Me (NOT!) Against The Music

large

Sepanjang tahun 2014 ini, kamu ditemani oleh lagu-lagu dari musisi siapa saja?

For the love of music, walaupun kebanyakan materi karya mereka saya dapatkan secara ilegal, saya akan membuat daftar lima album terbaik versi saya di tahun 2014 dan 10 lagu yang literally saya putar terus-menerus karena lagunya enakeun banget sepanjang tahun 2014 ini!

Okay, here we go. Sepuluh lagu yang saya denger lagi dan lagi di tahun 2014 versi Ranna.

(dari nomor 10 ke nomor 1)

Red Velvet – “Be Natural” | Single (2014)

Ariana Grande – “Only 1” | My Everything (2014)

Tulus – “Satu Hari di Bulan Juni” | Gajah (2014)

Yuna – “Colors” | Nocturnal (2013)

Ed Sheeran – “Thinking Out Loud” | x (2014)

Taylor Swift – “All You Had To Do Was Stay” | 1989 (2014)

EXO – “Growl” | XOXO (2013)

Payung Teduh – “Berdua Saja” | Dunia Batas (2012)

Galaxie 500 – “Tugboat” | OST. The Perks of Being A Wallflower (2013)

Lana Del Rey – “Brooklyn Baby” | Ultraviolence (2014)

Bagaimana dengan album?

  1. Yuna – “Nocturnal”

Yuna-Nocturnal-5001

Sebenarnya, saya sudah lama tahu tentang Yuna. Saat itu saya sedang mengakses situs resmi Billboard dan tetiba muncul foto Yuna dengan caption kurang lebih “Artis Malaysia Pertama yang Menembus Billboard”. Saya kaget, karena penampilan Yuna sangat jauh berbeda dengan penyanyi-penyanyi cewek kebanyakan di Amerika Serikat. Well, memang sih Yuna lebih sering mengenakan turban untuk mempromosikan album internasionalnya, but still dia masih menutup aurat sebagai seorang muslimah. Terus, apa yang bikin saya akhirnya mau mendengarkan lagu-lagunya? Semua karena salah satu artikel dari Huffington Post yang berjudul “20 Artists To Start Listening To In 2014”, dan Yuna ada di urutan 19. Dan, album internasional Yuna memang keren banget! Perpaduan musik ala Melayu dan modern campur aduk menjadi harmonis di setiap lagunya di album ini.

Recommended songs: Falling, Rescue, Comeback, I Wanna Go, Colors.

  1. Ed Sheeran – “x”

cover326x326

Dulu, saya gak pernah ngerti kenapa orang-orang bisa cinta banget sama Ed Sheeran, rising star dari Inggris ini. Ketika lagu “The A Team”-nya meledak dan bikin nama Sheeran melejit, saya gak bisa nikmatin lagunya sama sekali. Ng, mungkin karena saya memang gak terlalu suka dengan konsep solois pria bergitar. Beberapa minggu yang lalu, entah mengapa teman-teman saya di Path tetiba sering “now listening to” lagu-lagunya Ed Sheeran dari album keduanya, “x”. Iseng, saya coba tonton MV-nya yang berjudul “Thinking Out Loud” dan tertegun… INI KOK BAGUS LAGUNYA? Saya langsung unduh satu album dan semua lagunya gak ada yang gak asik. No wonder kalau album ini masuk nominasi Album of the Year di Grammy Awards 2015 bersaing dengan Beck, Beyonce, Sam Smith, dan Pharrell William.

Recommended songs: Thinking Out Loud, One, Sing, Don’t, I’m A Mess.

  1. Ariana Grande – “My Everything”

Ariana-Grande-Unveils-My-Everything-Album-Cover

Salah satu album yang paling ditunggu-tunggu di tahun 2014. Buat yang sudah mengikuti Ariana Grande dari tahun lalu (termasuk saya), pastinya agak kaget dengan perubahan imej Ariana yang cukup drastis. Debut dengan album “Yours Truly” lengkap dengan imej innocent girl-nya, Oktober kemarin Ariana merilis “My Everything” dengan imej yang lebih seksi dan fierce. Imej barunya ini berimbas ke semua lirik lagunya. Eits, lagu-lagunya masih ear-catchy kok walaupun gak sebagus lagu-lagu di album perdananya.

Recommended songs: Problem, Only 1, Love Me Harder, Bang Bang, Cadillac Song (bonus track)

  1. Lana Del Rey – “Ultraviolence”

8dda5e1b

Ugh, what can I say? This is one of the best albums this year. Imej Lana Del Rey masih sama seperti dua album sebelumnya (daddy issue, obsessed with death, etc), tapi yang membedakan album ini adalah dari genre-nya yang lebih rock (slow rock sih lebih tepatnya). Semua berkat kolaborasi apik dengan Dan Auerbach, gitaris The Black Keys. Ah, I’m too speechless to explain the awesomeness of this album.

Recommended songs: West Coast, Shades of Cool, Brooklyn Baby, Ultraviolence, The Other Woman.

  1. Taylor Swift – “1989”

Taylor_Swift_-_1989

The most unpredictable album this year. Taylor Swift yang biasanya selalu sukses ngejual album dan ngeborong penghargaan bergengsi dengan genre country justru malah berekspreimen dengan genre pop untuk album terbarunya. Hasilnya? Totally amazing. Masalah lirik, gak perlu dipertanyakan. She’s one of the most talented song lyrics, IMO, and I’m not even a fan of her! Kamu bisa tanya teman-teman kampus saya dan mereka tahu benar how much I hate her, especially waktu dia memboyong piala Grammy Awards mengalahkan Lady Gaga (I was a huge fan of Gaga. Now? Just a fan. That’s all). Siapa sangka kalau gadis country ini justru bisa merilis album pop terbaik tahun ini.

Recommended songs: Out of The Woods, Wildest Dream, All You Had To Do Was Stay, Style, Blank Space.

Special appreciation

tulus-gajah

Saya jarang mendengarkan lagu-lagu Indonesia, tapi bukan berarti saya cuek dengan perkembangan musik di negara saya sendiri. Banyak kok musisi-musisi lokal yang karyanya luar biasa. Kudos buat Tulus dan album keduanya “Gajah”. Tahun ini benar-benar menjadi tahunnya Tulus. Videoklipnya mulai sering tayang di TV nasional dan bahkan dapat penghargaan sebagai Artis Baru Terbaik Lelaki di Anugerah Planet Muzik 2014. Once again, congrats!

Menemukan Herman

BmfQJ86CMAAxh7l

Pernah terobsesi dengan sebuah nama?

Dulu pada masa saya sedang rajin-rajinnya menulis fiksi, saya secara tidak sadar sering menamai karakter-karakter saya dengan awalan huruf ‘R’, atau setidaknya ada unsur ‘R’-nya. Untuk kamu yang dulu mengikuti cerita bersambung saya di (almarhum) Multiply, semua karakter utamanya berunsur huruf ‘R’: Vardan, Faren, Raihanun, dan Erina. Jadi, jangan heran bila saya menggunakan nama ‘Ranna’ sebagai nama pena dan nama onair saya. Bila ditanya mengapa saya sangat tergila-gila dengan nama-nama yang ada unsur huruf ‘R’-nya, saya hanya bisa mengangkat kedua pundak saya. It just happens.

[     ]

Pertengahan November 2014,

Ialah F, seseorang yang sudah menyebut saya sok tulus dan sumber masalah di hidupnya, tetiba meng-unblock LINE saya dan mengirimkan sebuah pesan, “Udah tidur? Makan yo.” Look at this dude, he wanted to have dinner with his source of problem! Dan dia juga sudah tahu benar kalau saya tidak akan menolak permintaan dia. Kami berdua pun pergi ke warung Indomie terdekat dan saya—yang biasanya memulai pembicaraan—memilih untuk diam dan bahkan sebisa mungkin tidak melakukan kontak mata.

Dia—akhirnya—yang memulai pembicaraan lebih dulu. Wajahnya masih sama seperti terakhir kali kita bertemu: he always looks pissed off. Saya jawab beberapa pertanyaan basa-basi dia. I mean, tentu saja itu basa-basi. Sejak kapan dia ingin tahu atau bahkan peduli dengan keadaan saya? Sunyi mengisi seraya ia menghabiskan semangkuk mie Indomie kuah dengan kornet dan telor, juga beberapa potong gorengan. Saya tidak pernah berekspektasi bisa sedekat ini dengan dia secara fisik setelah pertengkaran hebat di antara kita pada awal Oktober 2014 kemarin. Saya tidak mengharapkan ini.

filosofi-kopi-1

Namun, semua rasa ketidaksukaan dan ketidaknyamanan saya di dekat dia buyar ketika ia bercerita tentangnya yang membaca buku Dewi Lestari di salah satu kedai kopi di Kalibata, Jakarta. “Filosofi Kopi. Bagus bukunya,” ujarnya. Saya mendengus dan berujar dalam hati, yaiyalah! Semua bukunya Teh Dewi nggak ada yang gagal! Iseng, saya tanya apa cerpen favorit dia dalam buku itu. Well, bisa saja dia berbohong telah membaca buku itu, kan? He’s addicted to lie to me. Dan jawaban dia adalah…

“’Mencari Herman’.”

Sesaat, saya terdiam. Ingin saya buat meja yang ada di hadapan kita berdua ini terbalik dan berteriak di depan mukanya, “Are you effing kidding me?!

Bertahun-tahun saya menanyakan pertanyaan yang sama kepada orang-orang yang sudah membaca buku ‘Filosofi Kopi’ dan jawaban mereka selalu cerpen ‘Filosofi Kopi’. Tak ada yang menjawab ‘Mencari Herman’ yang notabene adalah cerpen favorit saya dalam buku tersebut.

Mungkin bagi kamu yang sedang membaca tulisan saya, hal ini biasa saja. Buat saya, ini terlalu luar biasa… luar biasa menyebalkannya. Saya sudah tidak mau punya kesamaan lagi dengan dia. Tetapi, sepertinya Semesta memang selalu punya cara iseng untuk mengejutkan kita berdua—atau setidaknya saya saja pada momen ini.

Membahas cerpen ‘Mencari Herman’ ini sesaat membuat saya terlempar ke masa-masa saya pada tahun 2012, saat pertama kali saya berkenalan dengan seseorang yang akhirnya menjadi mantan saya yang ketiga. Tak perlulah pedulikan nama depannya, karena saya cukup memuja nama belakangnya: Suherman. Berbeda dengan Hera, tokoh utama wanita dalam ‘Mencari Herman’ yang terobsesi dengan nama ‘Herman’ dan butuh bertahun-tahun lamanya untuk bisa berkenalan dengan sesosok pria yang bernama tulen Herman, saya sudah cukup senang menemukan seseorang bernama belakang Suherman. Pertama, karena ada unsur huruf ‘R’ pada ‘Suherman’. Kedua, ada unsur ‘Herman’ dalam ‘Suherman’. Belum lagi, mantan saya yang satu ini sesuai dengan kriteria ideal yang pernah saya tulis di buku harian saya bertahun-tahun yang lalu. Benar-benar seperti ketiban durian runtuh.

Nasib saya dengan Hera sebenarnya sebelas-duabelas. Hera kehilangan nyawanya setelah berkenalan dengan pria bernama Herman Suherman. Can you imagine? Bertahun-tahun ia mencari seorang Herman, dan sekalinya dapat, yang ia dapatkan adalah Herman kuadrat. Bagaimana dengan saya? Saya juga kehilangan ‘hidup’ saya. Can you imagine? Salah satu mimpi saya untuk mempunyai pasangan hidup yang saya idam-idamkan jadi kenyataan, dan saya tidak mungkin akan melepaskan dia begitu saja.

Kehidupan saya yang sudah dimulai dan bisa diberi judul ‘Menemukan Herman’, berlanjut menjadi ‘Mencari Herman’ karena tetiba ia melenyapkan jejaknya dari hidup saya, sampai akhirnya menjadi ‘Merelakan Herman’ pada awal tahun 2014 kemarin, karena ia tak kunjung saya temukan.

[     ]

Beberapa hari setelah pembicaraan di warung Indomie, F bersikap seolah di antara kita tidak pernah ada masalah sama sekali—seolah ia lupa bahwa ia pernah mentah-mentah menganggap saya sebagai sumber semua masalah yang ada di hidupnya. Ia bahkan meralat peribahasa yang ada di dalam ‘Mencari Herman’.

“Yang bener tuh kayak gini: Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan,” ujanya.

Dua ‘Herman’ melenyapkan nyawa Hera. Sementara saya? Satu ‘Herman’ harusnya menggenapkan hidup saya, bukan meluluhlantakan saya.

Sesaat saya berusaha mengingat wajah mantan saya yang terakhir itu. Suaranya. Tekstur kulit wajahnya. Cara ia merengkuh saya. Semuanya sudah hampir tidak bisa saya ingat dengan otak saya.

Lagipula, ada seseorang yang harus saya jaga sekarang. Seseorang yang menghentikan fase hidup saya yang bisa diberi judul ‘Merelakan Herman’ itu. Dialah penanda akhir cerita sekaligus penanda awal cerita baru bagi saya. Dia bukan seseorang yang bisa disebut sebagai ‘teman hidup’—dia terlalu menyebalkan untuk diberi gelar itu. Tetapi, saya harus menjaganya karena dia, secara tidak langsung, sudah menyelamatkan saya.

Seseorang itu menganggap saya sok tulus dan sumber masalah dalam hidupnya.

Seseorang itu menyukai cerpen ‘Mencari Herman’.

Seseorang itu F, dan ada unsur huruf ‘R’ pada nama belakangnya.

Dan hal inilah yang membuat saya tidak pernah menyukai kejutan dari Semesta. Tidak ada huruf ‘R’ pada ‘kejutan’ dan ‘Semesta’, anyway.

But, heck, there are ‘R’ in ‘surprise’ and ‘Universe’.

(gambar pinjam dari sini dan sini)