Why Isn’t Love Enough?

closer-50ff82754a4b7

 

Menulis puisi… sesulit itu kah?

 

Mendengar kata ‘puisi’-nya saja sudah terdengar canggih. Dibutuhkan seorang yang sangat peka panca indranya untuk bisa menerjemahkan semua yang ia rasakan (dan imajinasikan) untuk menjadi baris-baris kata yang membuat para pembaca berdecak kagum—atau mengernyitkan dahi karena nggak mengerti dengan pesan yang ingin disampaikan oleh sang penyair. (Well, katanya sih bukan seni namanya kalau nggak bikin bingung).

 

Saya bukan penyair, tapi saya senang menulis puisi… dulu. Dengan menulis puisi, curhatan saya bisa disamarkan dengan cukup sempurna. Ketika saya sedang senang, marah, kesal, rindu, saya tumpahkan semuanya ke secarik kertas, atau note di ponsel Nokia 3660 saya dulu—masa-masa ketika saya hampir setiap hari menulis puisi.

 

Ngga semua puisi saya berisikan kepingan-kepingan sejarah hidup saya. Terkadang, apa yang saya tonton atau baca bisa menjadi inspirasi instan untuk menulis puisi. Klik! Secepat itu inspirasi datang ke otak saya. Salah satu kejadian ini terjadi pada November 2011 setelah saya beres menonton film Closer (2004) arahan Mike Nichols. Satu kalimat yang diucapkan oleh Alice (Natalie Portman) benar-benar membekas sampai detik ini:

 

“No one will ever love you as much as I do. Why isn’t love enough?”

 

Saat credit title mulai muncul, segera saya mengklik ikon Microsoft Word dan mulai mengetikan puisi ini.

 

Saya mungkin murah, tapi tak murahan

Ya… mungkin pada kamu saja

Atau dia

Kalaupun kau sebut murahan,

Label itu bukan untuk aku seorang

Melainkan pada hubungan kita pula.

 

Bagiku, mungkin, hanya hubungan

Murahan yang sesuai

Untuk kita.

Kau tak mau mengalah

Akupun tak kalah keras kepala

Tak ada yang mau berkata duluan

Padahal, apa salahnya sekedar berujar, “Maaf.”

Atau mungkin, “Sayang…”

Atau bahkan, “My frozen yogurt, let’s get things straight.”

 

Atau mungkin, hubungan murahan

Hanya berlaku untukku

Yang tak pernah tahu

Bahwa cinta saja tak cukup

Untuk kebal dari rasa malu

Atau perasaan menjadi benalu

Demi jatuh untukmu

 

Tak perlulah manisnya perhatian,

Asinnya air mata,

Asamnya kecupan,

Atau pahitnya kerinduan.

Bakar saja diriku dengan

Bara gairah

Yang akan padam

Saat fajar melengkungkan bayangan-bayangan

Saat embun-embun masih bergumul

Saat dekapmu masih cukup

Menghangatkan dinginnya ruang kosong ini

 

Dan saat kau

Mengancingkan kemejamu

Dan sementara aku

Terkulai di atas peraduan

Tanpa sehelai benang

Pertanyaan itu muncul dalam benak,

“Mengapa cinta saja tak pernah cukup, Sayang?”

 

Tetiba kau menoleh

Menatapku

Seolah membaca pikiranku

Dengan wajah sendu

Lalu berkata,

“Karena kamu murahan.”

 

Puisinya biasa saja? Ya memang. Tapi, saya bangga karena itu kali pertamanya sebuah dialog dari film yang saya sukai sampai mati ini menjadi inspirasi dalam menulis puisi. Ditambah lagi, puisi berjudul “Murahan! Mungkin…” ini masuk menjadi salah satu nominator Sayembara Menulis Puisi Mahasiswa Hima Satrasia dan masuk ke dalam buku Antologi Puisi Situ Waktu di bulan dan tahun yang sama saya menulis puisi ini. Padahal, saya iseng sekali mengirimkan puisi ini. Itupun karena nggak sengaja melihat salah satu tweet dari @infoUPI.

 

So, menulis puisi nggak serumit yang dibayangkan, bukan?

 

Ah, mungkin tahun ini tahun yang tepat untuk saya (atau mungkin kamu) untuk belajar menulis puisi (lagi)? Saya kangen mengubah curahan hati saya menjadi bait-bait asal tak berima; saya sudah agak bosan merangkum apa yang saya rasakan menjadi 140 karakter di Twitter.

 

tumblr_ng7tqkpdSU1rsyukao1_500