Pertamax yang Pertama

504295_12493316032015_pertamax

 

Saya nggak bisa ingat di mana tepatnya saya mendengar atau membaca pertanyaan ini:

 

“Banyak orang bilang kalau waktu adalah uang. Kalau memang iya, kenapa mereka tetap kekeuh ngantre panjang untuk ngisi bensin Premium ketimbang Pertamax?”

 

Sekilas, mungkin kamu akan bereaksi, “Yaiyalah mending antre, kan Premium jauh lebih murah!” Oke, bagaimana kalau kita kembali ke pernyataan “Waktu adalah uang”, bisa jadi orang-orang yang memilih mengantre untuk Premium ini nggak melihat waktu sebagai uang—literally or figuratively.

 

Menurut analisis sotoy saya, perumpaan “waktu adalah uang” ini mungkin muncul karena sekelompok orang sepakat bahwa waktu, sesedikit apapun itu, jika dimanfaatkan sebaik-baiknya bisa menghasilkan uang. That, atau menghasilkan sesuatu yang bisa ditukar dengan uang yang sepadan nilainya.

 

Saya adalah termasuk orang yang pro dengan perumpaan “waktu adalah uang”, tetapi bukan berarti saya sepenuhnya setuju dengan perumpaan tersebut. Lha, terus gimana dong? Begini, nggak semua hal bisa dibeli dengan uang—salah satunya adalah waktu. Saya yakin Mark Zuckerberg atau bahkan Ratu Inggris yang tajir mampus sekalipun bahkan nggak bisa beli waktu yang sudah mereka habiskan untuk memasak mie instan sebanyak tiga menit. Heck, bahkan mustahil bagi mereka untuk membeli dua detik yang mereka lalui untuk bersin.

 

Maybe, just maybe, we could change it from “time is money” into “time is priceless”. Ya, karena memang waktu nggak bisa dinominalkan, bukan?

 

tumblr_nfcu0ofqEf1sn5j46o1_500

 

Hal-hal di atas itu yang lewat di kepala saya secara sekelebat tiga bulan lalu ketika saya baru saja membelokkan motor matic saya ke pom bensin langganan saya dan melihat antrean panjang (sekitar sepuluh motor) untuk bensin Premium di sebelah kiri. Saya melambatkan motor saya, lalu membelokkannya ke sebelah kanan—ke Jalur Khusus Pertamax. Saya hanya perlu menunggu satu motor saja untuk mengisi ulang bensin. Hari itu, untuk pertama kalinya, saya membeli bensin Pertamax tanpa keterpaksaan karena stok bensin Premium sudah habis—juga bukan karena saya sedang terburu-buru ke kantor dan nggak mau ngantre.

 

Uang bisa dicari (lagi), tapi waktu nggak akan pernah balik lagi.

 

Sumber gambar: dari sini dan sini

Advertisements

3 thoughts on “Pertamax yang Pertama

    1. But, seriously, aku gak pernah tau secara pastinya bedanya Premium, Pertamax, Pertamax Plus, or even Pertalite. Yang aku tau, semakin mahal bensinnya, semakin ramah buat kendaraan kita. Makanya, kadang kalau udah ngisi bensin Pertamax, suka ada sugesti, “Lho kok motor berasa lebih ringan ya? Coba kalau beban hidup juga bisa diringankan segampang ini…” Okay, not.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s