Where Have You Been, Ran?

Okay, ummm… mulai dari mana ya?

BTW, saya kaget lho ternyata terakhir kali saya menulis di blog ini adalah 2 Januari 2016. Kaget karena ternyata sudah selama itu saya terlalu sibuk (dan malas—terlalu malas) untuk menulis uneg-uneg tentang keseharian saya di sini. So, jadi saya sibuk apa saja beberapa bulan ke belakang ini?

 

6373689073860608

I became a radio announcer—the real one

Dulu ketika di Urban Radio Bandung, saya juga siaran sih. Tapi, bukan siaran seperti para penyiar kebanyakan yang setiap harinya minimal bercuap-cuap di depan mic selama tiga jam. Mungkin, lebih tepatnya saya ini dulu guest announcer—cuma siaran di konten-konten siaran tertentu saja sesuai dengan kepentingan onair.

Setelah resign dari Urban Radio Bandung pada Oktober 2014 dan terjun ke dunia kuliner, nggak pernah terlintas di pikiran saya bahwa saya akan bekerja (dan bersenang-senang) lagi di dunia kepenyiaran. Sampai pada suatu sore di penghujung Oktober 2015, Noei Ayabie—rekan kerja saya di radio terdahulu—tiba-tiba menghubungi saya dan menawari saya untuk siaran pagi di Paramuda Radio Bandung. Tentu saja awalnya saya ragu. I mean, saya sudah setahun penuh nggak bergaul dengan mic, mixer ruang siaran, lagu-lagu, spot-spot iklan, dan rasa-rasanya gaya siaran saya sudah perlu di-upgrade. Namun, Noei tetep kekeuh menyarankan saya untuk bertemu dulu dengan Pak Andre, salah satu petinggi di Paramuda Radio dan mengobrol santai. Siapa sangka, seminggu berikutnya saya sudah mulai siaran lagi dan tandem dengan Noei… DI ACARA PAGI. Betul, acara paling krusial di stasiun radio itu acara pagi dan malamnya. Tanggung jawabnya besar sekali karena most listeners, including clients, judge a radio station by its morning show.

Sayangnya, tepat tiga bulan kemudian, saya terpaksa harus berhenti dari dunia kepenyiaran karena ada kesempatan berkarir di tempat yang lebih menjanjikan dan jam kerjanya bentrok. Terpaksa, saya mengorbankan siaran.

 

I left culinary business

Semenjak awal Oktober 2015, sebulan sebelum saya mulai siaran di Paramuda Radio, saya baru saja pindah kerja ke salah satu restoran yang letaknya strategis di Jalan Cihampelas, Bandung. Mengandalkan ketertarikan saya kepada dunia media sosial, saya menjadi social media manager dan bertanggung jawab penuh atas semua media sosial di restoran tersebut.

Selama November dan Desember 2015, saya bekerja lebih dari sepuluh jam. Namun, anehnya, saya menikmatinya. Bayangkan, setiap Senin sampai Sabtu, saya bangun pukul setengah empat pagi dan berangkat siaran jam lima pagi. Kemudian, saya siaran dari pukul enam sampai sembilan pagi. Selanjutnya, saya masuk kerja di restoran dari pukul dua belas siang sampai delapan malam. Kerja rodi banget, memang. However, the money was good. He he he…

Sayangnya (lagi), semenjak awal Januari 2016, keadaan perusahaan yang labil membuat saya mau nggak mau untuk meninggalkan dunia kuliner ini. No more free food. Hiks.

 

I made another blog

Selama Februari 2016 kemarin, saya cukup ngeri dikejar-kejar deadline yang saya buat sendiri untuk selalu memutakhiri cerita bersambung dengan format surat-menyurat di suratsuratbiru.wordpress.com. Saya sengaja memulainya di bulan Februari agar bisa sekalian saya sertakan di proyek #30HariMenulisSuratCinta yang diadakan oleh @PosCinta. Well, saya banyak skip-nya sih LOL saya bahkan belum sempat menuliskan akhir cerita antara kedua tokoh utamanya.

Sedikit fakta tentang fiksi dalam balutan balas-membalas surat elektronik ini, tokoh-tokohnya sebenarnya saya ambil dari cerita bersambung saya delapan tahun lalu yang sempat saya publikasikan di Multiply dan Facebook Notes saya. FYI, saya mengalami writer’s block hebat pada tahun tersebut dikarenakan dunia perkuliahan yang baru saja saya mulai jalani. Akibatnya, ceritanya menggantung sampai detik ini. Oleh karena itu, semenjak awal tahun ini, saya berniat untuk bisa melanjutkan cerita antara Faren dan Vardan ini, walaupun ada gap sepanjang delapan tahun. Gilak, nulis fiksi susah, cuy.

 

So, where am I now?

Sekarang saya bekerja sebagai copywriter di salah satu clothing line ternama di Bandung yang concern di street wear. Jujur, saya sama sekali nggak menyangka kalau saya bisa nyemplung ke dunia fashion (or sometimes I annoy myself that I work in FASHION INDUSTRY) karena saya cukup buta dengan fashion. Namun, alhamdulillah, berkat doa orang tua dan orang-orang yang sayang kepada saya, semenjak awal Februari 2016 saya enjoy sekali bekerja di sini.

 

I realise that I love broadcasting world so effing much, but my first love since I was a kid is writing. Writing is always be my number one passion. Mungkin karena fakta yang hampir terlupakan oleh saya sendiri inilah yang membuat saya beradaptasi cukup cepat dengan bidang yang saya tekuni sekarang: fashion industry *giggling*.

 

Jadi, jika ada pertanyaan ‘Where have you been, Ran?’, dengan senang hati akan saya jawab, ‘Di Bandung, sibuk nulis. Rezekinya masih ada di kota ini’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s