Retrospeksi Menggunakan Tinder di Usia 23 dan 32

Sumber: Vecteezy

Mungkin kebanyakan dari mereka yang ada di Tinder ini hanya ingin ditemukan.

Suatu Maghrib di Ramadan tahun 2013, saya dan rekan-rekan kantor saya baru saja mengadakan acara offair di bilangan Dago dan memutuskan untuk berbuka puasa di sekitaran Bandung Electronic Center (BEC).

Agak random? Oh, tentu saja tidak. Sore itu kami mendapat kabar kalau THR sudah cair dan saya nggak sabar untuk segera menghabiskannya dengan cara membeli satu barang yang sudah diimpikan: ponsel Android.

Saya, ditemani rekan kerja saya, membeli ponsel Android bermerek LG yang harganya nggak sampai Rp1.500.000. Saat itu juga saya resmi berpindah haluan dari BlackBerry ke Android.

Sesampainya di kantor, saya langsung menghubungkan ponsel saya ke WiFi kantor untuk mengunduh aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan. Namun, ada dua aplikasi yang sudah nggak sabar saya gunakan: Path dan Tinder.

Continue reading “Retrospeksi Menggunakan Tinder di Usia 23 dan 32”

Tabula Rasa

Sumber: Freepik

Rasa-rasanya, tak perlu kelewat khawatir walaupun belum bekerja penuh waktu lagi. Toh, ada pekerjaan sampingan yang cukup membuat dapur tetap mengepul dan freezer di kulkas penuh dengan beberapa kotak ayam bumbu kuning siap masak dan daging sapi yang akan diolah menjadi rendang.

Continue reading “Tabula Rasa”

Bulan Pertama Menjadi Full-Time Freelancer

Sumber: Freepik

Apa saja hal baru yang kamu dapetin di awal tahun 2023? Kalau saya sih status pekerjaan yang asalnya “karyawan kantoran full time” jadi “pengangguran”.

Wait, menyebut diri sendiri sebagai pengangguran terkesan kufur nikmat karena saya masih punya pekerjaan sampingan yang fee-nya cukup untuk menutupi keperluan rumah (baca: bayar listrik, perintilan biar dapur tetep ngebul, dan ngasih ke ortu). Saya tarik lagi kata-kata saya di atas dan biarkan saya melabeli diri menjadi “full-time freelancer”.

Nope, saya nggak resign (lagipula, saat karyawan-karyawan di Indonesia kebanyakan pada kena PHK, ya masak saya resign?).

Kebetulan memang ada masalah yang cukup krusial di perusahaan tempat saya bekerja kemarin dan pihak direksi dengan berat hati nggak bisa melanjutkan kontrak saya (dan beberapa teman sekantor saya lainnya) sebagai karyawan. Semuanya diakhiri dengan damai kok.

Continue reading “Bulan Pertama Menjadi Full-Time Freelancer”

Rekap 2022: Tahun Paling “Tenang”

Jadi, apa yang membuat tahun 2022 ini berkesan?

Tahun ini rasa-rasanya saya nggak banyak melakukan hal-hal yang bisa dianggap sebagai “pencapaian”. Tapi, setelah dipikir-pikir, walaupun hanya sedikit, hal ini nggak membuatnya jadi invalid untuk sedikit dirayakan—seenggaknya oleh diri saya sendiri.

Apa saja pencapaian tersebut?

Continue reading “Rekap 2022: Tahun Paling “Tenang””

Menuruti Intuisi

Sumber: Vecteezy

Seberapa sering kamu mendapatkan intuisi secara tiba-tiba, tetapi nggak kamu gubris?

Sebelum ngobrolin tentang “intuisi”, mari kita lihat sama-sama definisi kata tersebut dari KBBI Daring:

intuisi/in·tu·i·si/ n daya atau kemampuan mengetahui atau mema-hami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati

Secara singkat, intuisi adalah bisikan hati dalam berbagai situasi. Jika kamu ragu akan sesuatu/seseorang dan intuisimu mendukung pikiran tersebut, maka TINGGALIN. Hal ini berlaku juga dengan kebalikannya; jika kamu excited akan sesuatu/seseorang dan intuisimu nggak bikin kamu ragu, maka TERUSIN!

Tentu dua hal di atas bukanlah solusi mutlak jika kamu meragukan sesuatu/seseorang ataupun kebalikannya. Tapi, jujur deh, kamu kalau ragu sama sesuatu/seseorang dan tetep maksain buat jalanin hal itu, pasti lebih sering apesnya kan? Iya, saya juga sering gitu kok.

Continue reading Menuruti Intuisi

Ikutan Kelas Online UX Writing Buat Pertama Kalinya

Sumber: Vecteezy

Baru minggu ke-2, tapi udah kena writer’s block…

Seperti yang mungkin sudah kamu (baca: 17 orang yang membaca blogpost saya tentang imposter syndrome) sadari, minggu kemarin saya mulai menulis blog lagi.

I knooow saya udah sering “ngemeng” bakal rajin nge-blog lagi or something tapi biasanya baru satu blogpost langsung ngilang selama setahun.

Tapi, kali ini berbeda. Kenapa? Karena saya baru saja mempublikasikan tulisan ini (insert ketawa Trixie Mattel here).

Dan, karena saya nggak tahu mau nulis apaan, jadinya saya mau biarkan tulisan ini ngalir semengalir-alirnya (is this even a word? ). Okay, mari kita mulai!

Continue reading “Ikutan Kelas Online UX Writing Buat Pertama Kalinya”

Pengakuan Seorang Penderita Imposter Syndrome

Source: Vecteezy

Akhir-akhir ini, saya lagi sering bercanda dengan punchline kata “takut” yang kemudian disambungkan dengan lirik lagu debut Idgitaf berjudul sama.

Kira-kira, seperti ini situasinya:

Saya: “Emang kamu gak takut ya?”

Teman: “Hah? Takut apaan?”

Saya: “Takut tambah dewasa~ takut aku kecewa~” (lengkap dengan koreo sok seksi tapi ogah-ogahan)

Berbicara tentang takut, saya rasa belum ada satupun teman-teman ataupun keluarga saya yang tahu kalau salah satu ketakutan terbesar saya bersumber dari diri saya sendiri; salah satunya adalah “suara-suara” yang terus menerus berteriak kalau saya adalah seorang imposter.

Continue reading “Pengakuan Seorang Penderita Imposter Syndrome”

Sepuluh Ribu Langkah ke Depan

Saya pemalas sedari kecil. Malas belajar, malas beresin kamar, malas bantu bersihin rumah, dan yang paling ultimate adalah: malas gerak. Namun, pada suatu pagi, setelah solat Subuh, saya entah kesambet apaan dan bergumam pada diri sendiri layaknya tokoh-tokoh di sinetron, “Okay, ini hari pertama kamu buat ikutan 10.000 Steps A Day Challenge.”

Continue reading “Sepuluh Ribu Langkah ke Depan”

Berkenalan Sebelum Berkelana

Oh, hai! Genap dua tahun sudah saya nggak nulis apapun di blog ini maupun di Medium—padahal saya melabeli diri saya sendiri sebagai “blogger” di Instagram.

Oleh karena itu, saya rasa ini waktu yang tepat untuk berkenalan lagi sebelum saya dan kamu memulai berkelana dengan cerita sehari-hari saya yang banyak nirfaedahnya di blog ini. Ruang tamu dari “rumah” ini sudah saya bersihkan kok. Silakan duduk! Continue reading “Berkenalan Sebelum Berkelana”

Sepuluh Tahun Lalu, Saya Mencontek Saat UN

bad_genius_4guide_web__large
Salah satu adegan dalam film Bad Genius (2017)

 

“Cewek super pintar yang membagikan kunci jawaban saat ujian kepada teman-teman sekelasnya? Wah, wajib nonton ini!”

 

Itu komentar pertama saya ketika pertama kali membaca sinopsis film Bad Genius sekitar setahun yang lalu dari Internet. Bad Genius (2017) adalah film Thailand besutan Nattawut Poonpiriya yang menceritakan tentang seorang siswi jenius bernama Lynn (Chutimon Cheungcharoensukying) yang menjadi pemberi suplai jawaban-jawaban ujian di sekolahnya. Awalnya, Continue reading “Sepuluh Tahun Lalu, Saya Mencontek Saat UN”