepadaku?

 

***

 

Malam ini, Obet—namanya Robert, ini panggilan sayangku—akan berkunjung ke apartemen baruku untuk merayakan kepindahanku secara kecil-kecilan. Kebetulan aku bisa memasak, jadi kami akan candle light dinner di atas meja makan apartemenku dan akan berakhir dengan bercinta di atas ranjangku.

I love your apartment, Hasief,” ujar Obet untuk yang kesekiankalinya seraya melihat ke sekeliling, lalu menyantap tenderloin yang aku masak spesial untuknya. “Oh, I love your tenderloin too.”

So, you rather love my apartment and tenderloin than me?” godaku.

Obet membersihkan mulutnya dengan sehelai tisu, mencondongkan tubuhnya yang atletis, lalu mencium pipi kiriku, “Aku sayang kamu. Masih perlu dipertanyakan?”

Inilah salah satu alasan mengapa aku ingin tinggal sendiri dengan membeli apartemen mungil yang dekat dari kantorku ini: agar punya quality time dengan lelaki yang sudah bersama denganku di saat senang dan susah sejak dua tahun yang lalu. Malam ini, pertama kalinya Obet menciumku saat makan malam. Hal ini tidak mungkin dilakukan di restoran mana pun di negara ini.

Oh, malam ini terlalu sempurna. Seperti yang sudah diprediksi, sehabis makan dan berdansa diiringi lagu-lagu jazz kesukaan kami, Obet membopongku ke atas ranjang dan kami bercinta selama berjam-jam.

“Aku ke toilet dulu, ya. Mau cuci muka,” ujarku.

“Cuci muka? Yakin gak akan dilanjutin, nih?” tantang Obet. Aku menanggapinya dengan tertawa ringan sambil berlalu ke kamar mandi. Oh, ini juga pertama kalinya aku berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun.

Selagi membersihkan wajah, aku sesekali melirik ke arah jendela yang menyajikan lanskap Bandung di malam hari yang indah dari ketinggian lantai 29. Malam yang indah… Malam? Pukul berapa sekarang? Tiba-tiba, aku mendengar teriakan dari arah kamar tidurku. Teriakan itu sayup-sayup karena kamar mandi ini dibuat kedap suara.

Buru-buru kubasuh wajahku dan berlari ke arah kamar tidur. Obet tidak ada. Kulirik jam dinding di atas ranjang yang menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 00.03. Apa mungkin Obet diam-diam pulang? Namun pakaian lengkap, dompet, dan ponselnya masih ada di sini. Tidak mungkin ia kabur. Aku tahu benar dia. Mendadak aku teringat dongeng Monster yang pernah Mama ceritakan. Aku panik. Aku menangis. Aku menjerit saat mendapati ada beberapa bekas cabikan di sprei ranjang. Aku singkirkan spreinya dan mencari-cari jikalau Obet sedang iseng dan bersembunyi di bawah ranjang—atau bersembunyi di dalam lemari pakaian. Hasilnya nihil. Obet lenyap. Obet tak pernah kembali. Obet menjadi santapan monster.

 

***

 

Hubunganku dengan Obet sama rahasianya dengan data-data penting yang dimiliki FBI—tak ada yang tahu. Saat keluarga Obet melaporkan hilangnya Obet ke pihak polisi, tak ada yang curiga bahwa malam terakhir ia terlihat ada di apartemenku. Aku bahkan sama sekali tidak dicurigai… karena memang tak ada yang tahu. Tak ada yang tahu pula bagaimana rasa sakit hati ini kehilangan seseorang yang kamu kira akan mendampingimu sampai waktu yang tak akan ditentukan itu hilang begitu saja tanpa kata-kata, tanpa firasat. Ia dilahap seekor monster biadab yang bahkan keberadaannya saja masih diragukan.

Pada detik itu juga, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan menanyakan kebenaran dongeng itu kepada Mama.

 

***

 

Pukul 23.57

 

Mama menggedor-gedor pintu kamar Hasief keras. “Buka, Hasief! Dongeng itu hanya rekaan Mama! Monster di bawah ranjang itu tidak pernah ada!”

“Monster itu ada, Ma!” teriak Hasief hampir menangis dari balik pintu kamar—semakin erat menggenggam sebilah pisau. “Aku pernah mendengar geramannya di kamar ini! Dan yang paling sadis… Monster itu sudah memakan temanku di apartemenku, Ma!”

“Siapa temanmu yang dimakan monster? Tidak mungkin! Monster itu tidak nyata! Kemarikan pisau dapur itu! Mau kauapakan?!” rayu Mama sambil menangis dan tak henti-henti mengetuk pintu dengan tangannya yang sudah keriput.

“Aku akan membunuh monster itu!!!”

“Monster yang Mama ceritakan saat itu adalah Papa kamu sendiri, Hasief! Dia adalah monster yang selalu pulang pukul dua belas malam sambil mabuk-mabukan dan pakaiannya wangi parfum perempuan lain. Setiap pulang, Papa selalu memukul Mama, dan Mama gak mau kamu mendengar dan melihatnya!” jerit Mama histeris, lalu terbatuk-batuk seperti kehabisan napas.

Itukah alasan utama perceraian Mama dan Papa lima belas tahun yang lalu itu?

TENG!

Pukul dua belas malam. Tubuh Hasief bergetar hebat sampai-sampai pisau yang ia pegang sedari tadi hampir jatuh. Ia dapat mendengar suara geraman yang tak kalah keras dengan teriakan sang Mama. Tetiba, ada dua buah tangan besar dan berbulu hitam lebat mencengkram dua pergelangan kaki Hasief yang terjuntai dari atas ranjang dan menariknya ke dalam bawah ranjang. Hasief berteriak ketakutan. Pisaunya jatuh terlempar ke sudut kamar.

Saat ditarik ke dalam ruangan serba gelap, ia sudah tak bisa merasakan kedua kakinya lagi…

Tak bisa mengeluarkan suara apapun lagi…

Tak bisa membuka matanya lagi…

 

3ea8b552e64e787c42adb0aec4ca48a8--childhood-memories--beds

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s