Seven Days on Tinder

tinder-600x338-e1439412008227

 

Sebelumnya, saya ingin meminta maaf karena bulan kemarin saya nggak sempat… atau lebih tepatnya terlalu malas untuk menulis sesuatu di blog ini. Jujur, semenjak blogpost yang terakhir itu (dan mendapat cukup banyak respon positif), saya jadi agak enggan untuk menuliskan hal-hal pribadi saya. Saya merasa bahwa dengan menuliskan atau memberi sudut pandang lain dari sebuah kasus yang sedang ramai diperbincangkan lebih bermanfaat untuk dibaca.

 

But, then, I remember that I am a self-centered bitch. So, I decided to write this LOL

 

Jumat, 3 Juni 2016, saya memberanikan diri untuk menginstal salah satu dating application yang paling terkenal di dunia: Tinder! Mungkin beberapa orang yang sedang membaca ini langsung berkomentar sambil memutar mata, “Yaelah bikin akun Tinder doang lebay banget sih.” Well, let me tell you this: nggak semua orang punya rasa percaya diri yang tinggi untuk ‘menjajakan’ dirinya di sebuah aplikasi kencan. Some people even have a bigger issue than just a self-esteem issue. Saya termasuk seseorang yang punya masalah kepercayaan diri itu dan isu lainnya yang membuat hidup saya cukup ambyar: trust issue.

 

Oh, shit. Not another trust issue thingy again…” CALM DOWN. I won’t talk about it in this blogpost. Saya akan menceritakan pengalaman saya menggunakan Tinder setelah sekian lama absen dari aplikasi tersebut.

 

bayo_introspective

 

KENAPA ABSEN?

April tahun kemarin saya menjalani hubungan yang cukup serius dengan seseorang dan berakhir dengan super drama pada Ramadan di tahun yang sama (sekitar bulan Juni atau Juli). Singkat cerita, semenjak saat itu saya nggak pernah tergilitik untuk cepat-cepat bergerilya lagi di dating application manapun. Kenapa? Pertama, cari pasangan baru itu bukan balapan—nggak perlulah terburu-buru. Kedua, saya banyak introspeksi diri setiap mengalami break up. Just because the person you were with wasn’t an honest person doesn’t it’s all the person’s fault. Bisa jadi saya yang memicu ketidakjujurannya ketika bersama saya.

 

Oleh karena itu, saya menghindari berkenalan dengan orang-orang baru dan salah satu caranya adalah dengan nggak bergabung di dating application manapun sampai Ramadan tahun ini. Kenapa? Karena Ramadan tahun kemarin adalah Ramadan terburuk yang pernah saya jalani. Bahkan, saat itu, saya bertanya-tanya, “Katanya Ramadan itu bulan penuh berkah. Kok ya berkah saya bentuknya harus senyelekit ini?” Daripada saya terus-menerus suudzhan, lebih baik saya buktikan di Ramadan tahun ini. Saya ingin membuktikan bahwa berkah Ramadan dari Tuhan pun masih ada untuk sang pendosa seperti saya. (serius amat bahasanya)

 

tinder

 

KENAPA TINDER?

Alasannya sederhana: saya masih bisa berbaik sangka dengan kebanyakan orang yang ada di Tinder. I mean, saya masih cukup percaya bahwa mereka benar-benar masih lajang dan memang mencari pasangan yang serius untuk diajak berkomitmen. By the way, kali ini, saya nggak menurunkan standar saya sama sekali. Bodo amat saya mau dibilang sok cakep whatsoever, but I have standards too for my future partner.

 

Fotonya gak jelas? Swipe left.

Fotonya cuma satu? Swipe left.

Profilnya kosong? Swipe left.

Profilnya nggak kosong tapi nggak menarik? Swipe left.

 

Kurang lebih seperti itu. Saya nggak mau nge-swipe right dengan alasan ‘kasian’ atau ‘mungkin anaknya asik kalau udah kenalan’ dan begitupun sebaliknya. Hell to the no.

 

KENAPA HANYA TUJUH HARI?

Saya suka angka ganjil dan, menurut saya, tujuh adalah angka yang paling representatif untuk menunjukan  ke-‘ganjil’-an saya. Alasan lainnya ialah terlalu lamanya saya absen dari perkencanan (is it even a word?) membuat saya jetlag. Setiap harinya, saya melakukan rutinitas baru seperti swipe kiri, swipe kanan, menyapa orang-orang yang match dengan saya, membalas orang-orang yang menyapa saya lebih dulu, scroll obrolan ke atas karena lupa dengan fakta-fakta orang yang sedang kamu coba kenali, dan lain-lain. These were very tiring. Oleh karena itu, tujuh hari di Tinder ini saya manfaatkan sebaik-baiknya. Kalau dapat yang cocok ya syukur; kalau nggak dapat ya nggak apa-apa—nothing to lose, tho’.

 

JADI, ADA YANG ‘NYANGKUT’ DARI TINDER?

Sejujurnya, dari sekian orang yang match di Tinder, yang akhirnya berlanjut chatting di WhatsApp dan LINE bisa dihitung oleh sebelah jemari tangan saya. Kurang, malah. Karena, saya hanya intens chat dengan satu orang saja—at least sampai blogpost ini diketik.

 

[   ]

 

I wish I could express how grateful I am through words in this year’s Ramadan. Bukan, bukan perihal sekarang sudah ada seseorang yang bisa diajak chat ngalor-ngidul dari pagi sampai malam lagi, melainkan langkah besar yang saya ambil tepat dua hari sebelum Ramadan dimulai. Saya mendapatkan rasa percaya diri saya lagi sedikit demi sedikit, and it feels sooo good. Bagaimana dengan trust issue? Nah, untuk yang ini sih masih butuh usaha yang lebih besar. Mungkin karena setiap tahunnya saya selalu bertemu dengan seseorang yang alih-alih mengurangi, mereka malah memperparah trust issue ini. Seriously, trust issue is no fun at all.

 

Selamat berpuasa!

 

 

Gambar dipinjam dari sini, sini, dan sini.

Unduh aplikasi Tinder di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Seven Days on Tinder

  1. Tinder itu sekarang berbayar gak sih? Maklum, Tinder baru ada setelah saya udah punya pacar (atau udah tunangan ya), jadi saya gak pernah main Tinder hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s