Gengsi Tapi Tanggung

1402214_10152410192002901_1487363605727324941_o

Dulu, setiap saya mendengar kata ‘gosip’, yang secara otomatis muncul di benak saya adalah “KISS—Kisah Seputar Selebritis, Cek & Ricek, !nsert, Silet, Otista—Obrolan Artis Dalam Berita” dan sederetan acara infotainment lainnya yang sampai sekarang masih tayang di tv nasional. Namun, semuanya berubah ketika saya menonton pilot episode Gossip Girl di Trans7, Senin malam pukul setengah sembilan pada tahun 2007. Nama-nama acara infotainment itu hilang dan digantikan dengan “Blair, Serena, Dan, Nate, Chuck, Jenny, Vanessa,” dan nama-nama karakter rekaan lainnya yang ada di series tentang kehidupan para youngster di Upper East Side tersebut.

Saya cukup terobsesi dengan Blair Waldorf—salah satu tokoh utama wanita di Gossip Girl. Saya bahkan mengumpulkan kutipan-kutipan apa yang dia katakan dari season awal sampai season terakhir dan mengganti nama di Friendster saya menjadi “RANNA WALDORF”. I know, right? It’s as crazy as it sounds. Itu karena saya suka dengan cara ia berpikir dan menentukan keputusan. She is my personal postfeminist heroine.

c66dbfc6e53f9b8eb03860d4f1ccd070

Namanya juga terobsesi, tentu saya belajar banyak hal dari Blair Waldorf (selain blackmailing pastinya, hahaha). Salah satunya adalah… meminta maaf.

Lha kok?

Iya, minta maaf. Minta maaf yang benar-benar minta maaf.

Selama enam season Gossip Girl berjalan dan akhirnya tamat, entah berapa kali Blair Waldorf ini berantem dengan Serena Van Der Woodsen. Mereka tuh teman dekat, tapi sering kali berbeda pendapat atau merasa sedang dikhianati. Anehnya, ujung-ujungnya mereka selalu saling memaafkan dan bersahabat lagi. Kejadian ini terus berulang sampai kadang-kadang saya capek melihat pertengkaran mereka di setiap season-nya. Saya kurang nyaman saja jika melihat dua sahabat karib yang bisa berantem hebat sampai benci satu sama lain. I mean, they are best friends, right? Pasti mereka sudah tahu busuk-busuknya satu sama lain dan seharusnya sih itu yang membuat mereka bisa saling toleransi dengan kesalahan masing-masing. Well, tapi Blair dan Serena ini selalu menjadi lebih akrab sih setelah pertengkaran mereka clear.

tumblr_mze9erbh5z1rjqlevo1_500

Kemudian, apa bedanya minta maaf ala Blair Waldorf dengan yang lainnya?

Saya sudah sering menonton film dan series dari luar negeri, dan ketika menonton Gossip Girl, saya baru sadar kalau para bule di luar sana itu punya cara yang lebih baik untuk meminta maaf (menurut saya). Blair Waldorf ini punya mulut yang tak kalah tajam dengan pisau Guillotine, jadi tidak heran jika ia sering menyakiti hati seseorang dan akhirnya membuat effort lebih untuk minta maaf. Berdasarkan dari yang saya tonton, Blair selalu menemui seseorang yang ia ingin mintai maafnya langsung secara face to face. Mungkin itu cara dia untuk menunjukkan kepada lawan bicara bahwa ia rela menurunkan ego dan gengsinya hanya untuk mendapatkan maaf. I mean, she is a Queen Bee in her school! Everyone is afraid of her because she is always right and mean. Namun, ia cukup sering menginjak pride-nya sesaat untuk bisa menyelamatkan persahabatannya dengan Serena—entah itu Blair yang melakukan kesalahan atau sebaliknya. However, the thing is, she does some efforts.

Saya dulu anaknya gengsian sekali. Walaupun jelas-jelas berbuat salah kepada seseorang, saya enggan untuk minta maaf duluan karena dulu saya beranggapan kalau seseorag yang meminta maaf duluan itu lemah. Lemah karena tidak bisa membela dirinya sendiri. Dan, seseorang yang tidak bisa membela dirinya sendiri itu akan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya. Meminta maaf duluan itu memalukan sekali.

Sampai akhirnya pada suatu hari saya terkena getahnya karena saya terlalu menjaga pride saya ketika saya baru saja menjadi mahasiswa baru di kampus saya sekitar tahun 2008. Saya mengatakan hal-hal tolol kepada teman yang baru saja saya kenal dan dia tidak bisa menganggap hal tersebut sebagai kelakar yang biasa dilempar oleh seorang teman. Ia marah besar, sampai me-unfriend saya di Friendster. Belum pernah saya membuat seorang teman sampai semarah itu. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan pertemanan kita ya cuma satu: saya harus meminta maaf.

Pada suatu sore, saya mengajak teman saya ke salah satu pojokan fakultas yang cukup sepi untuk meminta maaf dengan tulus. Saya utarakan betapa tidak nyamannya suasana kelas ketika ada satu teman yang betul-betul marah kepada saya. Saya menyesali kata-kata yang sudah saya ucapkan kepada dia dan berjanji bahwa kata-kata bodoh itu tidak akan keluar lagi untuknya. Kami berjabat tangan dan pertemanan kami selamat walaupun agak sedikit awkward untuk membiasakan diri lagi dengannya.

Sejak saat itu, saya selalu berusaha menemui teman saya langsung apabila ia sedang punya masalah dengan saya yang menyebabkan ia kesal, marah, atau mungkin dendam kepada saya. Kamu boleh memberikan gelar kepada saya sebagai ‘cowok gak peka’, tapi saya cukup sering tidak mengetahui apa salah saya. Makanya, saya sering bingung ketika harus meminta maaf karena, ya… salah saya apa? Saya tanyakan itu kepada seseorang yang marah kepada saya, dan jawabannya selalu template, mulai dari “Kamu gak salah apa-apa kok” sampai “Udah lah gue males bahasnya”. Atau, ketika saya mengetahui apa salah saya dan hendak meminta maaf, mereka terkadang bilang, “Gak ada yang perlu dijelasin lagi” atau beberapa kalimat yang satu makna dengan kalimat ‘sakti’ yang biasa muncul di sinetron-sinetron Indonesia itu.

Kesal? Tentu saja. Tapi, setidaknya ketika saya meminta maaf kepada seseorang, saya benar-benar menjamin kalau saya tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Kalaupun ternyata saya gagal memenuhi janji saya, saya siap menerima konsekuensi dari kesalahan yang saya perbuat. Mungkin hal ini yang sering dilupakan oleh orang-orang kebanyakan saat meminta maaf: mereka hanya menunjukkan bahwa mereka menyesal dengan apa yang mereka perbuat. Mereka tidak membuat ‘perjanjian’ dengan orang yang mereka mintai maaf sebagai bentuk rill betapa besarnya penyesalan mereka atas kesalahan yang ia perbuat.

Cara ampuh ini sering dilakukan oleh Blair dan Serena, begitupun saya. Alas, saya tak seberuntung mereka berdua. Tapi, setidaknya saya melakukan efforts untuk meminta maaf. Dan, semoga efforts saya bisa dilihat oleh seseorang yang sedang saya mintai maaf.

Andai saja semua orang tahu tentang Blair Waldorf di Gossip Girl dan melihat betapa hidupnya jauh lebih simple karena ia tahu bagaimana caranya meminta maaf dengan cara mengacuhkan pride-nya untuk sementara…

Advertisements

Dari Sherina Sampai Cintapuccino

Petualangan_Sherina

Kapan kamu pertama kali nonton di bioskop?

Saya masih ingat betul betapa excited-nya saya ketika melihat trailer film Petualangan Sherina di televisi sewaktu saya masih duduk di bangku SD. Ada dua sih alasannya: 1) Saya nge-fans berat dengan Sherina (I mean, who doesn’t listen to her first album at that time?), 2) Karena itu film anak-anak.

“Pah, pengen nonton Petualangan Sherina di bioskop,” pinta Ranna kecil sambil menarik-narik seragam si Papah yang baru saja pulang kantor. Apa respon si Papah? “Iya nanti.” Dan saat itu, jawaban singkat nan menggantung itu cukup membuat saya senang. Senang karena saya akan menonton di bioskop untuk pertama kalinya, dan yang akan saya tonton adalah Petualangan Sherina!

Apakah saya berhasil menonton di bioskop untuk pertama kalinya?

TIDAK.

Saya sudah telanjur capek merayu si Papah yang dulu terlalu sibuk banting tulang dan saya tidak punya keberanian untuk meminta uang dan mengantar saya ke bioskop. Saya minta uang buat beli buku saja dulu sering beliau judesin sambil bilang, “Beli buku melulu…”

Setelah beberapa bulan, akhirnya saya ikhlas untuk tidak menonton Petualangan Sherina dan selalu mengingat-ingat kata-kata si Papah yang lain, “Nanti juga ditayangin di TV kok. Gratis pula. Kamu nontonnya bisa sambil tiduran di karpet.”

Saat itu saya baru habis Jumatan di mesjid dekat kantor si Papah dan selalu ada Pasar Jumat di halaman mesjid tersebut. Barang-barang yang dijual beragam sekali—mulai dari celana dalam sampai batu akik. Eits, tentunya ada juga tukang VCD bajakan. Iseng, saya lihat-lihat ke lapak si mamang tukang VCD bajakan. Siapa tahu ada VCD Pokemon atau Smack Down terbaru yang belum saya dan adik saya tonton. Tapi, saya kaget benar ketika melihat ada VCD Petualangan Sherina di antara jajaran VCD bajakan itu. Saya ambil VCD itu dan memerhatikan dengan seksama dan mulut menganga. Tangan kiri saya menarik-narik seragam si Papah, lalu berkata, “Pah, Petualangan Sherina…”

“Oh, udah ada ya VCD-nya? Yaudah sini…” Si Papah mengambil VCD Petualangan Sherina itu, lalu membayarnya.

I was the happiest boy at that time.

Terus, kapan seorang Ranna ini pertama kali ke bioskop? Apa saat Joshua Oh Joshua tayang?

TIDAK.

Film pertama yang saya tonton di bioskop adalah… Cintapuccino. Film adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Icha Rachmanti ini dulu saya tonton dengan Ahonx dan Abi, teman-teman SMA saya tahun 2007. Saat itu, Ahonx sedang berulang tahun dan berjanji untuk mentraktir saya dan Abi nonton film. Bioskop terdekat dari sekolah kami adalah bioskop ASTOR di daerah Pasar Ujung Berung (yang sudah beberapa tahun ini tutup). Harga tiketnya sekitar Rp 5.000, karena bioskop ini memang bukan bioskop sekelas XXI atau 21, bahkan Blitz. Tak ada AC di studio bioskopnya, hanya ada beberapa kipas angin yang bergerak secara otomatis ke kanan dan ke kiri. Kami menonton pada pukul sekitar 4 sore, jadi tak banyak yang menonton. Sedikit sekali, malah.Kursinya juga tak begitu nyaman. Bahkan, ada rumor sering ada tikus di bioskop ini (yup, makanya tiketnya murah). Tapi, saya benar-benar menikmati filmnya—entah karena ini pertama kalinya saya ke bioskop atau karena Cintapuccino ini memang salah satu novel favorit saya saat saya baru masuk SMA sekitar tahun 2005. Semua karakternya pas sekali, kecuali yang memerankan Dimas Geronimo (Yes, I’m talking to you, Miller).

cintapuccino_posterpreview

Pengalaman pertama ke bioskop itu magical sekali. Saya sedari kecil suka menulis dan ingin suatu hari nanti apa yang saya tulis akan menjelma menjadi gambar bergerak dan bersuara yang ditayangkan di bioskop. Dari situ, saya makin menekuni dunia sastra dan mulai melek dengan apa yang namanya Academy Awards yang, konon, film-film terbaik di dunia bersaing menjadi yang paling baik.

Oh, jangan lupakan sensasi ketika credit title mulai naik dan lampu-lampu di dalam studio tetiba menyala. You know, that moment ketika di dalam hati kita merutuk “Kok udahan sih”, tapi di saat yang bersamaan, ada perasaan lega dan menyenangkan karena kamu sudah merasa sangat terhibur dengan apa yang kamu tonton.

Apa saya masih bermimpi untuk bisa menonton film dengan skenario buatan saya sendiri?

YA.

Masih, walaupun tidak semenggebu-gebu dahulu saat saya menonton Cintapuccino. Atau bahkan saat saya menonton Petualangan Sherina di layar TV di ruang keluarga yang hanya sebesar 14 inchi.

By the way, saya jadi teringat impian saya buat berkunjung ke Bosscha yang sampai sekarang belum kesampaian. Ada yang mau ‘menculik’ saya ke sana? I promise I will sing like Sherina there.

 

P. S.: Blogpost ini terinspirasi dari tulisan Nauval Yazid di linimasa.