Ikutan Kelas Online UX Writing Buat Pertama Kalinya

Sumber: Vecteezy

Baru minggu ke-2, tapi udah kena writer’s block…

Seperti yang mungkin sudah kamu (baca: 17 orang yang membaca blogpost saya tentang imposter syndrome) sadari, minggu kemarin saya mulai menulis blog lagi.

I knooow saya udah sering “ngemeng” bakal rajin nge-blog lagi or something tapi biasanya baru satu blogpost langsung ngilang selama setahun.

Tapi, kali ini berbeda. Kenapa? Karena saya baru saja mempublikasikan tulisan ini (insert ketawa Trixie Mattel here).

Dan, karena saya nggak tahu mau nulis apaan, jadinya saya mau biarkan tulisan ini ngalir semengalir-alirnya (is this even a word? ). Okay, mari kita mulai!

Continue reading “Ikutan Kelas Online UX Writing Buat Pertama Kalinya”

Pengakuan Seorang Penderita Imposter Syndrome

Source: Vecteezy

Akhir-akhir ini, saya lagi sering bercanda dengan punchline kata “takut” yang kemudian disambungkan dengan lirik lagu debut Idgitaf berjudul sama.

Kira-kira, seperti ini situasinya:

Saya: “Emang kamu gak takut ya?”

Teman: “Hah? Takut apaan?”

Saya: “Takut tambah dewasa~ takut aku kecewa~” (lengkap dengan koreo sok seksi tapi ogah-ogahan)

Berbicara tentang takut, saya rasa belum ada satupun teman-teman ataupun keluarga saya yang tahu kalau salah satu ketakutan terbesar saya bersumber dari diri saya sendiri; salah satunya adalah “suara-suara” yang terus menerus berteriak kalau saya adalah seorang imposter.

Continue reading “Pengakuan Seorang Penderita Imposter Syndrome”

Sepuluh Ribu Langkah ke Depan

Saya pemalas sedari kecil. Malas belajar, malas beresin kamar, malas bantu bersihin rumah, dan yang paling ultimate adalah: malas gerak. Namun, pada suatu pagi, setelah solat Subuh, saya entah kesambet apaan dan bergumam pada diri sendiri layaknya tokoh-tokoh di sinetron, “Okay, ini hari pertama kamu buat ikutan 10.000 Steps A Day Challenge.”

Continue reading “Sepuluh Ribu Langkah ke Depan”

Berkenalan Sebelum Berkelana

Oh, hai! Genap dua tahun sudah saya nggak nulis apapun di blog ini maupun di Medium—padahal saya melabeli diri saya sendiri sebagai “blogger” di Instagram.

Oleh karena itu, saya rasa ini waktu yang tepat untuk berkenalan lagi sebelum saya dan kamu memulai berkelana dengan cerita sehari-hari saya yang banyak nirfaedahnya di blog ini. Ruang tamu dari “rumah” ini sudah saya bersihkan kok. Silakan duduk! Continue reading “Berkenalan Sebelum Berkelana”

Sepuluh Tahun Lalu, Saya Mencontek Saat UN

bad_genius_4guide_web__large
Salah satu adegan dalam film Bad Genius (2017)

 

“Cewek super pintar yang membagikan kunci jawaban saat ujian kepada teman-teman sekelasnya? Wah, wajib nonton ini!”

 

Itu komentar pertama saya ketika pertama kali membaca sinopsis film Bad Genius sekitar setahun yang lalu dari Internet. Bad Genius (2017) adalah film Thailand besutan Nattawut Poonpiriya yang menceritakan tentang seorang siswi jenius bernama Lynn (Chutimon Cheungcharoensukying) yang menjadi pemberi suplai jawaban-jawaban ujian di sekolahnya. Awalnya, Continue reading “Sepuluh Tahun Lalu, Saya Mencontek Saat UN”

Dua Putaran di Trek Lari

UA-IMG_0167

 

Bangun tidur. Duduk di atas kasur. Lirik jam dinding, jam setengah lima subuh. Sudah waktunya solat subuh. Iya, itu adzan subuh sedang berkumandang. Mau beranjak, malas. Ambil ponsel yang ada di sebelah bantal. Ada satu SMS dari Nica—Veronica nama lengkapnya. Temen deket di kampus. Isinya “Dion ganteng… gue nyontek tugas essay elo ya. Gue ke kampus jam sembilanan kok.”

 

Saya bales, “Eh, sori ya. Kagak gratis.”

 

Tak disangka, Nica (yang entah lagi begadang atau sudah bangun juga) langsung bales. “Dasar ublag! Iye tar gue traktir Pizza Hut deh!”

 

Saya berdiri, menatap cermin lumayan besar yang ada di samping jendela kamar. Ih, jelek amat sih. Itu komentar saya melihat pantulan bayangan saya sendiri. Ya… walaupun Nica sering bilang saya itu sebenernya ganteng—apalagi kalau ada maunya. Continue reading “Dua Putaran di Trek Lari”

Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017

Hello, survivors.

 

Selamat datang di postingan paling subjektif di blog saya setiap tahunnya. Biasanya, saya akan menulis tentang buku-buku apa saja yang berhasil saya lahap dan target banyaknya buku yang akan saya baca di tahun 2018. TAPIIIII, karena resolusi baca bukunya hampir GAGAL TOTAL, jadi saya akan bahas musik, film, series, dan pengalaman-pengalaman yang berkesan di tahun 2017 kemarin. So, brace yourself.

 

Buku-buku yang Saya Baca di Tahun 2017

Dari target tujuh belas buku, tahun 2017 kemarin saya hanya membaca… empat. Payah banget memang LOL. Uniknya, keempat buku ini bukan buku yang saya beli. Apa aja sih bukunya?  Continue reading “Sayonara: Hal-hal yang Saya Ingat Dari Tahun 2017”

Mata Rantai yang Harus Diputus

Posesif - 1

 

Naif.

Kata itu yang biasanya muncul setiap saya membaca atau mendengar kata ‘posesif’. Bukan, bukan ‘naif’ adjektiva, melainkan grup band yang melejit dengan lagu berjudul ‘Posesif’ di awal tahun 2000an. Kalau kamu dulu anak nongkrong MTV, video musik yang dibintangi oleh Alm. Avi—salah satu anggota Silver Boys—ini sangat ikonik. Lagunya enak, walaupun dulu saya sama sekali nggak paham dengan kata ‘posesif’ itu sendiri. Yang saya hapal dari lagu itu ya bagian, “Mengapa aku begini, jangan kau mempertanyakan” dan “Bilaku mati, kaujuga mati. Walau tak ada cinta sehidup semati”.

 

[  ]

 

Tahun 2012, mantan saya (yang pada saat itu pacar saya) dengan tegas meminta saya untuk ngga ketemuan dengan teman-teman dekat saya. Saat itu hubungan kami baru jalan dua bulan dan menjalani LDR, dan itu adalah momen pertama ia melarang saya. Continue reading “Mata Rantai yang Harus Diputus”

Monster Under My Bed

Pukul 23.45          

 

“Lima belas menit lagi… dan semuanya akan kuakhiri. Semua mimpi dan kenyataan buruk ini,” desis lelaki berbadan tegap yang terlihat layu dan acak-acakan itu. Ia tersenyum kecut menatap refleksinya sendiri di sebilah pisau satu-satunya yang ia miliki di dapur rumah yang ia tinggali sedari kecil tersebut.

 

***

 

Beberapa hari yang lalu…

Aku terbangun dengan keringat dingin sebelum alarm dari ponselku berbunyi pagi ini—sebuah prestasi. Apartemen mungil yang baru kutinggali selama dua minggu ini padahal nyaman betul, tetapi tiap gelapnya malam datang tetap saja membuat aku sedikit kalut. Ini semua karena dongeng yang Mama pernah ceritakan kepadaku saat aku berumur tiga tahun—yang sebenarnya keabsahan faktanya tidak masuk akal, tetapi entah mengapa dongeng itu begitu lekat menempel di sudut-sudut otak.  Continue reading “Monster Under My Bed”