“Sombong Lo! Ke Mana Aja?”

1345668307872_8502720

“Ya ampun, lo ke mana aja sih? Sombong bangeeet!”

Apa reaksi kamu ketika ada seorang teman lama yang tetiba ngomong begitu?

  1. Iya ih maafin! Kamu apa kabar?
  2. Iiiih lo tuh yang ke mana aja? Sombooong.
  3. Sori… Lo siapa ya?
  4. Booook harga cabe udah naek aja lagi deh. Kesel! (mengalihkan topik sambil muter mata)

Saya yakin bukan saya saja yang pernah dibilang ‘sombong’ karena gak pernah ngabarin orang (teman lama?) seperti itu. Kadang suka bingung kalau mau nanggepin pernyataan kayak begitu. Well, lebih tepatnya heran aja sih. Heran karena:

  1. Kenapa saya harus ngabarin kamu?
  2. Kenapa saya sekonyong-konyong dibilang sombong?
  3. Kenapa gak kamu duluan yang ngabarin saya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, kata ‘sombong’ didefinisikan sebagai ‘menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah’. Jadi, saya rasa perkara saya nggak memberi kabar soal diri saya ke kamu ya bukan karena saya sombong. Selebihnya, jika hampir semua orang melakukan dan berpikiran hal yang sama dengan saya untuk menanggapi seseorang (ataupun teman kita) yang melabeli kita sebagai orang yang sombong hanya karena sudah lama nggak ada kabar, berarti seluruh dunia diisi dengan orang-orang yang congkak dan pongah, begitu? *menghela napas panjang*

Saya pernah beberapa kali membahas hal ini dengan teman dekat saya dan tanggapan dia, “Ah, itu kan memang cara orang-orang Indonesia kebanyakan buat memulai pembicaraan dengan teman atau saudara yang sudah lama tak saling berkabar”. Exactly, dengan kata lain, ‘membebani’ seseorang sebagai ‘orang sombong’ merupakan basa-basi umum yang seharusnya nggak terlalu diambil serius. Well, saya mungkin rewel karena basa-basi ini sudah seharusnya nggak digunakan buat orang-orang yang dididik secara baik secara formal maupun informal. Heck, bahkan orang-orang yang gak pernah sekolah pun—kalau orang tuanya tahu benar bagaimana caranya untuk memulai percakapan dengan teman lama—bisa melakukannya dengan baik dan sopan.

I might be socially awkward. Yes, often times it’s difficult for me to start a conversation, especially with the stranger ones. However, It’s easier to make a conversation with the ones we already knew in the past, I guess. Dan, gak perlu dimulai dengan “Sombong lo. Ke mana aja?”—walaupun itu diucapkan dengan senyum sumringah dan nada bicara penuh kebahagiaan. Misalnya:

  • Hey, apa kabar? Kuliah udah beres? Kerja di mana?
  • Pergi sama siapa ke sini? (kalau ternyata kamu berpapasan dengan teman lama di tempat publik)
  • Masih suka kontak-kontakan sama temen-temen yang lain? (dari sini kita bisa tahu siapa sebenarnya orang ‘sombong’ itu)
  • Eh, aku denger si nganu udah nikah. Kamu sempet dateng ke kondangannya gak? (cek dan ricek siapa yang lebih sering ketemuan dengan teman-teman lama)
  • Kita udah temenan di Facebook belum sih? (Like, seriously, sekampung-kampungnya seseorang, dia pasti punya Facebook. Kalau ternyata dia gak punya Facebook dan ngerasa teman-temannya sombong karena gak pernah ada yang ngasih kabar, tahu dong siapa yang salah?).

See? Mudah, kan?

Coba ingat-ingat lagi. Apakah kamu yang sering bilang kalau orang-orang atau teman-teman kamu sombong karena gak pernah ngasih kabar ke kamu? Apa kamu pernah secara humble menyapa duluan dan menanyakan kabar mereka?

Nggak perlulah gengsi untuk menanyakan kabar duluan.

 

eye-roll-tina