Kue Cubit Rasa Green Tea dan Teman-temannya

20150111_160647 edit

 

“Semua-muanya aja di-green tea-in!”

 

Enough about rainbow cake. Sekarang waktunya green tea yang menjadi primadona kuliner di Bandung—setidaknya dari tahun 2014 kemarin dan sepertinya masih akan jadi tren sepanjang 2015 ini.

 

Akhir tahun 2014 kemarin, warga Bandung digegerkan dengan adanya kue cubit rasa green tea. Yup, KUE CUBIT—bukan kue tart berukuran raksasa yang dipamerkan di tengah-tengah lapangan Gasibu atau di depan Gedung Sate. Kue berukuran yang berukuran se-cubit tangan orang dewasa yang pastinya pernah kita makan saat SD dulu dengan harga super murah ini jadi makin banyak pembelinya setelah salah seorang pedagang di sekitar Jalan CIsangkuy bereksperimen dengan rasa baru. Mungkin dengan alasan ‘biar kekinian’, si Mamang Kue Cubitnya bikin terobosan baru dengan Kue Cubit rasa Green Tea. Begini penampakannya.

 

Screenshot_2015-01-21-20-22-33~01Kue Cubit Rasa Green Tea dengan topping Nutella

 

Karena harganya yang gak masuk akal, akhirnya saya berniat buat bikin sendiri saja. Tadinya sih saya mau ngajak si F yang notabene kuliah jurusan masak-memasak di kampusnya, tapi takut disangka modus. Malesin banget kan ya? (Tapi, akhirnya saya mau gak mau nge-whatsapp doski sih nanya-nanya di mana beli bahan-bahan buat beli kue dan tetek-bengek lainnya). Eh, tetiba saya ingat kalau salah satu sobat saya suka masak, terutama bikin kue. Sebut saja dia Shandy (nama sebenarnya). Kita berkenalan di Twitter pada tahun 2012 dan jadi sobat di dunia nyata sampai sekarang. Doski dulu sempet concern sekali dengan cupcakes (He even gave me a cupcake on my 22nd birthday, and he named it Cupcake Rasa Pengkhianatan Sang Mantan—right after my horrible break up three weeks before my birthday), tapi doski sekarang lagi susah nyari waktu luang buat berkreasi dengan cupcakes lagi.

 

Singkat cerita, saya dan Shandy secara impulsif berniat bikin Kue Cubit rasa Green Tea pada Minggu, 11 Januari 2014 kemarin. Kita belanja bareng ke toko perlengkapan kue buat beli pure Green Tea powder biar kue cubit kreasi kita lebih kerasa aslinya dan Taro powder karena wangi serbuknya enak banget (we were that shallow). Ancang-ancang takutnya cetakan kue cubit yang ada di rumah Shandy gak ada, kita berdua akhirnya menjelajahi Pasar Palasari untuk beli cetakan kue cubit cadangan dan hasilnya nihil. Thank God, setelah dicari lagi di dapur rumahnya Shandy, cetakan kue cubitnya ketemu!

 

Dengan menggunakan kompor gas portable, saya dan Shandy memasak di teras rumah Shandy. Kebetulan, cuaca pada saat itu cerah dan angin berhembus sepoi-sepoi. Sehingga acara masak-memasak dadakan ini jadi lebih menyenangkan dan nyaman.

20150111_145045 edit

Bahan-bahan untuk membuat kue cubit

  20150111_145514 edit

 

Penampakan Green Tea Powder dan Taro Powder

 

ranna ngocok shandy masak editShandy (kiri) sedang memulai menuangkan adonan kue cubit ke loyang / Ranna (kanan) sedang mengocok telur

 

By the way, saya dapat resepnya dari blog-nya Teh Deasy Amela. Yang membedakan resep kue cubit yang dimasak oleh kita dan Teh Deasy adalah kita nggak pakai baking powder karena kelupaan nggak beli. Tapi, saya sempet nanya ke Mamah saya dan katanya kalau di resepnya sudah pakai soda kue, perihal gak mencampur baking powder ke adonan kue cubit nggak jadi masalah.

 

Selain rasa green tea, kita berdua juga bereksperimen membuat kue cubit rasa taro dan Oreo. Untuk rasa Oreo, itu murni idenya Shandy. Jadi, bagian krim vanila ia ambil dan dilarutkan dengan air panas, lalu dicampurkan ke adonan dasar kue cubit. Bagian biskuit Oreo yang warna hitamnya dihancurkan menjadi serbuk dan ditaburkan ke atas adonan kue cubit yang sedang dimasak. Rasanya? Biasa saja 😐

20150111_152600 edit

Adonan dasar kue cubit yang sudah dicampur Green Tea Powder, Taro Powder, dan krim vanila Oreo, juga Oreo yang sudah dihancurkan

20150111_160004 edit

Penampakan kue cubit mentah yang sedang dimasak

Untungnya, kue cubit rasa green tea dan taro enak! Sayang, warna keduanya sangat di luar ekspektasi. Untuk yang rasa green tea, alih-alih berwarna hijau muda terang, justru malah jadi berwarna hijau pekat—begitu pula yang rasa taro. Dua-duanya nggak berwarna terang, sehingga penampakannya nggak begitu appealing. Tapi, sekali lagi, untung rasanya enak!

 

Buat kamu yang kepengen nyoba tapi udah jiper duluan, jangan sedih! Bikin kue cubit ini simpel banget dan bahan-bahannya gampang dibeli (bahkan terhitung murah). Selamat mencoba 😀

ranna shandy kue cubit

 

Gambar diambil dari akun Instagram Kue Cubit Cisangkuy

Explore Bandung, Shall We?

Tebing Keraton, The Instagram Hill

“We have two lives. The second one begins when we realise we only have one.” – Confusius

Kira-kira quote di ataslah yang bisa menggambarkan ‘keresahan’ yang hampir saya abaikan semenjak tahun 2013 kemarin.

Pernah gak sih kamu bangun di pagi hari dan tetiba berpikir tentang kematian? Lebih jauh lagi, kamu akhirnya sadar bahwa kamu belum tentu panjang umur? Saya pernah. Dan, saya panik bukan main. Tergesa-gesa saya ambil air wudhu dan mendirikan shalat Subuh, lalu meminta petunjuk Tuhan atas pikiran-pikiran ‘gila’ yang saya dapat dalam sekejap tadi. Apa artinya, Tuhan? Apa ini pertanda bahwa saya… akan mati muda?

Pertanda ini berlanjut sampai tahun 2014. Banyak teman-temannya teman saya meninggal di usia yang bahkan belum menginjak usia tiga puluh tahun—entahlah mereka sakit apa. Puncak dari ‘pertanda’ ini adalah meninggalnya salah satu teman saya yang dibunuh oleh seorang lelaki yang baru saja ia kenal dari media sosial. Pepatah ‘umur manusia cuma Tuhan yang tahu’ semakin makes sense. Selama ini, saya terlalu percaya diri kalau saya akan berumur panjang.

Mengadulah saya kepada Tuhan, karena akhirnya saya mengerti apa yang ingin Ia sampaikan selama ini. Dalam beberapa minggu, akhirnya ‘keresahan’ ini berangsur-angsur hilang. Saya semakin sadar bahwa—selain Tuhan—kematian juga amat sangat dekat dengan kita. Somehow, istilah ‘mati muda’ jadi lekat dengan kehidupan pribadi saya. Saya akan mati muda, desis saya sesekali ketika pikiran saya sedang kosong. Awalnya, hal itu menyeramkan. Sekarang? Hal itu justru menenangkan. Menenangkan karena seolah-olah saya sudah mengetahui kapan saya akan mati. Bukankah beberapa orang sangat ingin tahu kapan ia akan terakhir menghembuskan napas terakhirnya?

Efek positif dari berpikiran ‘mati muda’ terus berlanjut sampai detik ini—saat menulis posting-an ini. Karena cukup yakin akan ‘mati muda’, saya jadi semakin jarang membuang-buang waktu. Ketika ada waktu luang sedikit saja, saya akan memanfaatkannya untuk berbuat sesuatu yang bisa membuat hidup saya lebih bermanfaat. Let’s say, baca buku. Atau beres-beres kamar. Atau menyapa teman yang sudah lama nggak kita tanyakan kabarnya secara personal.

Atau… jalan-jalan?

Saya bukan tipikal orang yang punya jadwal tentu untuk jalan-jalan; saya bahkan lebih senang menghabiskan waktu luang di penghujung minggu untuk membawa buku sampai ketiduran atau menonton film-film bajakan di laptop saya sampai pingsan. Namun, semenjak pikiran ‘mati muda’ ini menjangkiti sel-sel otak saya, saya jadi nggak mau diam. Sudah cukup saya melihat ‘dunia’ dari sesuatu yang bernama ‘jendela dunia’ alias buku. I want to see the world with my bare eyes.

Tapi, saya sadar… dunia terlalu luas. Bahkan, Bandung saja menurut saya luas sekali. Banyak tempat-tempat wisata, tempat bersejarah, tempat unik, atau tempat rekreasi yang belum pernah saya jamah sama sekali—dan saya malu karenanya. Kenapa? Karena saya lahir dan besar di Bandung, tetapi saya hanya tahu secuil tentang Bandung. Oleh karena itu, akhirnya saya membuat resolusi di 2015 ini untuk menjelajahi Bandung dan sekitarnya (Cimahi, Lembang, Subang, Soreang, Pangalengan, dll).

Saya mungkin nggak punya waktu banyak (dan uang banyak) untuk berkeliling dunia menjelajahi berbagai benua. Tapi, setidaknya, ketika saya mati (muda) nanti, saya sudah menjelajahi semua tempat-tempat yang harus saya kunjungi di Bandung.

Let’s explore Bandung this year, shall we?

 

Foto pinjam dari sini.

Cheers to 2015!

calendar-2014-2015-300x200

Untuk orang-orang yang bisa menyimpulkan tahun 2014 hanya dengan satu kata: kalian luar biasa!

Mungkin saya harus menjabarkan beberapa kejadian penting di hidup saya (yang sebenernya sih ngga perlu kamu tahu, but , since this is my blog, so, I can write whatever I want) agar bisa menyimpulkan tahun 2014 ini dengan satu kata. Atau dua.

Awal tahun 2014, saya gagal sidang skripsi LAGI karena saya mendadak terkena chikungunya yang gak sengaja ditularkan oleh si Papah dan si Mamah (iya, mereka sakit Chikungunya bersamaan. Emang dasar jodoh ye~). Oh, di bulan yang sama, saya akhirnya memutuskan untuk membeli laptop pertama saya karena saya ngga mungkin terus-terusan harus nginep di kantor saya yang dulu untuk mengerjakan skripsi. Laptop ini adalah barang termahal yang pernah saya beli seumur hidup saya. Makanya, saya sayang banget sama doski.

Pertengahan 2014, saya memberanikan diri lagi untuk ‘beredar’ di beberapa social media lagi. Padahal, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk ngga dulu look around di socmed itu. Tapi, yah, apalah artinya janji kalau ngga diingkari atau ditepati (I’m looking at you, my latest ex). Siapa sangka, pengingkaran janji itu justru membawa saya ke pintu bertuliskan ‘Moving on is this way’. Saya berkenalan dengan si F yang sering saya ceritakan di blog saya dan sekarang jadi tetangga kostan saya. He may be annoying, but he’s one of the miracles in my life this year.

Akhir 2014, setelah berhasil mengejar sidang di bulan Agustus kemarin (lengkap dengan drama-dramanya), akhirnya saya bisa wisuda di bulan Desember 2014 ini. ALHAMDULILLAH! Tuntas sudah tanggung jawab akademik saya dan bisa membanggakan orang tua saya—walaupun saya nggak bisa cum laude. At least, IPK saya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kedua teteh saya (dan saya agak yakin kalau adik saya gak akan bisa melampaui IPK saya hahaha iya ini pamer apa lo apa lo).

10685353_10204523036629483_3379482744876340985_n

Oh, menjelang akhir tahun, saya memutuskan untuk ngga meneruskan karir saya di dunia broadcasting. Mungkin saya jenuh, atau memang lingkungan di kantor saya yang dulu ini memang sudah ngga memungkinkan buat saya berkembang lebih jauh. Tetapi, entah mengapa, saya kok agak yakin bahwa suatu hari nanti saya bakal berkecimpung di dunia broadcasting lagi—entah sebagai karir utama saya atau hanya sekedar jadi sampingan saja. I mean, broadcasting is my passion since I was in Junior High School. Saya gak bisa ngelepas passion saya begitu saja. Saya bahkan ragu kalau passion memang bisa dilepas tanpa bekas dari hidup saya.

Okay, sekarang sudah bisa menyimpulkan tahun 2014 ini dengan dua kata.

*menghela napas panjang*

2014 is… weirdly awesome.

Cheers to 2015!

gambar pinjam dari sini.