Books I’ve Read in 2016 and How To Read Them

 

cold1

 

Hello, 2016 survivors.

 

Mari kita hindari topik bagaimana tahun 2016 was such a bitch, karena toh saya yakin masih ada hal-hal menyenangkan di tahun 2016 yang bisa kita kristalkan untuk dikenang lagi. Iya nggak, sih?

 

Salah satu hal menyenangkan di tahun 2016 versi saya adalah saya masih bisa menyempatkan membaca buku fiksi. FYI, saya membuat resolusi 2016 untuk membaca buku fiksi sebanyak 15 buku di postingan ini, daaan… alhamdulillah, resolusinya tercapai!

 

Lima belas buku, bagi saya, adalah jumlah yang banyak. I mean, masih syukur bisa baca satu buku sampai tamat dan nggak tergesa-gesa dalam satu bulan. Lha ini apa kabar kalau 15 buku? Well, dengan beberapa taktik yang membuat saya tetap nyaman membaca fiksi, ternyata bisa juga saya memenuhi target pribadi saya.

 

Apa saja sih taktik sederhananya?

  1. Hindari baca buku di kamar atau di rumah. Menurut saya, distraksi di kamar/rumah itu nggak bisa kita hindari dan cukup mengganggu me time saya saat membaca buku. Kalau baca di kamar, apalagi di atas kasur yang kelewat posesif, pasti bawaannya pengen baca sambil tiduran dan ujung-ujungnya kita bakal ketiduran. Terus, mending baca di mana dong? Saya punya beberapa tempat favorit untuk baca di Bandung, salah satunya adalah Yogya Express Ciwalk. Berbeda dengan para kutu buku lain, saya tipikal yang nyaman membaca di tempat yang agak berisik. Terus, enaknya baca di sana, kamu bisa beli cemilan sambil nge-charge
  2. Baca buku yang kemungkinan besar bisa kamu nikmati. Just because the book is very popular doesn’t mean you’ll enjoy reading it. Biasakan untuk mengakses Goodreads sebelum membeli/meminjam dan kemudian membacanya. Jika review-nya kebanyakan positif dan sinopsisnya cukup menjanjikan, go for it!
  3. Buat target seberapa banyak halaman yang harus kamu baca setiap minggunya. Sebelum membaca buku, salah satu kebiasaan saya adalah melihat jumlah halamannya dan ukuran hurufnya (weird, huh?). Jika jumlah halamannya sedikit (di bawah 300 halaman) dan ukuran hurufnya cukup besar, saya biasa menargetkan untuk melahap bukunya kurang dari dua minggu. Saat weekdays, target halaman yang harus saya baca biasanya hanya 10 halaman. Sementara itu, saat weekendmostly Sabtu—target saya minimal 50 halaman. Awal saya menggunakan trik ini cukup bikin ngos-ngosan sih, karena saya jadi kurang enjoy membaca buku yang ada di genggaman saya. Tapi, setelah dibiasakan selama beberapa bulan, ternyata taktik ini paling jitu dan cocok dengan rutinitas saya sehari-hari.

 

By the way, here are the books I’ve read in 2016 (buku diurutkan dari buku pertama yang saya baca):

  1. 1984 oleh George Orwell
  2. And Then There Were None oleh Agatha Christie
  3. Singgah oleh Jia Effendi dan kawan-kawan
  4. The Mirror Crack’d from Side to Side oleh Agatha Christie
  5. Murder on the Orient Express oleh Agatha Christie
  6. Sabtu Bersama Bapak oleh Adhitya Mulya
  7. Inteligensi Embun Pagi oleh Dee
  8. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas oleh Eka Kurniawan
  9. The ABC Murder oleh Agatha Christie
  10. Aruna dan Lidahnya oleh Laksmi Pamuntjak
  11. Memento oleh Wulan Dewatra
  12. A Cat in My Eyes oleh Fahd Djibran
  13. Harry Potter and The Cursed Child oleh John Tiffany, Jack Thorne, & J. K. Rowling
  14. Milea: Suara Dari Dilan oleh Pidi Baiq
  15. Melihat Api Bekerja oleh Aan Mansyur

 

Ada dua buku sekuel (atau penutup?) yang sudah saya tunggu-tunggu dan akhirnya bisa saya baca tahun kemarin. Pertama, tentu saja Inteligensi Embun Pagi, buku pamungkas dari seri Supernova karangan Dee yang sudah saya ikuti semenjak tahun 2005. Sebagai penggemar, saya puas sekali membaca IEP karena semua misterinya terkuak. Kalau digambarkan dengan peribahasa Sunda sih “Asa bucat bisul” LOL. Dan, rasa tuntas ini juga saya rasakan ketika membaca Milea yang juga buku penutup kisah percintaan anak SMA antara Dilan dan Milea. Jujur, pada setengah buku pertama, Milea ini membosankan karena isinya didominasi oleh Dilan yang menceritakan kembali kenangan-kenangannya bersama Milea, namun dari sudut pandangnya. Setengah buku sisanya sampai halaman terakhir, perasaan saya dikuras habis karena akhirnya Pidi Baiq menceritakan kelanjutan kisah Dilan dan Milea yang sama-sama sudah dewasa dengan cara berpikir yang lebih matang—nggak seperti saat mereka masih duduk di bangku SMA.

 

 

Baiklah, saya tutup postingan kali ini dengan target buku yang harus saya baca di tahun ini: TUJUH BELAS! Sebenarnya, saya menargetkan untuk membaca 16 buku saja. Namun, salah satu teman saya menyarankan, “Kenapa gak 17 aja? Sekarang kan tahun 2017.” Like, seriously, how mind-fucking it is?!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s