Buat Apa?

“Buat apa itu teh?”

Pertanyaan di atas sering kali diucapkan oleh salah satu sahabat dekat saya. Panggil saja ia Kak Fikan (jomblo). Dan, sering kali pula saya terdiam ketika pertanyaan itu ditujukan kepada saya setelah saya menceritakan curahan hati saya, terutama yang berkaitan dengan problema romantika remaja tanggung masa kini.

spanish-word-for-what

“Nungguin mantan balik lagi ke Bandung. Buat apa?”

“Biar jelas lah kenapa dia dulu tetiba mutusin aku, Kak,” jawab saya enteng.

“Terus kalau udah tahu alasannya, buat apa?”

“Ng…”

“Pengen balikan lagi? Buat apa balikan lagi? Emang udah pasti dia mau jalan lagi sama kamu? Kalo iya, buat apa?”

[    ]

“Buat apa?”

Beberapa bulan terakhir ini, pertanyaan itu selalu otomatis muncul di kepala saya setiap saya akan memutuskan sesuatu—baik yang berkaitan dengan love life maupun yang non-love life. Well, sering kali pada love life sih. Saya sih yang selalu menanyakan pertanyaan maha daya itu kepada diri sendiri, tapi tetap saja somehow saya bisa mendengar suara Kak Fikan dan melihat ekspresi wajahnya sembari menanyakan hal itu.

Misalnya:

Si F lagi-lagi melakukan sesuatu hal yang membuat saya muak (lagi). Kesalnya, saya tahu bahwa cepat atau lambat saya akan memaafkan dia lagi.

Dan tetiba suara dan pertanyaan itu pun muncul: “Buat apa? Buat apa maafin dia?”

Saya sadar benar bahwa yang menanyakan hal itu adalah diri saya sendiri. Saya terdiam. Mencoba berpikir. Buat apa saya maafin dia? Untungnya buat saya apa? Apa dengan memaafkan dia, kehidupan saya akan jadi lebih baik?

Pada detik itu juga saya takut. Takut dengan seberapa besar saya takut kehilangan si F dalam hidup saya. Dia penyeimbang hidup saya (dulu). Membayangkan untuk nggak berbicara dengan dia saja bikin hati saya nggak karuan.

But, then, I realise something: no one is irreplaceable.

 

Setiap orang yang memberi pengaruh dalam hidup saya—baik bagus atau buruk—pasti tergantikan. Saya membicarakan hal ini di luar konteks keluarga ya. Karena, sering kali kita takut bahkan bersedih terhadap seseorang yang pernah datang ke kehidupan kita. Seharusnya kita ingat bahwa ketika seseorang datang, cepat atau lambat maupun besar atau kecil pengaruhnya terhadap hidup kita, pasti bakal pergi juga.

Apa kamu yang sedang membaca ini ingat betapa kacaunya hidup kamu karena nggak bisa membayangkan hidup tanpa mantan kamu, tetapi sekarang justru kamu bahkan sudah lupa mantan mana yang pernah kamu tangisi? Selamat, kamu sudah move on dan mengerti konsep no one is irresplaceable.

Begitupun saya. Pertama kalinya dalam hidup saya memohon-mohon seseorang untuk nggak meninggalkan saya adalah Oktober 2014 kemarin kepada si F. Saya takut hidup saya kacau lagi. Saya takut saya harus mengulang fase move on saya yang bisa memakan waktu tahunan seperti dulu. Saya takut dia tak bisa tergantikan. Dan, saya rasa kita semua tahu bahwa ‘ketergantungan’ kepada seseorang seperti ini justru nggak sehat buat saya.

Mungkin itu yang ingin si F sampaikan kepada saya dulu untuk mencari orang lain—untuk menggantikan posisi dia dalam hidup saya sebagai penyeimbang hidup saya. Sebagai penanda bahwa saya akhirnya bisa completely moved on dari mantan terakhir saya. Sebagai penjaga kewarasan saya yang berusaha mulai percaya dengan orang-orang di sekitar saya lagi.

[    ]

“Buat apa?”

Lagi-lagi pertanyaan itu muncul ketika seseorang dalam salah satu dating application menanyakan ID LINE saya. Hm… buat apa saya kasih ID LINE saya kepada orang yang masih sangat asing dalam hidup saya?

Saya nggak menjawab pertanyaan itu; saya memberikan ID LINE saya begitu saja..

Dan, pada saat itu juga, saya dan orang asing ini tidak pernah berhenti berkomunikasi dalam jeda waktu yang terlalu lama. Selalu berusaha mencuri-curi waktu di tengah kesibukan yang memburu. Mencari-cari celah kesempatan sekedar untuk berpegangan tangan—atau satu kecupan di kening untuk bekal anti-rindu sampai pertemuan selanjutnya. Perlahan, titel ‘orang asing’ pun saya cabut dari seseorang ini.

Buat apa saya tuliskan ini? Agar kamu, yang sedang membaca ini, bisa melihat bahwa moving on bukan mitos.

Gambar dipinjam dari sini

Advertisements